Jumat, 03 November 2023

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG DIHARAMKAN SAAT IHRAM


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في أحكام محرمات الإحرام وهي ما يحرم بسبب الإحرام (ويحرم على المحرم عشرة أشياء) أحدها (لبس المخيط) كقميص وقباء وخف، ولبس المنسوج كدرع أو المعقود كلبد في جميع بدنه (و) الثاني (تغطية الرأس) أو بعضها (من الرجل) بما يعد ساترا كعمامة وطين، فإن لم يعد ساترا لم يضر كوضع يده على بعض رأسه وكانغماسه في ماء واستظلاله بمحمل، وإن مس رأسه (و) تغطية (الوجه) أو بعضه (من المرأة) بما يعد ساترا ويجب عليها أن تستر من وجهها ما لا يتأتى ستر جميع الرأس إلا به، ولها أن تسبل على وجهها ثوبا متجافيا عنه بخشبة ونحوها، والخنثى كما قال القاضي أبو الطيب يؤمر بالستر، ولبس المخيط، وأما الفدية فالذي عليه الجمهور، أنه إن ستر وجهه أو رأسه، لم تجب الفدية للشك وإن سترهما وجبت (و) الثالث (ترجيل) أي تسريح (الشعر) كذا عده المصنف من المحرمات لكن الذي في شرح المهذب أنه مكروه، وكذا حك الشعر بالظفر (و) الرابع (حلقه) أي الشعر أو نتفه أو إحراقه والمراد إزالته بأي طريق كان ولو ناسيا (و) الخامس (تقليم الأظفار) أي إزالتها من يد أو رجل بتقليم أو غيره إلا إذا انكسر بعض ظفر المحرم وتأذى به فله إزالة المنكسر فقط (و) السادس (الطيب) أي استعماله قصداً بما يقصد منه رائحة الطيب نحو مسك وكافور في ثوبه بأن يلصقه به على الوجه المعتاد في استعماله أو في بدنه ظاهره أو باطنه، كأكله الطيب، ولا فرق في مستعمل الطيب بين كونه رجلا أو امرأة أخشم كان أو لا وخرج بقصد أما لو ألقت عليه الريح طيبا، أو أكره على استعماله أو جهل تحريمه، أو نسي أنه محرم، فإنه لا فدية عليه، فإن علم تحريمه وجهل الفدية وجبت (و) السابع (قتل الصيد) البري المأكول أو ما في أصله مأكول من وحش وطير ويحرم أيضا صيده، ووضع اليد عليه والتعرض لجزئه وشعره وريشه (و) الثامن (عقد النكاح) فيحرم على المحرم أن يعقد النكاح لنفسه أو غيره بوكالة أو ولاية (و) التاسع (الوطء) من عاقل عالم بالتحريم سواء جامع في حج أو عمرة في قبل أو دبر من ذكر أو أنثى زوجة أو مملوكة أو أجنبية (و) العاشر (المباشرة) فيما دون الفرج كلمس وقبلة (بشهوة) أما بغير شهوة فلا يحرم (وفي جميع ذلك) أي المحرمات السابقة (الفدية) وسيأتي بيانها

Pasal yang menjelaskan tentang hal-hal yang diharamkan saat ihram (muharramatul ihram). Jumlahnya ada sepuluh perkara :

1. Yang pertama adalah memakai pakaian yang berjahit seperti gamis, jubah dan muza. Kemudian memakai pakaian yang ditenun seperti baju jira, atau pakaian yang digelung seperti pakaian yang digelungkan ke seluruh badan.

2. Yang ke dua adalah menutup kepala atau sebagiannya bagi laki-laki dengan menggunakan sesuatu yang dianggap sebagai penutup semisal sorban dan tanah liat. Namun jika yang digunakan itu tidak dianggap sebagai penutup, maka tidak apa-apa semisal meletakkan tangan diatas sebagian kepalanya. Kemudian semisal berendam didalam air dan berteduh dibawah tandu yang berada diatas onta meskipun sampai menyentuh kepalanya.

Lalu menutup wajah atau sebagiannya bagi perempuan dengan menggunakan sesuatu yang dianggap sebagai penutup. Namun bagi seorang perempuan, itu wajib menutup bagian wajah yang tidak mungkin baginya untuk menutup kepala kecuali dengan menutup bagian wajah tersebut. Dan bagi seorang perempuan itu diperbolehkan untuk memakai cadar yang direnggangkan (tidak sampai menyentuh) dari wajah dengan menggunakan kayu dan sejenisnya.

