Rabu, 20 Desember 2023

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفسادا وأما الجماع، فيفسد الحج قبل التحلل الأول بعد الوقوف أو قبله، أما بعد التحلل الأول فلا يفسد (إلا عقد النكاح) فإنه لا ينعقد (ولا يفسده إلا الوطء في الفرج) بخلاف المباشرة في غير الفرج فإنها لا تفسده (ولا يخرج) المحرم (منه بالفساد) بل يجب عليه المضي في فاسده وسقط في بعض النسخ قوله في فاسده، أي النسك من حج أو عمرة بأن يأتي ببقية أعماله (ومن) أي والحاج الذي (فاته الوقوف بعرفة) بعذر أو غيره (تحلل) حتما (بعمل عمرة) فيأتي بطواف وسعي إن لم يكن سعى بعد طواف القدوم، وعليه أي الذي فاته الوقوف (القضاء) فورا فرضا كان نسكه أو نفلاً، وإنما يجب القضاء في فوات لم ينشأ عنه حصر، فإن أحصر شخص، وكان له طريق غير التي وقع الحصر فيها لزمه سلوكها، وإن علم الفوات، فإن مات لم يقض عنه في الأصح (و) عليه مع القضاء (الهدي) ويوجد في بعض النسخ زيادة وهي ومن ترك ركنا) مما يتوقف عليه الحج (لم يحل من إحرامه حتى يأتي به) ولا يجبر ذلك الركن بدم (ومن ترك واجبا) من واجبات الحج (لزمه الدم) وسيأتي بيان الدم (ومن ترك سنة) من سنن الحج (لم يلزمه بتركها شيء) وظهر من كلام المتن الفرق بين الركن والواجب والسنة

Jima seperti yang telah dijelaskan sebelumnya itu bisa merusak ibadah umroh yang disendirikan. Adapun umroh yang berada didalam kandungan haji Qiran, maka hukumnya mengikuti haji entah sah ataupun rusaknya. Sedangkan jima, itu bisa merusak haji saat dilakukan sebelum tahallul awal entah setelah wukuf ataupun sebelumnya. Sementara jima yang dilakukan setelah tahallul awal, maka tidak sampai merusak status haji.

Namun dikecualikan untuk akad nikah, karena sesungguhnya akad nikah yang dilakukan tidaklah sah. Dan haji tidak bisa rusak kecuali dengan wathi (jima) pada bagian farji. Berbeda halnya dengan bersentuhan pada bagian selain farji, maka hal tersebut tidak sampai merusak status haji.

Kemudian, orang yang sedang ihram tidak diperbolehkan untuk keluar dari ihramnya disebabkan ihramnya telah rusak, bahkan wajib baginya untuk meneruskan amaliyah ihramnya yang telah berstatus rusak tersebut. Didalam sebagian redaksi matan kitab tidak dicantumkan pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Didalam ihramnya yang rusak, maksudnya ibadah haji atau umroh dengan cara melaksanakan amaliyah-amaliyah yang masih tersisa.

Lalu barang siapa yang melaksanakan ihram haji dan ketinggalan wukuf di Arafah sebab uzur atau tanpa uzur, maka wajib baginya untuk tahallul dengan melaksanakan amaliyah umroh. Oleh karena itu dia melakukan thowaf dan sa'i jika memang belum sa'i setelah thowaf Qudum. Dan bagi dia, maksudnya orang yang ketinggalan wukuf di Arafah itu wajib untuk segera mengqodhonya entah hajinya fardhu atau sunnah.

Dan qodho hanya wajib dilakukan didalam permasalahan ketinggalan wukuf yang tidak disebabkan oleh hasr (tercegah). Sedangkan jika seseorang tercegah untuk melakukan perjalanan namun dia masih bisa melewati jalan selain jalan yang terjadi pencegahan, maka wajib baginya untuk melewati jalan tersebut meskipun tau bahwa dia tetap akan ketinggalan wukuf. Dan jika misalnya dia meninggal dunia, maka tidak wajib diqodhoi oleh orang lain menurut pendapat yang shohih. Bagi dia (yakni orang yang ketinggalan wukuf), disamping mengqodho juga wajib membayar hadyah (menyembelih kambing).

