Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :
(فصل): في أركان الصلاة. وتقدم معنى الصلاة لغة وشرعا (وأركان الصلاة ثمانية عشر ركنا) أحدها (النية) وهي قصد الشيء مقترنا بفعله ومحلها القلب، فإن كانت الصلاة فرضا وجب نية الفرضية وقصد فعلها، وتعيينها من صبح أو ظهر مثلا أو كانت الصلاة نفلا ذات وقت كراتبة أو ذات سبب كالاستسقاء، وجب قصد فعلها وتعيينه لا نية النفلية
Pasal terkait rukun-rukun sholat, dan definisi sholat secara bahasa dan istilah sudah dijelaskan pada bab sebelumnya. Rukun-rukun sholat itu ada delapan belas :
1. Yang pertama adalah niat. Niat itu bermakna menyengaja sesuatu (bersamaan) dengan melakukannya, adapun tempatnya niat adalah didalam hati. Ketika melakukan sholat fardhu maka wajib niat fardhu, lalu menyengaja melakukannya kemudian menentukan (sholatnya) semisal shubuh atau dzuhur.
Dan sholat sunnah yang memiliki waktu tertentu semisal sholat rawatib, atau sholat yang memiliki sebab seperti sholat istisqo, maka wajib menyengaja melakukan dan menentukannya, (namun) tidak wajib niat sunnah.
(و) الثاني (القيام مع القدرة) عليه فإن عجز عن القيام قعد كيف شاء، وقعوده مفترشا أفضل
2. Rukun yang kedua adalah berdiri jika mampu. Namun jika tidak mampu, maka duduk dengan posisi yang dia mau. Namun duduk iftirosy (yaitu posisi duduk didalam sholat pada saat rakaat yang pertama) adalah yang lebih utama.
(و) الثالث (تكبيرة الإحرام) فيتعين على القادر بالنطق بها بأن يقول الله أكبر، فلا يصح الرحمن أكبر ونحوه، ولا يصح فيها تقديم الخبر على المبتدإ كقوله أكبر الله، ومن عجز عن النطق بها بالعربية ترجم عنها بأي لغة شاء، ولا يعدل عنها إلى ذكر آخر، ويجب قرن النية بالتكبير، وأما النووي فاختار الاكتفاء بالمقارنة العرفية بحيث يعد عرفا أنه مستحضر للصلاة
3. Rukun yang ketiga adalah takbiratul ihram. Bagi orang yang mampu, maka wajib mengucapkan takbiratul ihram, yaitu dengan mengucapkan Allahu Akbar. Maka tidak sah jika semisal mengucapkan Ar-Rahmanu Akbar atau yang lainnya. Dan dalam takbiratul ihram juga tidak sah mendahulukan khobar sebelum mubtadanya seperti mengucapkan Akbarullah.
Lalu, barang siapa yang tidak mampu mengucapkan takbiratul ihram dengan bahasa arab, maka wajib menterjemahkannya dengan bahasa yang dia mau. Dan tidak diperbolehkan baginya untuk berpindah dari takbiratul ihram kepada bentuk dzikir yang lain (semisal subhanallah). Kemudian wajib membarengkan niat disaat melakukan takbiratul ihram. Adapun imam Nawawi, maka beliau lebih memilih (pendapat) bahwa cukup dengan hanya berbarengan secara 'urf (atau kebiasaan saja), yaitu sekira secara urf maka seseorang sudah dianggap menghadirkan sholat (didalam hati saat takbiratul ihram).