Adapun seorang khuntsa (orang yang memiliki dua kelamin), sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Qodhi Abu Thoyyib itu diperintahkan agar menutup kepalanya. Dan diperbolehkan baginya untuk mengenakan pakaian berjahit. Adapun terkait persoalan fidyahnya, maka menurut pendapat mayoritas ulama bahwa sesungguhnya seorang khuntsa jika menutup wajah atau kepalanya, maka tidak wajib membayar fidyah karena masih ada keraguan (tentang statusnya apakah laki-laki atau perempuan). Namun jika dia menutup keduanya, maka wajib membayar fidyah.

3. Yang ke tiga adalah menyisir rambut. Demikianlah mushonnif (pengarang kitab) memasukkan hal tersebut ke dalam persoalan hal-hal yang diharamkan (saat ihram). Akan tetapi keterangan didalam kitab Majmu' Syarah Muhadzdzab menyatakan bahwa sesungguhnya menyisir rambut itu hukumnya makruh, begitu juga dengan menggaruk rambut dengan kuku.

4. Yang ke empat adalah mencukur rambut, mencabut atau membakarnya. Dan yang dimaksud adalah menghilangkan rambut dengan cara apapun meskipun dia dalam keadaan lupa.

5. Yang ke lima adalah memotong kuku, maksudnya adalah menghilangkannya. Entah itu kuku tangan atau kaki dengan cara dipotong atau dengan cara yang lainnya. Kecuali ketika sebagian kuku orang yang sedang ihram itu pecah dan dia merasa kesakitan dengan hal tersebut, maka baginya diperbolehkan untuk menghilangkan bagian kuku yang pecah saja.

6. Yang ke enam adalah wangi-wangian, maksudnya adalah memakai wewangian secara sengaja dengan sesuatu yang memang ditujukan untuk menghasilkan semerbak wangi semisal misik dan kapur barus.

(Menggunakan wewangian) pada pakaian dengan cara menemukan wewangian tersebut pada pakaian. Dan (menggunakannya) pada badan bagian luar atau dalam seperti memakannya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pada orang yang menggunakan wewangian tersebut entah itu laki-laki atau perempuan, dan entah itu orang akhsyam (orang yang indera penciumannya tidak berfungsi) atau tidak.

Dengan pernyataan mushonnif pengarang kitab : “Secara sengaja”, maka dikecualikan jika ada hembusan angin yang membawa wewangian lalu mengenai dirinya, atau dia dipaksa untuk menggunakannya, tidak tau akan keharamannya, atau dia lupa bahwa dirinya sedang melaksanakan ihram. Maka yang demikian itu tidak sampai ada kewajiban untuknya membayar fidyah.

7. Yang ke tujuh adalah membunuh binatang buruan yang hidup didarat dan halal dimakan, atau induknya ada yang halal dimakan seperti binatang liar dan burung. Dan juga diharamkan untuk memburunya serta menguasainya. Lalu diharamkan juga untuk mengganggu bagian badan, bulu halus dan bulu kasarnya.

8. Yang ke delapan adalah akad nikah. Maka bagi orang yang sedang ihram itu diharamkan melakukan akad nikah untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain dengan cara taukil atau menjadi wali.

9. Yang ke sembilan adalah wathi (jima) yang dilakukan oleh orang yang berakal serta mengetahui akan keharamannya. Entah melakukannya saat ihram haji atau umrah, dari jalan depan atau belakang, dengan laki-laki atau perempuan, istri, budak perempuan yang dimiliki atau dengan perempuan lain.

10. Yang ke sepuluh adalah bersentuhan kulit selain dibagian farji semisal menyentuh atau mencium dengan disertai syahwat. Adapun bersentuhan kulit yang tidak disertai syahwat maka hukumnya tidak haram. Dan didalam semua itu, maksudnya hal-hal yang diharamkan yang telah disebutkan, itu wajib membayar fidyah (jika dilanggar) yang penjelasannya akan dihadirkan pada bab selanjutnya.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 153-156 Maktabah Syamilah)

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...