Didalam sebagian redaksi matan kitab telah ditemukan keterangan tambahan. Yakni barang siapa yang meninggalkan rukun-rukun yang menjadi penentu sahnya haji, maka dia tidak bisa berstatus halal atau lepas dari ihramnya sehingga dia melaksanakan rukun tersebut. Dan rukun tersebut tidak bisa digantikan dengan dam.

Sedangkan barang siapa yang meninggalkan kewajiban dari kewajiban-kewajiban haji, maka wajib membayar dam. Dan untuk masalah damnya akan dijelaskan pada bab selanjutnya. Kemudian barang siapa yang meninggalkan kesunnahan dari kesunnahan-kesunnahan haji, maka dia tidak berkewajiban apa-apa sebab meninggalkan kesunnahan tersebut. Nah dari ungkapan matan kitab diatas, telah jelas perbedaan antara rukun, wajib dan sunnah.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 156-157 Maktabah Syamilah)

Jumat, 03 November 2023

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG DIHARAMKAN SAAT IHRAM


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في أحكام محرمات الإحرام وهي ما يحرم بسبب الإحرام (ويحرم على المحرم عشرة أشياء) أحدها (لبس المخيط) كقميص وقباء وخف، ولبس المنسوج كدرع أو المعقود كلبد في جميع بدنه (و) الثاني (تغطية الرأس) أو بعضها (من الرجل) بما يعد ساترا كعمامة وطين، فإن لم يعد ساترا لم يضر كوضع يده على بعض رأسه وكانغماسه في ماء واستظلاله بمحمل، وإن مس رأسه (و) تغطية (الوجه) أو بعضه (من المرأة) بما يعد ساترا ويجب عليها أن تستر من وجهها ما لا يتأتى ستر جميع الرأس إلا به، ولها أن تسبل على وجهها ثوبا متجافيا عنه بخشبة ونحوها، والخنثى كما قال القاضي أبو الطيب يؤمر بالستر، ولبس المخيط، وأما الفدية فالذي عليه الجمهور، أنه إن ستر وجهه أو رأسه، لم تجب الفدية للشك وإن سترهما وجبت (و) الثالث (ترجيل) أي تسريح (الشعر) كذا عده المصنف من المحرمات لكن الذي في شرح المهذب أنه مكروه، وكذا حك الشعر بالظفر (و) الرابع (حلقه) أي الشعر أو نتفه أو إحراقه والمراد إزالته بأي طريق كان ولو ناسيا (و) الخامس (تقليم الأظفار) أي إزالتها من يد أو رجل بتقليم أو غيره إلا إذا انكسر بعض ظفر المحرم وتأذى به فله إزالة المنكسر فقط (و) السادس (الطيب) أي استعماله قصداً بما يقصد منه رائحة الطيب نحو مسك وكافور في ثوبه بأن يلصقه به على الوجه المعتاد في استعماله أو في بدنه ظاهره أو باطنه، كأكله الطيب، ولا فرق في مستعمل الطيب بين كونه رجلا أو امرأة أخشم كان أو لا وخرج بقصد أما لو ألقت عليه الريح طيبا، أو أكره على استعماله أو جهل تحريمه، أو نسي أنه محرم، فإنه لا فدية عليه، فإن علم تحريمه وجهل الفدية وجبت (و) السابع (قتل الصيد) البري المأكول أو ما في أصله مأكول من وحش وطير ويحرم أيضا صيده، ووضع اليد عليه والتعرض لجزئه وشعره وريشه (و) الثامن (عقد النكاح) فيحرم على المحرم أن يعقد النكاح لنفسه أو غيره بوكالة أو ولاية (و) التاسع (الوطء) من عاقل عالم بالتحريم سواء جامع في حج أو عمرة في قبل أو دبر من ذكر أو أنثى زوجة أو مملوكة أو أجنبية (و) العاشر (المباشرة) فيما دون الفرج كلمس وقبلة (بشهوة) أما بغير شهوة فلا يحرم (وفي جميع ذلك) أي المحرمات السابقة (الفدية) وسيأتي بيانها

Pasal yang menjelaskan tentang hal-hal yang diharamkan saat ihram (muharramatul ihram). Jumlahnya ada sepuluh perkara :

1. Yang pertama adalah memakai pakaian yang berjahit seperti gamis, jubah dan muza. Kemudian memakai pakaian yang ditenun seperti baju jira, atau pakaian yang digelung seperti pakaian yang digelungkan ke seluruh badan.

