Senin, 31 Juli 2023

FATHUL QARIB - MENGURUS JENAZAH


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): فيما يتعلق بالميت من غسله وتكفينه والصلاة عليه ودفنه (ويلزم) على طريق فرض الكفاية (في الميت) المسلم غير المحرم والشهيد (أربعة أشياء غسله وتكفينه والصلاة عليه ودفنه) وإن لم يعلم بالميت إلا واحد تعين عليه ما ذكر، وأما الميت الكافر فالصلاة عليه حرام حربياً كان أو ذميا. ويجوز غسله في الحالين، ويجب تكفين الذمي ودفنه دون الحربي والمرتد، وأما المحرم إذا كفن فلا يستر رأسه، ولا وجه المحرمة وأما الشهيد فلا يصلى عليه كما ذكره المصنف بقوله (واثنان لا يغسلان ولا يصلى عليهما)

Pasal yang menjelaskan terkait dengan orang yang meninggal dunia mulai dari memandikan, mengkafani, mensholati dan menguburkannya. Perihal jenazah seorang muslim yang tidak melaksanakan ihram dan bukan orang yang mati syahid, maka fardhu kifayah untuk melakukan empat perkara yaitu memandikan, mengkafani, mensholati dan menguburkannya.

Jika jenazah tidak diketahui kecuali oleh satu orang, maka semua hal yang telah disebutkan diatas itu menjadi fardlu 'ain baginya. Adapun untuk jenazah orang kafir, maka diharamkan untuk mensholatinya entah itu kafir harbi ataupun kafir dzimmi. Namun diperbolehkan untuk memandikannya.

Kemudian, wajib untuk mengkafani dan menguburkan jenazah orang kafir dzimmi, bukan orang kafir harbi dan bukan orang murtad. Adapun jenazah orang yang sedang melaksanakan ihram ketika dikafani, maka kepalanya tidak ditutup. Demikian halnya dengan wajah jenazah perempuan yang melaksanakan ihram. Sedangkan perihal jenazah orang yang mati syahid, maka tidak disholati sebagaimana yang disebutkan oleh mushonnif (pengarang kitab) dengan pernyataan beliau : Ada dua jenazah yang tidak dimandikan dan tidak disholati.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 112 Maktabah Syamilah)

Minggu, 30 Juli 2023

FATHUL QARIB - SUTERA & EMAS


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في اللباس (ويحرم على الرجال لبس الحرير والتختم بالذهب) والقز في حالة الاختيار، وكذا يحرم استعمال ما ذكر على جهة الافتراش وغير ذلك من وجوه الاستعمالات، ويحل للرجال لبسه للضرورة كحرّ وبرد مهلكين، (ويحل للنساء) لبس الحرير وافتراشه ويحل للوليّ إلباس الصبي الحرير قبل سبع سنين وبعدها

Pasal terkait (memakai baju sutera). Bagi seorang laki-laki, diharamkan untuk memakai pakaian yang terbuat dari sutera dan memakai cincin emas dalam keadaan normal. Demikian juga diharamkan menggunakan benda-benda yang telah disebutkan (diatas) sebagai alas dan bentuk-bentuk pemakaian yang lain.

Namun bagi seorang laki-laki, dihalalkan menggunakan benda-benda yang telah disebutkan (diatas) karena darurat seperti pada saat panas dan dingin yang membahayakan (jiwanya). Adapun bagi seorang perempuan itu dihalalkan memakai pakaian yang terbuat dari sutera dan menggunakannya sebagai alas (secara mutlak). Kemudian bagi seorang wali (atau orang tua), dihalalkan memakaikan pakaian sutera pada anak kecil laki-laki sebelum dan setelah usianya tujuh tahun.

(وقليل الذهب وكثيره) أي استعمالهما (في التحريم سواء وإذا كان بعض الثوب إبريسماً) أي حريرا (وبعضه) الآخر (قطنا أو كتانا) مثلا (جاز) للرجل (لبسه ما لم يكن الإبريسم غالبا) على غيره فإن كان غير الإبريسم غالبا حل وكذا إن استويا في الأصح

Terkait emas yang sedikit dan banyak, maksudnya saat memakainya itu sama didalam keharaman hukumnya. Dan ketika sebagian bahan pakaian terbuat dari sutera dan sebagian lagi dari kapas atau semisal katun, maka bagi seorang laki-laki diperbolehkan memakainya selama kadar suteranya tidak lebih banyak daripada bahan yang lainnya. Oleh karena itu jika bahan selain suteranya lebih banyak, maka ia halal. Begitu juga halal jika ukurannya sama (yakni antara sutera dan yang lainnya) menurut pendapat yang shohih.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 111 Maktabah Syamilah)

FATHUL QARIB - SHOLAT KHAUF


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في كيفية صلاة الخوف. وإنما أفردها المصنف عن غيرها من الصلوات بترجمة، لأنه يحتمل في إقامة الفرض في الخوف ما لا يحتمل في غيره (وصلاة الخوف) أنواع كثيرة تبلغ ستة أضرب كما في صحيح مسلم اقتصر المصنف منها (على ثلاثة أضرب: أحدها أن يكون العدو في غير جهة القبلة) وهو قليل وفي المسلمين كثرة بحيث تقاوم كل فرقة منهم العدو (فيفرقهم الإمام فرقتين فرقة تقف في وجه العدو) تحرسه (وفرقة تقف خلفه) أي الإمام (فيصلي بالفرقة التي خلفه ركعة ثم) بعد قيامه للركعة الثانية (تتم لنفسها) بقية صلاتها (وتمضي) بعد فراغ صلاتها (إلى وجه العدو) تحرسه (وتأتي الطائفة الأخرى) التي كانت حارسة في الركعة الأولى. (فيصلي) الإمام (بها ركعة) فإذا جلس الإمام للتشهد تفارقه (وتتم لنفسها) ثم ينتظرها الإمام (ويسلم بها) وهذه صلاة رسول الله بذات الرقاع، سميت بذلك لأنهم رقعوا فيها راياتهم وقيل غير ذلك (والثاني أن يكون في جهة القبلة) في مكان لا يسترهم عن أعين المسلمين شيء، وفي المسلمين كثرة تحتمل تفرقهم (فيصفهم الإمام صفين) مثلا (ويحرم بهم) جميعا (فإذا سجد) الإمام في الركعة الأولى (سجد معه أحد الصفين) سجدتين (ووقف الصف الآخر يحرسهم فإذا رفع) الإمام رأسه (سجدوا ولحقوه) ويتشهد الإمام بالصفين ويسلم بهم وهذه صلاة رسول الله بعسفان، وهي قرية في طريق الحاج المصري بينها وبين مكة مرحلتان، سميت بذلك لعسف السيول فيها. (والثالث أن يكون في شدة الخوف والتحام الحرب) هو كناية عن شدة الاختلاط بين القوم بحيث يلتصق لحم بعضهم ببعض، فلا يتمكنون من ترك القتال ولا يقدرون على النزول إن كانوا ركبانا، ولا على الانحراف إن كانوا مشاة (فيصلي) كل من القوم (كيف أمكنه راجلا) أي ماشياً (أو راكبا مستقبل القبلة وغير مستقبل لها) ويعذرون في الأعمال الكثيرة في الصلاة كضربات متوالية