(و) الرابع (قراءة الفاتحة) أو بدلها لمن لم يحفظها فرضا كانت الصلاة أو نفلا (وبسم الله الرحمن الرحيم آية منها) كاملة ومن أسقط من الفاتحة حرفا أو تشديدة، أو أبدل حرفا منها بحرف لم تصح قراءته ولا صلاته إن تعمد، وإلا وجب عليه إعادة القراءة، ويجب ترتيبها بأن يقرأ آياتها على نظمها المعروف، ويجب أيضا موالاتها بأن يصل بعض كلماتها ببعض من غير فصل إلا بقدر التنفس، فإن تخلل الذكر بين موالاتها قطعها، إلا أن يتعلق الذكر بمصلحة الصلاة كتأمين المأموم في أثناء فاتحته لقراءة إمامه، فإنه لا يقطع الموالاة، ومن جهل الفاتحة وتعذرت عليه لعدم معلم مثلا وأحسن غيرها من القرآن، وجب عليه سبع آيات متوالية عوضا عن الفاتحة أو متفرقة فإن عجز عن القرآن أتى بذكر بدلا عنها بحيث لا ينقص عن حروفها، فإن لم يحسن قرآنا ولا ذكرا وقف قدر الفاتحة، وفي بعض النسخ وقراءة الفاتحة بعد بسم الله الرحمن الرحيم، وهي آية منها
4. Rukun yang ke empat adalah membaca surah Al-Fatihah, baik sholat fardhu ataupun sholat sunnah. Bismillahirrahmanirrahim itu merupakan satu ayat dari surah Al-Fatihah. Maka barang siapa yang tidak membaca satu huruf atau satu tasydid dari surat Al-Fatihah, atau mengganti satu huruf dengan huruf yang lain, maka bacaannya tidak sah. Begitu pula sholatnya (tidak sah) jika dilakukan dengan sengaja. Adapun jika tidak sengaja, maka wajib baginya untuk mengulangi bacaannya.
Kemudian, wajib pula membaca surah Al-Fatihah secara tertib. Yaitu dengan membaca ayat-ayatnya sesuai dengan urutan yang sudah diketahui. Dan wajib membacanya secara muwallah (atau terus menerus), yaitu sebagian kalimat-kalimat Al-Fatihah bersambung dengan sebagian yang lain tanpa ada pemisah kecuali hanya sekedar mengambil nafas. Mangkanya jika diantara muwallah terdapat pemisah dengan dzikir yang lain, maka hal itu akan memutus bacaan muwallah surat Al-Fatihah tersebut. Kecuali bacaan dzikirnya yang berhubungan dengan kemaslahatan sholat semisal bacaan Aamiin yang dilakukan oleh makmum ditengah-tengah bacaan Al-Fatihahnya karena bacaan Al-Fatihah imamnya, jika demikian maka bacaan Aamiin tersebut tidak sampai memutus muwallah.
Dan barang siapa yang tidak mengetahui atau kesulitan membaca surah Al-Fatihah semisal karena tidak ada yang mengajari, namun dia bisa membaca surah yang lain dari (surah-surah) Al-Qur'an, maka wajib baginya untuk membaca tujuh ayat secara berurutan ataupun tidak sebagai ganti dari (membaca) surah Al-Fatihah. Dan jika (misalnya dia) tidak mampu membaca Al Qur'an (seluruhnya), maka wajib baginya untuk membaca dzikir (lain) sebagai ganti dari (membaca) surah Al-Fatihah yang sekiranya huruf dzikir tersebut tidak kurang dari jumlah huruf surah Al-Fatihah.
Sedangkan jika dia tidak bisa membaca Al-Qur'an dan juga tidak bisa membaca dzikir, maka wajib baginya untuk berdiri selama kadar ukuran membaca surah Al-Fatihah. Didalam sebagian redaksi matan ada ungkapan kalimat : Dan membaca Al-Fatihah setelah bismillahirrahmanirrahim, karena basmalah adalah bagian dari surah Al-Fatihah.
(و) الخامس (الركوع) وأقل فرضه لقائم قادر على الركوع معتدل الخلقة سليم يديه وركبتيه أن ينحني بغير انخناس قدر بلوغ راحتيه ركبتيه، ولو أراد وضعهما عليهما، فإن لم يقدر على هذا الركوع انحنى مقدوره وأومأ بطرفه، وأكمل الركوع تسوية الراكع ظهره وعنقه بحيث يصيران كصفيحة واحدة، ونصب ساقيه وفخذيه وأخذ ركبتيه بيديه
5. Rukun yang ke lima adalah ruku. Paling minimal fardhunya ruku bagi orang yang melakukan sholat dengan berdiri, mampu melakukan ruku, berbadan normal serta sehat kedua tangan dan lututnya adalah dengan membungkukkan badan tanpa membusungkan dada sekiranya kedua telapak tangan bisa menggapai kedua lutut.