2. Yang ke dua adalah menutup kepala atau sebagiannya bagi laki-laki dengan menggunakan sesuatu yang dianggap sebagai penutup semisal sorban dan tanah liat. Namun jika yang digunakan itu tidak dianggap sebagai penutup, maka tidak apa-apa semisal meletakkan tangan diatas sebagian kepalanya. Kemudian semisal berendam didalam air dan berteduh dibawah tandu yang berada diatas onta meskipun sampai menyentuh kepalanya.

Lalu menutup wajah atau sebagiannya bagi perempuan dengan menggunakan sesuatu yang dianggap sebagai penutup. Namun bagi seorang perempuan, itu wajib menutup bagian wajah yang tidak mungkin baginya untuk menutup kepala kecuali dengan menutup bagian wajah tersebut. Dan bagi seorang perempuan itu diperbolehkan untuk memakai cadar yang direnggangkan (tidak sampai menyentuh) dari wajah dengan menggunakan kayu dan sejenisnya.

Adapun seorang khuntsa (orang yang memiliki dua kelamin), sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Qodhi Abu Thoyyib itu diperintahkan agar menutup kepalanya. Dan diperbolehkan baginya untuk mengenakan pakaian berjahit. Adapun terkait persoalan fidyahnya, maka menurut pendapat mayoritas ulama bahwa sesungguhnya seorang khuntsa jika menutup wajah atau kepalanya, maka tidak wajib membayar fidyah karena masih ada keraguan (tentang statusnya apakah laki-laki atau perempuan). Namun jika dia menutup keduanya, maka wajib membayar fidyah.

3. Yang ke tiga adalah menyisir rambut. Demikianlah mushonnif (pengarang kitab) memasukkan hal tersebut ke dalam persoalan hal-hal yang diharamkan (saat ihram). Akan tetapi keterangan didalam kitab Majmu' Syarah Muhadzdzab menyatakan bahwa sesungguhnya menyisir rambut itu hukumnya makruh, begitu juga dengan menggaruk rambut dengan kuku.

4. Yang ke empat adalah mencukur rambut, mencabut atau membakarnya. Dan yang dimaksud adalah menghilangkan rambut dengan cara apapun meskipun dia dalam keadaan lupa.

5. Yang ke lima adalah memotong kuku, maksudnya adalah menghilangkannya. Entah itu kuku tangan atau kaki dengan cara dipotong atau dengan cara yang lainnya. Kecuali ketika sebagian kuku orang yang sedang ihram itu pecah dan dia merasa kesakitan dengan hal tersebut, maka baginya diperbolehkan untuk menghilangkan bagian kuku yang pecah saja.

6. Yang ke enam adalah wangi-wangian, maksudnya adalah memakai wewangian secara sengaja dengan sesuatu yang memang ditujukan untuk menghasilkan semerbak wangi semisal misik dan kapur barus.

(Menggunakan wewangian) pada pakaian dengan cara menemukan wewangian tersebut pada pakaian. Dan (menggunakannya) pada badan bagian luar atau dalam seperti memakannya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pada orang yang menggunakan wewangian tersebut entah itu laki-laki atau perempuan, dan entah itu orang akhsyam (orang yang indera penciumannya tidak berfungsi) atau tidak.

Dengan pernyataan mushonnif pengarang kitab : “Secara sengaja”, maka dikecualikan jika ada hembusan angin yang membawa wewangian lalu mengenai dirinya, atau dia dipaksa untuk menggunakannya, tidak tau akan keharamannya, atau dia lupa bahwa dirinya sedang melaksanakan ihram. Maka yang demikian itu tidak sampai ada kewajiban untuknya membayar fidyah.

7. Yang ke tujuh adalah membunuh binatang buruan yang hidup didarat dan halal dimakan, atau induknya ada yang halal dimakan seperti binatang liar dan burung. Dan juga diharamkan untuk memburunya serta menguasainya. Lalu diharamkan juga untuk mengganggu bagian badan, bulu halus dan bulu kasarnya.