Pasal yang menjelaskan terkait tatacara sholat khauf (sholat dalam keadaan takut saat terjadinya peperangan). Mushonnif (pengarang kitab) memisahkan penjelasan sholat ini dengan sholat-sholat yang lain karena ada hal-hal yang diberi keringanan didalam pelaksanaan sholat fardhu saat khauf dan tidak diberi keringanan saat tidak khauf.

MACAM-MACAM SHOLAT KHAUF

Sholat khauf itu ada beberapa macam yang cukup banyak sampai mencapai enam macam sebagaimana yang ada dalam kitab shohih muslim, namun dari kesemuanya itu mushonnif hanya menjelaskan tiga macam saja.

1. SHOLAT DZATIRRIQA

Yang pertama adalah pada saat posisi musuh berada diselain arah kiblat, dan jumlah mereka terhitung sedikit sedangkan jumlah orang muslim terbilang banyak sekiranya setiap kelompok dari pihak muslim bisa sebanding dengan musuh. Dalam keadaan seperti ini seorang imam membagi pasukan muslim menjadi dua kelompok, yaitu satu kelompok berada diarah musuh untuk memantau mereka, dan satu kelompok lagi berdiri dibelakang imam.

Kemudian, seorang imam melaksanakan sholat satu rakaat bersama kelompok yang berada dibelakangnya. Dan setelah selesai pada rakaat yang pertama, maka kelompok tersebut menyempurnakan sisa sholatnya sendiri. Dan ketika sudah selesai, maka langsung berangkat keposisi arah musuh untuk memantaunya.

Kemudian kelompok yang satunya datang, yaitu kelompok yang memantau musuh saat pelaksanaan pada rakaat yang pertama. Dan imam melaksanakan satu rakaat bersama dengan kelompok tersebut. Dan disaat imam sedang melaksanakan duduk tasyahud, maka kelompok tersebut memisahkan diri dan menyempurnakan sholatnya sendiri. Kemudian imam menunggu mereka dan melakukan salam bersama mereka.

Hal ini adalah bentuk sholat yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didaerah Dzatirriqa. Disebut dengan nama tersebut karena sesungguhnya para sahabat menambal bendera mereka disana.

2. SHOLAT AL-ASFAN

Bentuk sholat khauf yang kedua adalah saat posisi musuh berada diarah kiblat, yaitu ditempat yang bisa terlihat oleh pandangan orang muslim. Jumlah pasukan muslim saat itu cukup banyak yang mungkin untuk dibagi. Maka dari itu seorang imam membagi mereka menjadi dua shof, dan seorang imam melakukan takbiratul ihram bersama mereka semuanya.

Ketika imam sujud pada rakaat pertama, maka salah satuh shof melakukan sujud dua kali bersamanya. Sedangkan shof yang lain tetap berdiri mengawasi musuh. Dan ketika imam mengangkat kepalanya, maka shof yang lain melakukan sujud kemudian menyusul imam. Lalu imam melakukan tasyahud dan salam bersama kedua shof tersebut.

Hal ini adalah sholat yang pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didaerah Asfan, yaitu suatu desa yang berada dijalur jamaah haji yang datang dari dari Mesir, jaraknya dua marhalah dari Mekkah. Daerah tersebut diberi nama seperti itu karena disana terlalu sering terjadi banjir besar.

3. SHOLAT SYIDDATUL KHAUF

Sholat khauf ke tiga adalah saat berada dalam keadaan sangat genting dan berkecamuknya peperangan. Adapun istilah iltihamul harbi adalah bentuk kiasan dari saat bercampurnya antara suatu kaum sekiranya badan sebagian dari mereka bertemu dengan badan sebagian yang lain. Sehingga mereka tidak bisa menghindar dari peperangan dan tidak mampu untuk turun dari kendaraan jika naik kendaraan, dan tidak mampu menoleh jika mereka berjalan kaki.

Oleh karena itu masing-masing pasukan melakukan sholat semampunya, kemudian berjalan atau naik kendaraan, dan menghadap kiblat ataupun tidak menghadap kiblat. Dalam keadaan seperti itu mereka diberikan uzur kalau melakukan gerakan-gerakan (diluar sholat) yang cukup banyak seperti beberapa pukulan yang dilakukan secara terus menerus.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 108-111 Maktabah Syamilah)

Sabtu, 29 Juli 2023

FATHUL QARIB - SHOLAT GERHANA


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): وصلاة الكسوف للشمس وصلاة الخسوف للقمر كل منهما (سنة مؤكدة فإن فاتت) هذه الصلاة (لم تقض) أي لم يشرع قضاؤها

Pasal terkait sholat gerhana matahari dan gerhana bulan, dua sholat ini hukumnya adalah sunnah muakkad. Dan jika sholat ini telah terlewat, maka tidak diqodho. Maksudnya adalah tidak disyariatkan untuk mengqodhonya.