Namun jika tidak mampu melakukan ruku seperti diatas, maka wajib baginya untuk membungkuk semampunya dan memberi isyarat dengan matanya. Adapun ruku yang paling sempurna adalah dengan cara melakukan ruku dengan meluruskan punggung serta lehernya yang mana keduanya itu seperti satu papan yang lurus. Lalu menegakkan kedua betisnya dan memegang kedua lututnya dengan kedua tangannya.
(و) السادس (الطمأنينة) وهي سكون بعد حركة (فيه) أي الركوع والمصنف يجعل الطمأنينة في الأركان ركنا مستقلا ومشى عليه النووي في التحقيق، وغير المصنف يجعلها هيئة تابعة للأركان
6. Rukun yang ke enam adalah tuma'ninah (didalam ruku). Tuma'ninah ini maksudnya adalah diam (sejenak) setelah bergerak (seukuran membaca subhanallah). Mushonnif (pengarang kitab) menjadikan tuma'ninah sebagai salah satuh rukun dari rukun-rukunnya sholat, dan imam Nawawi memakai pendapat ini didalam kitab At-Tahqiq. Sedangkan selain mushonnif (pengarang kitab) itu menjadikan tuma'ninah sebagai (sunnah) haiat yang menyertai (rukun) sholat.
(و) السابع (الرفع) من الركوع (والاعتدال) قائما على الهيئة التي كان عليها قبل ركوعه من قيام قادر وقعود عاجز عن القيام
7. Rukun yang ke tujuh adalah bangun dari ruku dan i'tidal (dengan) berdiri tegap sesuai keadaan sebelum ruku, yaitu berdiri bagi orang yang melakukan sholat dengan berdiri dan duduk bagi orang yang tidak mampu berdiri.
(و) الثامن (الطمأنينة فيه) أي الاعتدال
8. Rukun yang ke delapan adalah tuma'ninah didalamnya, yakni pada saat i'tidal.
(و) التاسع (السجود) مرتين في كل ركعة، وأقله مباشرة بعض جبهة المصلي موضع سجوده من الأرض أو غيرها، وأكمله أن يكبر لهويه للسجود بلا رفع يديه، ويضع ركبتيه ثم يديه ثم جبهته وأنفه
9. Rukun yang ke sembilan adalah sujud dua kali didalam setiap rakaat. Minimalnya sujud ini adalah dengan menempelkan sebagian kening orang yang sholat ke tempat sujudnya entah itu tanah atau yang lainnya (semisal sajadah). Adapun sujud yang paling sempurna adalah membaca takbir tanpa mengangkat kedua tangan ketika turun ke posisi sujud, lalu meletakkan kedua lutut dan kedua tangan, kemudian kening serta hidungnya.
(و) العاشر (الطمأنينة فيه) أي السجود بحيث ينال موضع سجوده ثقل رأسه، ولا يكفي إمساس رأسه موضع سجوده، بل يتحامل بحيث لو كان تحته قطن مثلا لانكبس، وظهر أثره على يد لو فرضت تحته
10. Rukun yang ke sepuluh adalah tuma'ninah didalam sujud sekiranya kepala mengenai tempat sujudnya, dan tidak cukup hanya menyentuhkan kepalanya ke tempat sujudnya. Bahkan harus agak menekannya (sedikit) semisal jika ada kapas dibawah kepalanya, niscaya akan tertekan dan bebannya itu akan terasa diatas tangan seandainya jika diletakkan dibawahnya.