8. Yang ke delapan adalah akad nikah. Maka bagi orang yang sedang ihram itu diharamkan melakukan akad nikah untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain dengan cara taukil atau menjadi wali.

9. Yang ke sembilan adalah wathi (jima) yang dilakukan oleh orang yang berakal serta mengetahui akan keharamannya. Entah melakukannya saat ihram haji atau umrah, dari jalan depan atau belakang, dengan laki-laki atau perempuan, istri, budak perempuan yang dimiliki atau dengan perempuan lain.

10. Yang ke sepuluh adalah bersentuhan kulit selain dibagian farji semisal menyentuh atau mencium dengan disertai syahwat. Adapun bersentuhan kulit yang tidak disertai syahwat maka hukumnya tidak haram. Dan didalam semua itu, maksudnya hal-hal yang diharamkan yang telah disebutkan, itu wajib membayar fidyah (jika dilanggar) yang penjelasannya akan dihadirkan pada bab selanjutnya.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 153-156 Maktabah Syamilah)

Kamis, 28 September 2023

FATHUL QARIB - KESUNNAHAN HAJI & PAKAIAN SAAT IHRAM


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(وسنن الحج سبع) أحدها (الإفراد وهو تقديم الحج على العمرة) بأن يحرم أولاً بالحج من ميقاته يفرغ منه ثم يخرج من مكة إلى أدنى الحل، فيحرم بالعمرة ويأتي بعملها ولو عكس لم يكن مفردا (و) الثاني (التلبية) ويسن الإكثار منها في دوام الإحرام ويرفع الرجل صوته بها. ولفظها لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك، وإذا فرغ من التلبية صلى على النبي، وسأل الله تعالى الجنة ورضوانه، واستعاذ به من النار. (و) الثالث (طواف القدوم) ويختص بحاج دخل مكة قبل الوقوف بعرفة، والمعتمر إذا طاف للعمرة أجزأه عن طواف القدوم (و) الرابع (المبيت بمزدلفة) وعده من السنن هو ما يقتضيه كلام الرافعي، لكن الذي في زيادة الروضة، وشرح المهذب أن المبيت بمزدلفة واجب، (و) الخامس (ركعتا الطواف) بعد الفراغ منه ويصليهما خلف مقام إبراهيم عليه الصلاة والسلام ويسرّ بالقراءة فيهما نهارا، ويجهر بها ليلا وإذا لم يصلهما خلف المقام، ففي الحجر وإلا ففي المسجد، وإلا ففي أي موضع شاء من الحرم وغيره (و) السادس (المبيت بمنى) هذا ما صححه الرافعي لكن صحح النووي في زيادة الروضة الوجوب (و) السابع (طواف الوداع) عند إرادة الخروج من مكة لسفر حاجا كان أو لا طويلاً كان السفر أو قصيرا. وما ذكره المصنف من سنيته قول مرجوح، لكن الأظهر وجوبه (ويتجرد الرجل) حتما كما في شرح المهذب (عند الإحرام عن المخيط) من الثياب وعن منسوجها ومعقودها، وعن غير الثياب من خف ونعل (ويلبس إزارا ورداء أبيضين) جديدين وإلا فنظيفين

Kesunahan-kesunahan haji itu ada tujuh :

1. Yang pertama adalah ifrod, yaitu mendahulukan pelaksanaan haji sebelum pelaksanaan umroh. Yakni dengan cara pertama ihram haji dari miqatnya, dan setelah selesai pelaksanaan haji kemudian keluar dari mekkah menuju tanah terdekat lalu melakukan ihram umroh dan melaksanakan amal-amalnya. Jika hal tersebut dibalik, maka dia bukan orang yang sedang melaksanakan haji ifrod.

2. Yang kedua adalah membaca talbiyah, yakni disunnahkan untuk memperbanyak membaca talbiyah selama menjalankan ihram. Bagi seorang laki-laki, maka disunnahkan juga untuk mengeraskan suara bacaan talbiyahnya. Adapun bacaan talbiyah, adalah sebagai berikut : Labaikallaahumma labaik labaika laa syariika laa kalabaik, innal hamda wanni'mata lakawal mulk laa syariikalak. Kemudian jika sudah selesai membaca tabiyah, maka disunnahkan untuk membaca sholawat kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan meminta kepada Allah agar diberi surga dan keridhoannya serta berlindung kepada Allah agar dijauhkan dari api neraka.