(ويصلي لكسوف الشمس وخسوف القمر ركعتين) يحرم بنية صلاة الكسوف، ثم بعد الافتتاح والتعوّذ يقرأ الفاتحة، ويركع ثم يرفع رأسه من الركوع، ثم يعتدل ثم يقرأ الفاتحة ثانياً، ثم يركع ثانياً أخف من الذي قبله، ثم يعتدل ثانياً ثم يسجد السجدتين بطمأنينة في الكل، ثم يصلي ركعة ثانية بقيامين وقراءتين وركوعين، واعتدالين وسجودين وهذا معنى قوله (في كل ركعة) منهما (قيامان يطيل القراءة فيهما) كما سيأتي

(Disunnahkan untuk) melakukan sholat dua rakaat sebab terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan, yaitu (dimulai dengan) melakukan takbiratul ihram dengan niat sholat gerhana. Dan setelah membaca doa iftitah dan ta'awudz dilanjutkan dengan membaca surah Al-Fatihah, kemudian ruku, mengangkat kepala dari ruku, i'tidal, membaca surat Al-Fatihah yang kedua, lalu ruku kedua yang lebih cepat daripada ruku sebelumnya. Kemudian i'tidal yang kedua dan sujud dua kali dengan melakukan tuma'ninah pada masing-masing dari keduanya. Lalu melakukan rakaat yang kedua dengan dua kali berdiri, dua kali bacaan surah Al-Fatihah, dua ruku, dua i'tidal dan dua kali sujud (seperti yang dilakukan pada sebelumnya).

Dan ini adalah makna dari pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Pada masing-masing rakaat dari kedua rakaat tersebut itu terdapat dua kali berdiri dengan memanjangkan bacaan pada keduanya seperti keterangan yang akan dijelaskan (dibelakang).

(و) في كل ركعة (ركوعان يطيل التسبيح فيهما دون السجود) فلا يطوله، وهذا أحد وجهين، لكن الصحيح أنه يطوله نحو الركوع الذي قبله

Dan pada masing-masing rakaat itu terdapat dua kali ruku dengan memanjangkan bacaan tasbihnya, bukan pada saat melakukan sujud. Oleh karena itu (orang yang sholat) tidak perlu memanjangkan bacaan tasbih sujudnya, dan ini adalah salah satu dari dua pendapat. Akan tetapi menurut pendapat yang shohih dinyatakan bahwasanya dianjurkan untuk memanjangkan bacaan tasbih sujudnya dengan seukuran panjangnya bacaan tasbih ruku yang sebelumnya.

KHUTBAH GERHANA

(ويخطب) الإمام (بعدهما) أي بعد صلاة الكسوف والخسوف (خطبتين) كخطبتي الجمعة في الأركان والشروط، ويحث الناس في الخطبتين على التوبة من الذنوب، وعلى فعل الخير من صدقة وعتق ونحو ذلك (ويسر) بالقراءة (في كسوف الشمس ويجهر) بالقراءة (في خسوف القمر) وتفوت صلاة كسوف الشمس بالانجلاء للمنكسف وبغروبها كاسفة، وتفوت صلاة خسوف القمر بالانجلاء وطلوع الشمس لا بطلوع الفجر ولا بغروبه خاسفاً فلا تفوت الصلاة

Setelah melaksanakan sholat gerhana matahari dan bulan, maka seorang imam disunnahkan untuk melakukan khutbah dua kali sebagaimana dua khutbah pada sholat jum'at dalam rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Didalam kedua khutbahnya, seorang imam mengajak manusia agar bertaubat dari segala dosa kemudian mengajak manusia melakukan kebaikan berupa sedekah, memerdekakan budak dan yang lainnya.

Dan seorang imam disunnahkan untuk memelankan bacaannya saat melaksanakan sholat gerhana matahari, namun mengeraskan bacaannya saat melaksanakan sholat gerhana bulan. Waktu pelaksanaan sholat gerhana matahari (dianggap telah) habis sebab gerhana telah selesai, (yakni matahari kembali seperti semula) dan sebab matahari terbenam dalam keadaan gerhana.

Adapun waktu pelaksanaan sholat gerhana bulan juga (dianggap telah) habis sebab bulan kembali normal dan sebab terbitnya matahari, namun bukan sebab terbitnya fajar dan bukan sebab bulannya terbenam dalam keadaan gerhana. Oleh karenanya pada saat itu waktu pelaksanaannya belum (dianggap) habis.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 104-105 Maktabah Syamilah)

Kamis, 27 Juli 2023

FATHUL QARIB - PEMBAGIAN TAKBIR HARI RAYA


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

والتكبير على قسمين: مرسل وهو ما لا يكون عقب صلاة. ومقيد وهو ما يكون عقبها. وبدأ المصنف بالأول فقال (ويكبر) ندباً كل من ذكر وأنثى وحاضر ومسافر في المنازل، والطرق والمساجد والأسواق. (من غروب الشمس من ليلة العيد) أي عيد الفطر ويستمر هذا التكبير (إلى أن يدخل الإمام في الصلاة) للعيد ولا يسن التكبير ليلة عيد الفطر عقب الصلوات، ولكن النووي في الأذكار اختار أنه سنة. ثم شرع في التكبير المقيد فقال، (و) يكبر (في) عيد (الأضحى خلف الصلوات المفروضات) من مؤداة وفائتة وكذا خلف راتبة، ونفل مطلق وصلاة جنازة (من صبح يوم عرفة إلى العصر من آخر أيام التشريق

Takbir itu terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah takbir mursal, yaitu takbir yang tidak dilaksanakan setelah sholat. Kemudian yang kedua adalah takbir muqoyyad, yaitu takbir yang dilaksanakan setelah sholat. Mushonnif (pengarang kitab) memulainya dengan menjelaskan takbir pertama dengan pernyataan beliau : Untuk setiap orang laki-laki, perempuan, orang yang berada dirumah dan musafir, maka disunnahkan untuk membaca takbir dirumah-rumah, dijalan-jalan, dimasjid-masjid dan dipasar-pasar mulai sejak terbenamnya matahari pada malam hari raya, yakni hari raya idul fitri.

Kesunnahan takbir ini tetap berlangsung sampai imam mulai melaksanakan sholat ied, namun tidak disunnahkan membaca takbir setelah pelaksanaan sholat pada malam hari raya idul fitri. Akan tetapi didalam kitab Al-Adzkar imam Nawawi lebih memilih pendapat yang menyatakan bahwa takbir tersebut (tetap) disunnahkan.