(و) الحادي عشر (الجلوس بين السجدتين) في كل ركعة سواء صلى قائما أو مضطجعا، وأقله سكون بعد حركة أعضائه، وأكمله الزيادة على ذلك بالدعاء الوارد فيه، فلو لم يجلس بين السجدتين، بل صار إلى الجلوس أقرب لم يصح
11. Rukun yang ke sebelas adalah duduk diantara dua sujud pada setiap rakaat, entah itu saat dengan cara sholat berdiri, duduk ataupun tidur miring. Minimalnya duduk diantara dua sujud ini adalah dengan diam (sebentar) setelah menggerakkan anggota-anggota badannya, adapun yang paling sempurnanya adalah dengan menambahi ukuran tersebut dengan doa yang berasal dari (nabi shallallahu 'alaihi wasallam) saat melakukannya (semisal robbighfirlii, warhamni dan seterusnya).
Oleh karena itu seandainya dia tidak duduk diantara dua sujud, bahkan posisinya hanya lebih dekat pada posisi duduk, maka duduk yang dilakukannya tersebut tidak sah.
(و) الثاني عشر (الطمأنينة فيه) أي الجلوس بين السجدتين
12. Rukun yang ke dua belas adalah tuma'ninah disaat duduk diantara dua sujud.
(و) الثالث عشر (الجلوس الأخير) أي الذي يعقبه السلام
13. Rukun yang ke tiga belas adalah duduk yang terakhir, yakni duduk yang diiringi dengan salam.
(و) الرابع عشر (التشهد فيه) أي الجلوس الأخير
14. Rukun yang ke empat belas adalah tasyahud disaat duduk yang terakhir.
(و) الخامس عشر (الصلاة على النبي فيه) أي الجلوس الأخير بعد الفراغ من التشهد، وأقل الصلاة على النبي اللهم صل على محمد، وأشعر كلام المصنف أن الصلاة على الآل لا تجب وهو كذلك بل هي سنة
15. Rukun yang ke lima belas adalah membaca sholawat untuk nabi shallallahu 'alaihi wasallam didalamnya, yakni disaat duduk yang terakhir setelah membaca tasyahud. Minimal bacaan sholawat untuk beliau adalah Allahumma sholli 'alaa Muhammad. Kemudian, pernyataan mushonnif (pengarang kitab) memberitahukan bahwasanya membaca sholawat untuk keluarga nabi itu tidak wajib. Dan memang seperti itu hukumnya, bahkan hukumnya adalah sunnah.
(و) السادس عشر (التسليمة الأولى) ويجب إيقاع السلام حال القعود وأقله السلام عليكم مرة واحدة، وأكمله السلام عليكم ورحمة الله مرتين يمينا وشمالاً
16. Rukun yang ke enam belas adalah membaca salam pertama, dan wajib mengucapkan salam dalam posisi duduk. Minimal bacaan salam ini adalah Assalamu'alaikum satu kali, adapun bacaan salam yang paling sempurnanya adalah Assalamu'alaikum warohmatulloh dua kali, yaitu ke kanan dan ke kiri.
(و) السابع عشر (نية الخروج من الصلاة) وهذا وجه مرجوح وقيل لا يجب ذلك، أي نية الخروج وهذا الوجه هو الأصح
17. Rukun yang ke tujuh belas adalah niat keluar dari sholat, namun ini merupakan pendapat yang lemah. Dan ada yang mengatakan bahwa niat keluar dari sholat itu hukumnya tidak wajib, maka inilah pendapat yang shohih.
(و) الثامن عشر (ترتيب الأركان) حتى بين التشهد الأخير والصلاة على النبي فيه وقوله (على ما ذكرناه) يستثنى منه وجوب مقارنة النية لتكبيرة الإحرام ومقارنة الجلوس الأخير للتشهد والصلاة على النبي
18. Rukun yang ke delapan belas adalah melakukan rukun-rukun sholat secara tertib sampai diantara tasyahud yang terakhir dan bacaan sholawat untuk nabi shallallahu 'alaihi wasallam disaat tasyahud terakhir.
Pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Sesuai dengan apa yang aku jelaskan, maka dikecualikan kewajiban membarengkan niat dengan takbiratul ihram, kemudian membarengkan duduk terakhir dengan tasyahud serta bacaan sholawat untuk nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
📕 Fathul Qarib, hlm. 75-79 Maktabah Syamilah
🔄 Bersambung...