3. Yang ke tiga adalah thowaf qudum. Thowaf qudum ini dikhususkan bagi orang yang berhaji yang masuk ke mekkah sebelum melaksanakan wukuf di arafah. Adapun bagi orang yang melaksanakan umroh disaat dia melaksanakan thowaf umroh, maka sudah mencukupi baginya dari thowaf qudum.

4. Yang ke empat adalah mabit (atau bermalam) di mudzdalifah. Kesunnahan terkait bermalam di mudzdalifah ini merupakan pendapat yang ditetapkan oleh imam Ar-Rafi'i. Akan tetapi, keterangan yang terdapat didalam kitab Ar-Raudhah dan Majmu' Syarah Muhadzdzab dinyatakan bahwa sesungguhnya bermalam di muzdalifah itu hukumnya wajib.

5. Yang ke lima adalah sholat sunnah thowaf dua rakaat setelah selesai melaksanakan thowaf. Dan hendaknya sholat sunnah tersebut dilaksanakan dibelakang maqom ibrahim. Kemudian, disunnahkan untuk memelankan suara bacaan saat melaksanakan sholat sunnah thowaf pada siang hari dan mengeraskan suara bacaan pada malam hari. Dan ketika tidak melaksanakan sholat dibelakang maqam ibrahim, maka hendaknya sholat di hijr ismail. Jika tidak, maka didalam masjid. Dan jika tidak, maka sholat ditempat mana saja yang dia mau entah itu ditanah haram atau yang lainnya.

6. Yang ke enam adalah mabit (atau bermalam) di mina, dan ini merupakan pendapat yang dishohihkan oleh imam Ar-Rafi'i. Akan tetapi didalam kitab Ar-Raudhah imam Nawawi menshohikan hukum yang wajib.

7. Yang ke tujuh adalah thowaf wada' ketika hendak keluar dari mekkah karena untuk bepergian. Entah itu orang yang berhaji atau bukan, dan entah itu saat bepergian jauh atau dekat. Dan apa yang telah disampaikan oleh mushaonnif (pengarang kitab) yaitu berupa hukum kesunnahan thowaf wada' adalah pendapat yang lemah, akan tetapi menurut pendapat yang rojih itu hukumnya adalah wajib.

PAKAIAN ORANG YANG SEDANG IHRAM

Saat melaksanakan ihram, menurut keterangan yang ada didalam kitab Majmu' Syarah Muhadzdzab maka seorang laki-laki wajib untuk menghindari pakaian yang berjahit, ditenun, dan selain dari pakaian yang berupa muza atau sandal. Dan wajib baginya untuk memakai jarik dan selendang berwarna putih yang masih baru, jika tidak ada yang baru maka (cukup dengan jarik dan selendang) yang bersih saja.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 149-153 Maktabah Syamilah)

Jumat, 22 September 2023

FATHUL QARIB - KEWAJIBAN-KEWAJIBAN HAJI


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : 

(وواجبات الحج غير الأركان ثلاثة أشياء) أحدها (الإحرام من الميقات) الصادق بالزماني والمكاني، فالزماني بالنسبة للحج شوال وذو القعدة وعشر ليال من ذي الحجة، وأما بالنسبة للعمرة، فجميع السنة وقت لإحرامه والميقات المكاني للحج في حق المقيم بمكة نفس مكة مكيا كان أو آفاقيا، وأما غير المقيم بمكة فميقات المتوجه من المدينة الشريفة ذو الحليفة والمتوجه من الشام ومصر والمغرب الجحفة، والمتوجه من تهامة اليمن يلملم، والمتوجه من نجد الحجاز ونجد، اليمن قرن والمتوجه من المشرق ذات عرق، (و) الثاني من واجبات الحج (رمي الجمار الثلاث) يبدأ بالكبرى ثم الوسطى، ثم جمرة العقبة ويرمي كل جمرة بسبع حصيات واحدة بعد واحدة، فلو رمى حصاتين دفعة حسبت واحدة، ولو رمى حصاة واحدة سبع مرات كفى، ويشترط كون المرمى به حجرا، فلا يكفي غيره كلؤلؤ وجص (و) الثالث (الحلق) أو التقصير والأفضل للرجل الحلق وللمرأة التقصير، وأقل الحلق إزالة ثلاث شعرات من الرأس حلقا أو تقصيرا أو نتفا أو إحراقا أو قصا، ومن لا شعر برأسه يسن له إمرارا لموسى عليه، ولا يقوم شعر غير الرأس من اللحية، وغيرها مقام شعر الرأس