Kemudian mushonnif (pengarang kitab) beranjak menjelaskan takbir muqoyyad dengan pernyataan beliau : Disunnahkan membaca takbir saat hari raya idul adha setelah melaksanakan sholat-sholat fardhu entah itu sholat yang ada'an ataupun qodho'an. Demikian juga setelah sholat rawatib, setelah sholat sunnah mutlak dan setelah sholat jenazah yaitu mulai waktu shubuh hari arafah sampai waktu ashar pada akhir hari tasyrik.

Bacaan takbirnya adalah sebagai berikut :

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَّقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

📕 (Fathul Qarib, hlm. 102-103 Maktabah Syamilah)

Selasa, 25 Juli 2023

FATHUL QARIB - SHOLAT IED


(فصل): وصلاة العيدين أي الفطر والأضحى (سنة مؤكدة) وتشرع جماعة ولمنفرد ومسافر وحر وعبد وخنثى، وامرأة لا جميلة ولا ذات هيئة، أما العجوز فتحضر العيد في ثياب بيتها بلا طيب، ووقت صلاة العيدين ما بين طلوع الشمس وزوالها

Pasal terkait sholat ied, yaitu idul fitri dan idul adha. Kedua sholat ini hukumnya adalah sunnah muakkad. Dan sholat ied disunnahkan untuk dilakukan secara berjamaah bagi orang yang sendirian, musafir, orang merdeka, seorang budak, khuntsa (orang yang punya dua kelamin), perempuan yang tidak cantik dan perempuan yang gerak geriknya tidak mengundang perhatian.

Adapun bagi perempuan yang sudah berusia lanjut, maka disunnahkan untuk menghadiri sholat ied dengan memakai pakaian sehari-hari tanpa memakai wewangian. Dan waktu pelaksanaan sholat ied ini adalah antara terbitnya matahari dan tergelincirnya.

(وهي) أي صلاة العيد (ركعتان) يحرم بهما بنية عيد الفطر أو الأضحى ويأتي بدعاء الافتتاح و (يكبر في) الركعة (الأولى سبعاً سوى تكبيرة الإحرام) ثم يتعوذ ويقرأ الفاتحة، ثم يقرأ بعدها سورة جهرا

Sholat ied adalah sholat dua rakaat, yaitu dengan cara melakukan takbiratul ihram dalam dua rakaat tersebut dengan niat sholat idul fitri atau idul adha dan membaca doa iftitah. Didalam rakaat pertama membaca takbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta'awudz, lalu membaca surah Al-Fatihah dan membaca surah setelahnya dengan mengeraskan suara.

(و) يكبر (في) الركعة (الثانية خمسا سوى تكبيرة القيام) ثم يتعوذ ثم يقرأ الفاتحة وسورة اقتربت جهرا (ويخطب) ندبا (بعدهما) أي الركعتين (خطبتين يكبر في) ابتداء (الأولى تسعا) ولاء (و) يكبر (في) ابتداء (الثانية سبعا) ولاء، ولو فصل بينهما بتحميد وتهليل وثناء كان حسنا

Adapun didalam rakaat kedua, itu membaca takbir sebanyak lima kali selain takbir untuk berdiri. Kemudian membaca ta'awudz, membaca surah Al-Fatihah dan surah iqtarabat (nama lain dari surah Al-Qomar) dengan mengeraskan suara.

Setelah melaksanakan sholat ied dua rakaat, maka disunnahkan untuk melakukan dua khutbah dengan membaca takbir sembilan kali secara terus menerus pada permulaan khutbah pertama. Kemudian membaca takbir tujuh kali secara terus menerus pada permulaan khutbah kedua. Dan seandainya kedua khutbah tersebut dipisah dengan bacaan tahmid, tahlil dan puji-pujian, maka hal itu adalah baik.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 102 Maktabah Syamilah)

Jumat, 21 Juli 2023

FATHUL QARIB - SHOLAT SUNNAH SAAT KHOTIB SEDANG KHUTBAH


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(ومن دخل) المسجد (والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين ثم يجلس) وتعبير المصنف بدخل يفهم أن الحاضر لا ينشىء صلاة ركعتين، سواء صلى سنة الجمعة أو ولا يظهر من هذا المفهوم أن فعلهما حرام أو مكروه، لكن النووي في شرح المهذب صرح بالحرمة، ونقل الإجماع عليها عن الماوردي

Barang siapa yang masuk masjid saat imam sedang khutbah, maka disunnahkan baginya untuk melaksanakan sholat sunnah dua rakaat secara singkat kemudian duduk. Adapun pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Orang yang masuk, hal itu memberi pemahaman bahwasanya bagi orang yang sudah hadir sejak (sebelum khotib melaksanakan khutbah) maka tidak disunnahkan untuk melaksanakan sholat dua rakaat, entah itu sholat sunnah (sebelum) jum'at atau yang lainnya.

Dari penjelasan ini tidak nampak jelas bahwa sesungguhnya sholat (sunnah) tersebut dihukumi haram ataukah makruh. Akan tetapi didalam kitab Majmu' Syarah Muhadzdzab imam Nawawi secara tegas memberikan hukum haram, dan beliau menukil terkait kesepakatan ulama atas hal tersebut dari imam Al-Mawardi.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 101 Maktabah Syamilah)

FATHUL QARIB - SUNNAH-SUNNAH SHOLAT JUM'AT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(وهيئاتها) وسبق معنى الهيئة (أربع خصال) أحدها (الغسل) لمن يريد حضورها من ذكر أو أنثى حر أو عبد مقيم أو مسافر، ووقت غسلها من الفجر الثاني وتقريبه من ذهابه أفضل، فإن عجز عن غسلها تيمم بنية الغسل لها (و) الثاني (تنظيف الجسد) بإزالة الريح الكريه منه كصنان فيتعاطى ما يزيله من مرتك ونحوه (و) الثالث (لبس الثياب البيض) فإنها أفضل الثياب (و) الرابع (أخذ الظفر) إن طال والشعر كذلك فينتف إبطه، ويقص شاربه، ويحلق عانته (والتطيب) بأحسن ما وجد منه (ويستحب الإنصات) وهو السكوت مع الإصغاء (في وقت الخطبة) ويستثنى من الإنصات أمور مذكورة في المطولات منها إنذار أعمى أن يقع في بئر، ومن دب إليه عقرب مثلا

Sunnah-sunnah haiat sholat jum'at itu berjumlah empat perkara, adapun makna haiat sudah dijelaskan pada bab yang sebelumnya. Sunnah-sunnah tersebut diantaranya :

1. Yang pertama adalah mandi bagi orang yang hendak menghadiri sholat jum'at. Entah itu laki-laki atau perempuan, orang merdeka atau budak, dan orang mukim atau musafir. Waktu pelaksanaan mandi ini adalah mulai dari terbitnya fajar kedua (yakni fajar shodiq), adapun melakukan mandi saat dekat (dengan waktu dilaksanakannya sholat jum'at) itu lebih utama. Dan jika tidak mampu untuk mandi, maka disunnahkan untuk melakukan tayamum dengan niat mandi untuk sholat jum'at.

2. Yang kedua adalah membersihkan badan dengan cara menghilangkan bau yang tidak sedap seperti halnya bau badan. Oleh karena itu disunnahkan untuk memakai sesuatu yang bisa menghilangkan bau badan tersebut seperti memakai tawas dan yang lainnya.

3. Yang ke tiga adalah memakai pakaian berwarna putih, karena pakaian yang berwarna putih itu adalah pakaian yang paling utama.

4. Yang ke empat adalah memotong kuku dan memotong rambut (jika keduanya panjang). Dan disunnahkan juga untuk mencabut bulu ketiak, memotong kumis, mencukur bulu kemaluan, dan memakai wewangian dengan wewangian terbaik yang dia temukan.

Lalu disunnahkan untuk diam dan mendengarkan saat (khotib sedang) khutbah. Didalam hal ini ada beberapa perkara yang disebutkan pada kitab-kitab yang luas penjelasannya, yang mana hal itu dikecualikan dari kesunnahan diam (saat khotib sedang khutbah). Diantaranya adalah memperingatkan orang buta yang akan jatuh ke sumur, kemudian memperingatkan orang yang akan digigit oleh (hewan berbisa) seperti kalajengking dan yang semisalnya.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 100-101 Maktabah Syamilah)

FATHUL QARIB - SYARAT-SYARAT KHUTBAH


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

ويشترط أن يسمع الخطيب أركان الخطبة لأربعين تنعقد بهم الجمعة، ويشترط الموالاة بين كلمات الخطبة وبين الخطبتين، فلو فرق بين كلماتها، ولو بعذر بطلت، ويشترط فيها ستر العورة وطهارة الحدث والخبث في ثوب وبدن ومكان، (و) الثالث من فرائض الجمعة (أن تصلى) بضم أوله (ركعتين في جماعة) تنعقد بهم الجمعة، ويشترط وقوع هذه الصلاة بعد الخطبتين بخلاف صلاة العيد، فإنها قبل الخطبتين

Disyaratkan bagi seorang khotib untuk memberikan pendengaran rukun-rukun khutbah kepada empat puluh jamaah yang bisa mengesahkan sholat jum'at. Dan disyaratkan pula harus muwallah (yaitu tidak memisah dengan waktu yang cukup lama) diantara kalimat-kalimat khutbahnya dan diantara dua khutbah tersebut.

Oleh karena itu seandainya seorang khotib memisah antara kalimat-kalimat khutbah tersebut (dengan waktu yang cukup lama) meskipun karena uzur, maka khutbah yang dilakukannya itu menjadi batal. Dan didalam pelaksanaan kedua khutbah itu disyaratkan harus menutup aurat, kemudian suci dari hadas dan najis pada pakaian, badan dan juga tempatnya.

Kemudian, yang ke tiga dari fardhu-fardhunya sholat jum'at adalah sholat jum'at dilaksanakan dua rakaat oleh sekelompok orang yang bisa mengesahkan sholat jum'at tersebut. Adapun lafadz thusholla dengan dibaca dhammah huruf awalnya, maka sholat ini disyaratkan terlaksana setelah dua khutbah. Berbeda halnya dengan sholat ied, karena sholat ied itu dilaksanakan sebelum dua khutbah.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 100 Maktabah Syamilah)

Kamis, 20 Juli 2023

FATHUL QARIB - FARDHUNYA SHOLAT JUM'AT & RUKUN KHUTBAH


FARDHU-FARDHU SHOLAT JUM'AT

(وفرائضها) ومنهم من عبر عنها بالشروط (ثلاثة) أحدها وثانيها (خطبتان يقوم) الخطيب (فيهما ويجلس بينهما) قال المتولي بقدر الطمأنينة بين السجدتين، ولو عجز عن القيام وخطب قاعدا أو مضطجعا، صح وجاز الاقتداء به، ولو مع الجهل بحاله وحيث خطب قاعدا فصل بين الخطبتين بسكتة لا باضطجاع

Fardhu-fardhunya sholat jum"at itu berjumlah tiga perkara. Sebagian ulama menyatakannya dengan kalimat syarat-syarat. Yang pertama dan kedua adalah dua khutbah yang dilakukan oleh seorang khotib dengan berdiri dan duduk diantara keduanya. Al-Imam Mutawalli berkata : Yaitu dengan seukuran tuma'ninah diantara dua sujud.

Dan seandainya khotib tidak mampu berdiri kemudian dia melakukan sholat dengan cara duduk atau tidur miring, maka yang demikian itu sah dan diperbolehkan mengikutinya meskipun tidak tau keadaan khotib yang sebenarnya. Dan disaat seorang khotib melakukan khutbah dengan cara duduk, maka dia harus memisahkan antara kedua khutbah dengan diam sejenak, tidak dengan tidur miring.

RUKUN-RUKUN KHUTBAH

وأركان الخطبتين خمسة: حمد الله تعالى، ثم الصلاة على رسول الله ولفظهما متعين، ثم الوصية بالتقوى ولا يتعين لفظها على الصحيح، وقراءة آية في إحداهما، والدعاء للمؤمنين والمؤمنات في الخطبة الثانية

Rukun-rukun khutbah itu berjumlah lima perkara : 

1. Yang pertama adalah memuji Allah (maksudnya membaca hamdalah).

2. Yang kedua adalah membaca sholawat untuk rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan lafadz keduanya (hamdalah dan sholawat) itu sudah ditentukan (dengan lafadz yang tertentu). 

3. Yang ketiga adalah wasiat takwa, namun lafadz wasiat takwa ini tidak ditentukan (dengan lafadz tertentu) menurut pendapat yang shohih. 