Kewajiban-kewajiban haji selain daripada rukunnya itu berjumlah tiga perkara :

1. Yang pertama adalah melakukan ihram dari miqat yang mencakup miqot zaman dan miqot makan. Adapun miqot zaman bagi haji adalah bulan syawal, bulan dzulqo'dah, dan sepuluh hari pada bulan dzulhijjah. Sedangkan miqot zaman bagi umroh adalah sepanjang tahun, yakni waktu yang bisa untuk melaksanakan ihram umroh. Miqot makan didalam pelaksanaan haji bagi orang yang bermukim dimekkah adalah daerah mekkah itu sendiri, entah statusnya dia itu sebagai penduduk asli mekkah atau pun sebagai pendatang. Sedangkan selain orang yang bermukim dimekkah, maka miqot bagi orang yang datang dari madinah musyarrofah adalah dzul hulaifah.

Kemudian, bagi orang yang datang dari iran, mesir dan maroko maka dia disebut juhfah. Lalu bagi orang yang datang dari dataran rendah yaman maka disebut yulamlam. Dan bagi orang yang datang dari dataran tinggi hijaz dan yaman maka disebut qorn. Sedangkan bagi orang yang datang dari daerah timur maka disebut dzatu 'irq.

2. Lalu kewajiban-kewajiban haji yang ke dua adalah melempar tiga jumroh yang dimulai dari jumroh kubro, jumroh wustho kemudian jumroh aqobah. Masing-masing jumroh itu dilempar dengan tujuh kerikil satu persatu. Dan seandainya seseorang melempar dua kerikil sekaligus, maka hanya dihitung satu. Kemudian jika seseorang melempar menggunakan satu kerikil untuk melempar tujuh kali, maka hal itu sudah dianggap mencukupi. (Dalam hal ini) maka disyaratkan sesuatu yang digunakan untuk melempar adalah batu. Oleh karena itu jika selain daripada batu misalnya menggunakan permata dan gamping, maka hal itu tidak dianggap mencukupi.

3. Dan kewajiban-kewajiban haji yang ke tiga adalah mencukur atau memotong rambut. Bagi laki-laki, yang paling utama itu adalah mencukur. Sedangkan bagi perempuan, maka yang paling utama adalah memotong. Paling sedikitnya mencukur disini adalah menghilangkan tiga helai rambut kepala dengan cara dicukur, dipotong, dicabut, dibakar atau digunting. Dan bagi orang yang tidak memiliki rambut kepala, maka baginya disunnahkan untuk menjalankan pisau cukur dikepalanya. Dan bagi rambut yang selain daripada rambut kepala misalnya jenggot atau yang selainnya, maka hal itu tidak bisa menggantikan rambut kepala.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 147-149 Maktabah Syamilah)

Kamis, 21 September 2023

FATHUL QARIB - RUKUN UMROH


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(وأركان العمرة ثلاثة) كما في بعض النسخ، وفي بعضها أربعة أشياء (الإحرام والطواف والسعي والحلق أو التقصير في أحد القولين) وهو الراجح كما سبق قريبا وإلا فلا يكون من أركان العمرة

Rukun umroh ada tiga perkara sebagaimana yang termaktub pada sebagian redaksi kitab, sedangkan didalam sebagian redaksi lain ada empat perkara. Diantaranya adalah ihram, towaf, sa'i, dan mencukur atau memotong rambut menurut salah satu dari dua pendapat. Dan ini adalah pendapat yang rajih (kuat) sebagaimana keterangan yang telah lalu (pada bab rukun haji). Dan jika tidak menurut pendapat yang rajih (kuat), maka keduanya bukan termasuk rukun umroh.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 147 Maktabah Syamilah)