4. Yang ke empat adalah membaca ayat Al Qur'an pada salah satu khutbah dua. 

5. Dan yang ke lima adalah berdoa untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan didalam khutbah yang kedua.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 99 Maktabah Syamilah)

FATHUL QARIB - SYARAT WAJIB & SYARAT SAH SHOLAT JUM'AT


SYARAT WAJIB SHOLAT JUM'AT

(فصل): وشرائط وجوب الجمعة سبعة أشياء الإسلام والبلوغ والعقل. وهذه شروط أيضا لغير الجمعة من الصلوات (والحرية والذكورية والصحة والاستيطان) فلا تجب الجمعة على كافر أصلي وصبي ومجنون، ورقيق وأنثى ومريض ونحوه ومسافر

Pasal terkait syarat-syarat wajib melaksanakan sholat jum'at, itu berjumlah tujuh perkara yakni islam, baligh dan berakal. Hal ini juga merupakan syarat-syarat wajib melaksanakan sholat selain sholat jum'at. Syaratnya adalah merdeka, laki-laki, sehat dan bertempat tinggal tetap. Oleh karena itu sholat jum'at tidak wajib bagi orang kafir, anak kecil, orang gila, seorang budak, kaum perempuan, orang sakit dan musafir.

SYARAT SAH SHOLAT JUM'AT

(وشرائط) صحة (فعلها ثلاثة) الأول دار الإقامة التي يستوطنها العدد المجمعون سواء في ذلك المدن والقرى التي تتخذ وطنا، وعبر المصنف عن ذلك بقوله (أن تكون البلد مصرا) كانت البلد (أو قرية و) الثاني (أن يكون العدد) في جماعة الجمعة (أربعين) رجلا (من أهل الجمعة) وهم المكلفون الذكور الأحرار المستوطنون بحيث لا يظعنون عما استوطنوه شتاءً، ولا صيفا إلا لحاجة، (و) الثالث (أن يكون الوقت باقياً) وهو وقت الظهر فيشترط أن تقع الجمعة كلها في الوقت، فلو ضاق وقت الظهر عنها بأن لم يبق منه ما يسع الذي لا بد منه فيها من خطبتيها وركعتيها صليت ظهرا (فإن خرج الوقت أو عدمت الشروط) أي جميع وقت الظهر يقينا أو ظنا وهم فيها (صليت ظهرا) بناء على ما فعل منها، وفاتت الجمعة سواء أدركوا منها ركعة أم لا، ولو شكوا في خروج وقتها وهم فيها أتموها جمعة على الصحيح

Syarat-syarat sah pelaksanaan sholat jum'at itu berjumlah tiga perkara :

1. Yang pertama adalah bertempat tinggal yang dihuni oleh sejumlah orang yang melaksanakan sholat jum'at, entah itu berupa perkotaan ataupun pedesaan yang dijadikan tempat tinggal tetap (oleh mereka). Hal tersebut telah diungkapkan oleh mushonnif (pengarang kitab) dengan pernyataan beliau : Daerah tersebut adalah perkotaan ataupun pedesaan.

2. Yang kedua adalah jumlah orang yang melaksanakan sholat jum'at mencapai empat puluh orang laki-laki dari golongan ahli jum'at. Mereka adalah orang-orang mukallaf laki-laki yang merdeka dan bertempat tinggal tetap serta tidak berpindah dari tempat tinggalnya, entah itu pada musim dingin atau pada musim kemarau kecuali karena ada hajat.

3. Kemudian yang ke tiga adalah waktu pelaksanaannya masih tersisa, yaitu waktu sholat dzuhur. Maka seluruh bagian sholat jum'at harus terlaksana didalam waktu tersebut. Oleh karena itu seandainya waktu sholat dzuhur tersisa sedikit, yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk melaksanakan bagian-bagian yang wajib didalam sholat jum'at seperti dua khutbah dan dua rakaatnya, maka yang harus dilaksanakan adalah sholat dzuhur sebagai ganti dari sholat jum'at tersebut.

Adapun jika waktu sholat dzuhur sudah habis atau syarat-syarat sholat jum'at tidak terpenuhi, yakni selama waktu dzuhur entah itu secara yakin atau sekedar dugaan saja kemudian para jamaah dalam keadaan melaksanakan sholat jum'at, maka yang dilaksanakan adalah sholat dzuhur dengan meneruskan apa yang telah dilaksanakan dari sholat jum'at. Dan sholat jum'at tersebut dianggap keluar (tidak didapatkan) entah itu sudah dilaksanakan satu rakaat darinya ataupun tidak. Dan seandainya para jamaah merasa ragu terhadap habisnya waktu dan mereka berada didalam sholat, maka yang mereka lakukan adalah menyempurnakan sholat tersebut sebagai sholat jum'at menurut pendapat yang shohih.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 98-99 Maktabah Syamilah)

Rabu, 19 Juli 2023

FATHUL QARIB - JAMAK SHOLAT SAAT HUJAN & SYARAT-SYARATNYA


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(ويجوز للحاضر) أي المقيم (في) وقت (المطر أن يجمع بينهما) أي الظهر والعصر والمغرب والعشاء لا في وقت الثانية بل (في وقت الأولى منهما) إن بل المطر أعلى الثوب، وأسفل النعل، ووجدت الشروط السابقة في جمع التقديم، ويشترط أيضا وجود المطر في أول الصلاتين، ولا يكفي وجوده في أثناء الأولى منهما، ويشترط أيضا وجوده عند السلام من الأولى، سواء استمر المطر بعد ذلك أم لا، وتختص رخصة الجمع بالمطر بالمصلي في جماعة بمسجد أو غيره من مواضع الجماعة بعيد عرفا، ويتأذى الذاهب للمسجد أو غيره من مواضع الجماعة بالمطر في طريقه

Pada waktu hujan, orang yang sholat dirumah (atau orang mukim) itu diperbolehkan untuk melakukan sholat jamak diantara keduanya. Maksudnya antara sholat dzuhur dan ashar, kemudian antara sholat maghirb dan isya. (Namun hal itu) tidak dilakukan pada waktu sholat yang kedua, tapi dilakukan pada waktu sholat yang pertama dari keduanya. Dan diharuskan jika air hujan dapat membasahi pakaian bagian teratas serta bagian (sandal atau sepatu) yang paling bawah. Kemudian juga harus memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan didalam sholat jamak takdim.

Dan juga disyaratkan harus turun hujan saat permulaan melakukan dua sholat tersebut, maka tidak cukup hanya turun hujan pada pertengahan sholat yang pertama dari keduanya. Kemudian juga disyaratkan harus turun hujan saat melakukan salam dari sholat yang pertama entah setelah itu hujan terus turun ataupun tidak.

Keringanan melakukan jamak karena hujan ini hanya terbatas bagi orang yang melakukan sholat berjamaah dimasjid atau ditempat-tempat sholat berjamaah lainnya yang jaraknya jauh menurut ukuran urf (atau kebiasaan setempat). Dan orang yang melakukannya merasa kesulitan untuk berangkat ke masjid atau tempat-tempat sholat berjamaah lainnya sebab terkena air hujan diperjalanannya.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 97 Maktabah Syamilah)

Senin, 17 Juli 2023

FATHUL QARIB - SYARAT JAMAK TAKDIM & JAMAK TAKHIR


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

وشروط جمع التقديم ثلاثة : الأول أن يبدأ بالظهر قبل العصر، وبالمغرب قبل العشاء، فلو عكس كأن بدأ بالعصر قبل الظهر مثلاً لم يصح، ويعيدها بعدها إن أراد الجمع. والثاني نية الجمع أول الصلاة الأولى بأن تقترن نية الجمع بتحرمها، فلا يكفي تقديمها على التحرم، ولا تأخيرها عن السلام من الأولى، وتجوز في أثنائها على الأظهر. والثالث الموالاة بين الأولى والثانية بأن لا يطول الفصل بينهما، فإن طال عرفا ولو بعذر كنوم، وجب تأخير الصلاة الثانية إلى وقتها، ولا يضر في الموالاة بينهما فصل يسير عرفا

Syarat-syarat jamak takdim itu ada tiga :

1. Yang pertama adalah dimulai dengan melakukan sholat dzuhur sebelum melakukan sholat ashar, kemudian sholat maghrib sebelum sholat isya. Dan seandainya (pelaksanaannya) dibalik semisal memulai dengan sholat ashar sebelum melakukan sholat dzuhur, maka sholatnya tidak sah dan harus mengulangi sholat ashar setelah melakukan sholat dzuhur jika sholatnya ingin dijamak.

2. Yang kedua adalah berniat jamak pada permulaan sholat yang pertama, yaitu dengan membarengkan niat jamak bersamaan takbiratul ihramnya. Oleh karena itu tidak cukup jika mendahulukan niat jamak sebelum takbiratul ihram kemudian mengakhirkannya hingga setelah melakukan salam dari sholat yang pertama. Dan diperbolehkan melakukan niat jamak pada pertengahan sholat yang pertama menurut pendapat unggul.

3. Kemudian yang ke tiga adalah muwallah (yakni segera melaksanakan) antara pelaksanaan sholat yang pertama dan sholat yang kedua, dalam artian tidak ada waktu pemisah yang cukup lama menurut urf (atau kebiasaan) diantara keduannya. Namun jika ada waktu pemisah yang cukup lama menurut urf meskipun karena adanya udzur semisal tidur, maka wajib untuk menunda pelaksanaan sholat yang ke dua sampai masuk waktunya. Adapun waktu pemisah yang terbilang sebentar itu tidak berpengaruh pada muwallah antara dua sholat tersebut.

وأما جمع التأخير، فيجب فيه أن يكون بنية الجمع، وتكون النية هذه في وقت الأولى، ويجوز تأخيرها إلى أن يبقى من وقت الأولى زمن لو ابتدئت فيه كانت أداء، ولا يجب في جمع التأخير ترتيب، ولا موالاة ولا نية جمع على الصحيح في الثلاثة

Adapun jamak takhir, maka saat pelaksanaannya itu wajib untuk berniat jamak dan niat tersebut harus dilakukan pada waktu sholat yang pertama. Namun diperbolehkan untuk mengakhirkan niat jika waktu sholat yang pertama masih tersisa waktunya, yang mana jika seandainya sholat tersebut dilakukan saat itu maka akan menjadi sholat ada'an. Kemudian didalam pelaksanaan jamak takhir ini maka tidak wajib melaksanakannya secara tertib, lalu muwallah serta berniat jamak berdasarkan pendapat yang shohih pada masalah yang tiga ini.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 96-97 Maktabah Syamilah)

FATHUL QARIB - SHOLAT YANG BOLEH DI JAMAK


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(ويجوز للمسافر) سفرا طويلا مباحا (أن يجمع بين) صلاتي (الظهر والعصر) تقديما وتأخيرا وهو معنى قوله (في وقت أيهما شاء و) أن يجمع (بين) صلاتي (المغرب والعشاء) تقديما وتأخيرا وهو معنى قوله (في وقت أيهما شاء)

Seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh yang mubah, maka diperbolehkan untuk menjamak sholat dzuhur dan ashar entah itu dengan jamak takdim maupun jamak takhir. Dan ini merupakan makna dari pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Pada waktu manapun yang dia mau. Dan diperbolehkan untuk menjamak sholat maghrib dan isya entah itu dengan jamak takdim maupun jamak takhir. Dan ini juga merupakan makna dari pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Pada waktu manapun yang dia mau.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 95-96 Maktabah Syamilah)

Minggu, 16 Juli 2023

FATHUL QARIB - QOSHOR SHOLAT & SYARAT-SYARATNYA


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في قصر الصلاة وجمعها (ويجوز للمسافر) أي المتلبس بالسفر (قصر الصلاة الرباعية) لا غيرها من ثنائية وثلاثية

Pasal terkait qoshor dan jamak sholat. 

Diperbolehkan bagi seorang musafir, yaitu orang yang sedang bepergian untuk mengqoshor sholatnya yang berjumlah empat rakaat, bukan yang lainnya dari sholat yang berjumlah dua atau tiga rakaat.