Rabu, 20 September 2023

FATHUL QARIB - RUKUN HAJI


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : 

وأركان الحج أربعة) أحدها (الإحرام مع النية) أي نية الدخول في الحج (و) الثاني (الوقوف بعرفة) والمراد حضور المحرم بالحج لحظة بعد زوال الشمس يوم عرفة، وهو اليوم التاسع من ذي الحجة بشرط كون الواقف أهلا للعبادة لا مغمى عليه، ويستمر وقت الوقوف إلى فجر يوم النحر، وهو العاشر من ذي الحجة (و) الثالث (الطواف بالبيت) سبع طوفات جاعلا في طوافه البيت عن يساره مبتدئا بالحجر الأسود محاذيا له في مروره بجميع بدنه، فلو بدأ بغير الحجر لم يحسب له (و) الرابع (السعي بين الصفا والمروة) سبع مرات وشرطه أن يبدأ في أول مرة بالصفا، ويختم بالمروة ويحسب ذهابه من الصفا إلى المروة مرة وعوده إليه مرة أخرى، والصفا بالقصر طرف جبل أبي قبيس، والمروة بفتح الميم وبقي من أركان الحج الحلق أو التقصير إن جعلنا كلا منهما نسكا، وهو المشهور، فإن قلنا إن كلا منهما استباحة محظور فليسا من الأركان، ويجب تقديم الإحرام على كل الأركان السابقة

Rukun haji itu berjumlah empat perkara :

1. Yang pertama adalah ihram beserta niatnya, yakni niat masuk saat ibadah haji.

2. Yang ke dua adalah wukuf di arafah, dan yang dimaksud adalah kehadiran orang yang ihram saat haji dalam waktu sebentar setelah tergelincirnya matahari pada hari arafah, yakni hari ke sembilan dari bulan dzulhijjah. Namun dengan syarat orang yang wukuf itu termasuk orang yang ahli untuk melakukan ibadah, bukan orang yang sedang punya penyakit gila dan ayan (epilepsi). Kemudian, waktu wukuf ini tetap berlanjut sampai terbitnya fajar pada hari raya kurban, yakni hari ke sepuluh dari bulan dzulhijjah.

3. Yang ke tiga adalah towaf disekeliling ka'bah sebanyak tujuh kali putaran. Dan saat melakukan towaf, seseorang harus memposisikan ka'bah disebelah kirinya dan memulainya dari hajar aswad tepat lurus dengan seluruh badannya saat berjalan. Oleh karena itu seandainya seseorang memulai towaf dari selain hajar aswad, maka towaf yang dilakukannya itu tidaklah dianggap.

4. Yang ke empat adalah melakukan sa'i diantara bukit shofa dan marwah sebanyak tujuh kali. Dan syaratnya adalah harus memulai sa'i pertama dari bukit shofa yang diakhiri dibukit marwah. Perjalanan dari shofa ke marwah ini dihitung satu kali, dan kembali dari marwah ke shofa juga dihitung satu kali.

Adapun kalimat shofa dengan huruf alif qoshr diakhirnya adalah nama tepi gunung abi qubais. Sedangkan marwah dengan dibaca fathah huruf mimnya adalah nama suatu tempat yang sudah masyhur dikota mekkah.

Sebenarnya masih ada rukun-rukun haji yang tersisa, yakni mencukur atau memotong rambut jika kita menjadikan masing-masing dari keduanya termasuk dari rangkaian ibadah haji, dan ini adalah pendapat yang masyhur. Kemudian, jika kita mengatakan bahwa masing-masing dari keduanya adalah bentuk perbuatan untuk memperbolehkan hal-hal yang diharamkan saat ibadah haji, maka keduanya bukan termasuk rukun-rukun haji dan wajib mendahulukan ihram dari semua rukun-rukun haji yang lain.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 145-147 Maktabah Syamilah)

Senin, 18 September 2023

FATHUL QARIB - HAJI & SYARAT-SYARATNYA


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

كتاب أحكام الحج، وهو لغة القصد وشرعا قصد البيت الحرام للنسك (وشرائط وجوب الحج سبعة أشياء) وفي بعض النسخ سبع خصال (الإسلام والبلوغ والعقل والحرية) فلا يجب الحج على المتصف بضد ذلك (ووجود الزاد) وأوعيته إن احتاج إليها وقد لا يحتاج إليها كشخص قريب من مكة، ويشترط أيضا وجود الماء في المواضع المعتاد حمل الماء منها بثمن المثل (و) وجود (الراحلة) التي تصح له بشراء أو استئجار هذا إذا كان الشخص بينه وبين مكة مرحلتان فأكثر سواء قدر على المشي أم لا، فإن كان بينه وبين مكة دون مرحلتين، وهو قوي على المشي لزمه الحج بلا راحلة، ويشترط كون ما ذكر فاضلا عن دينه وعن مؤنة من عليه مؤنتهم مدة ذهابه وإيابه، وفاضلا أيضا عن مسكنه اللائق به، وعن عبد يليق به (وتخلية الطريق) والمراد بالتخلية هنا أمن الطريق ظناً بحسب ما يليق بكل مكان، فلو لم يأمن الشخص على نفسه أو ماله أو بضعه، لم يجب عليه الحج وقوله (وإمكان المسير) ثابت في بعض النسخ، والمراد بهذا الإمكان أن يبقى من الزمان بعد وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير المعهود إلى الحج، فإن أمكن إلا أنه يحتاج لقطع مرحلتين في بعض الأيام لم يلزمه الحج للضرر

Kitab yang menjelaskan tentang hukum-hukum haji. Secara bahasa, haji artinya adalah mendatangi. Adapun secara syariat adalah mendatangi tanah suci untuk melaksanakan ibadah.

Syarat-syarat wajibnya haji itu ada tujuh perkara. Didalam sebagian redaksi matan kitab menggunakan kalimat tujuh khishol. Syarat-syarat tersebut diantaranya adalah islam, baligh, berakal, dan merdeka. Oleh karena itu haji tidak wajib bagi orang yang memiliki sifat kebalikan dari sifat-sifat tersebut.

Kemudian memiliki bekal (untuk berangkat haji) dan juga memiliki wadah (atau kantong) bekal jika memerlukannya. Namun terkadang dia tidak memerlukannya seperti halnya orang yang dekat dengan kota mekkah. Lalu disyaratkan juga harus ada air ditempat-tempat yang sudah terbiasa membawa air yang dijual dengan harga yang umum (standar).

Kemudian adanya kendaraan yang layak entah itu dengan cara membeli atau menyewa. Dan hal ini jika jarak seseorang dengan kota mekkah mencapai dua marhalah (jarak bolehnya seseorang menjamak atau mengqoshor sholat) atau lebih, entah dia mampu berjalan ataupun tidak. Namun jika jarak diantara dia dan kota mekkah kurang dari dua marhalah dan dia mampu untuk berjalan, maka wajib melaksanakan ibadah haji tanpa harus naik kendaraan.

Semua perkara yang telah disebutkan tadi itu disyaratkan harus melebihi dari hutangnya dan biaya orang yang wajib dia nafkahi selama berangkat haji. Dan juga harus lebih dari rumah dan budak (miliknya) yang layak baginya.

(Kemudian syarat selanjutnya) adalah sepinya jalan. Dan yang dimaksud dengan sepi disini adalah punya dugaan akan aman diperjalanan sesuai dengan apa yang terdapat pada setiap tempat. Dan jika seseorang tidak merasa aman pada diri, harta dan kehormatannya, maka tidak wajib baginya untuk melaksanakan ibadah haji.

Terkait pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Dan memungkinkan untuk menempuh perjalanan, itu terdapat pada sebagian redaksi matan kitab. Dan yang dimaksud dengan mungkin disini adalah setelah menemukan bekal dan kendaraan, masih ada waktu yang mungkin untuk digunakan berangkat haji dengan cara yang semestinya. Maka dari itu jika mungkin untuk ditempuh, hanya saja dia butuh menempuh dua marhalah dalam jangka waktu sebagian dari hari-hari yang sudah terbiasa, maka (tidak wajib) baginya melaksanakan ibadah haji karena hal tersebut menyulitkan dirinya.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 144-145 Maktabah Syamilah)

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...