SYARAT-SYARAT QOSHOR

وجواز قصر الصلاة الرباعية (بخمس شرائط) الأول (أن يكون سفره) أي الشخص (في غير معصية) هو شامل للواجب كقضاء دين، وللمندوب كصلة الرحم، وللمباح كسفر تجارة، أما سفر المعصية كالسفر لقطع الطريق فلا يترخص فيه بقصر ولا جمع (و) الثاني (أن تكون مسافته) أي السفر (ستة عشر فرسخا) تحديداً في الأصح ولا تحسب مدة الرجوع منها، والفرسخ ثلاثة أميال، وحينئذ فمجموع الفراسخ ثمانية وأربعون ميلا، والميل أربعة آلاف خطوة، والخطوة ثلاثة أقدام، والمراد بالأميال الهاشمية (و) الثالث (أن يكون) القاصر (مؤديا للصلاة الرباعية) أما الفائتة حضرا فلا تقضى فيه مقصورة، والفائتة في السفر تقضى فيه مقصورة لا في الحضر (و) الرابع (أن ينوي) المسافر (القصر) للصلاة (مع الإحرام) بها (و) الخامس (أن لا يأتم) في جزء من صلاته (بمقيم) أي بمن يصلي صلاة تامة ليشمل المسافر المتم

Diperbolehkan mengqoshor sholat (saat bepergian) dengan lima syarat :

1. Yang pertama adalah perjalanan yang dilakukan bukan untuk maksiat. Yaitu mencakup perjalanan wajib seperti untuk melunasi hutang, lalu perjalanan sunnah seperti untuk silaturahim, dan perjalanan mubah seperti untuk berdagang. Adapun perjalanan maksiat seperti perjalanan untuk merampok, maka saat melakukan perjalanan ini seseorang tidak diperbolehkan melakukan keringanan qoshor sholat dan jamak.

2. Yang kedua adalah jarak perjalanannya harus mencapai enam belas farsakh secara yakin menurut pendapat yang shohih, adapun jarak yang ditempuh saat pulang itu tidak dihitung. Satu farsakh ini (kira-kira) adalah tiga mil. Jika demikian, maka jumlah seluruh farsakh tersebut adalah empat puluh delapan mil. Adapun satu milnya (kira-kira) adalah empat ribu jangka kaki, dan satu jangka itu sama dengan tiga telapak kaki. Kemudian yang dimaksud dengan mil disini adalah ukuran mil (yang ditentukan oleh) keturunan bani hasyim.

3. Yang ke tiga adalah orang yang melakukan qoshor haruslah orang yang melakukan sholat empat rakaat secara ada'an (bukan qodho). Adapun sholat yang tertinggal saat masih berada dirumah, maka tidak diperbolehkan diqodho secara qoshor saat melakukan perjalanan. Sedangkan sholat yang tertinggal diperjalanan, maka boleh diqodho dengan cara qoshor saat melakukan perjalanan, bukan diqodho dirumah.

4. Yang ke empat adalah seorang musafir harus berniat untuk melakukan qoshor bersamaan saat takbiratul ihram sholat tersebut.

5. Dan yang ke lima adalah orang yang mengqoshor sholat tidak bermakmum didalam sebagian sholatnya pada orang yang mukim, yaitu orang yang melakukan sholat secara sempurna (didaerah tempat tinggalnya). Penafsiran seperti ini (yakni orang yang sholat secara sempurnya) adalah agar mencakup untuk seorang musafir yang melakukan sholat secara sempurna (juga).

📕 (Fathul Qarib, hlm. 94-95 Maktabah Syamilah)

FATHUL QARIB - PASAL TERKAIT SHOLAT BERJAMAAH


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): وصلاة الجماعة للرجال في الفرائض غير الجمعة (سنة مؤكدة) عند المصنف والرافعي، والأصح عند النووي أنها فرض كفاية، ويدرك المأموم الجماعة مع الإمام في غير الجمعة ما لم يسلم التسليمة الأولى، وإن لم يقعد معه أما الجماعة في الجمعة ففرض عين، ولا تحصل بأقل من ركعة

Pasal terkait sholat berjamaah bagi laki-laki didalam sholat-sholat fardhu selain sholat jum'at, itu hukumnya adalah sunnah muakkad menurut mushonnif (pengarang kitab) dan imam Ar-Rafi'i. Sedangkan pendapat yang lebih shohih menurut imam Nawawi adalah sholat berjamaah itu hukumnya adalah fardhu kifayah.

Seorang makmum bisa mendapatkan pahala sholat berjamaah bersama imam pada selain sholat jum'at selama imamnya belum melakukan salam yang pertama meskipun makmum belum sempat duduk bersama imam. Adapun hukum berjamaah didalam sholat jum'at adalah fardhu ain dan tidak bisa didapatkan dengan kurang dari satu rakaat.

BEBERAPA KEWAJIBAN SAAT BERJAMAAH

(و) يجب (على المأموم أن ينوي الائتمام) أو الاقتداء بالإمام ولا يجب تعيينه بل يكفي الاقتداء بالحاضر إن لم يعرفه، فإن عينه وأخطأ بطلت صلاته إلا إن انضمت إليه إشارة كقوله: نويت الاقتداء بزيد هذا فبان عمرا فتصح (دون الإمام) فلا يجب في صحة الاقتداء به في غير الجمعة نية الإمامة، بل هي مستحبة في حقه، فإن لم ينو فصلاته فرادى

Bagi seorang makmum, maka wajib baginya untuk berniat menjadi makmum atau berniat untuk mengikuti imam. Namun tidak wajib menentukan imam yang diikutinya, bahkan sudah cukup niat bermakmum dengan imam yang hadir saat itu meskipun dia tidak mengenalnya. Dan jika dia menentukan imamnya namun ternyata keliru, maka sholatnya batal kecuali jika disertai isyarat dengan semisal mengucapkan : Aku niat bermakmum kepada zaid, yaitu orang ini. Namun ternyata dia adalah Amr, maka dalam keadaan demikian sholatnya tetap dianggap sah.

Kemudian bagi seorang imam, maka tidak wajib baginya untuk berniat menjadi imam demi mengesahkan bermakmum kepadanya pada selain sholat jum'at, namun niat menjadi imam itu disunnahkan. Dan jika dia tidak berniat menjadi imam, maka sholatnya dihukumi sebagai sholat sendirian.

YANG SAH MENJADI IMAM

(ويجوز أن يأتم الحرّ بالعبد والبالغ بالمراهق) أما الصبي غير المميز فلا يصح الاقتداء به (ولا تصح قدوة رجل بامرأة) ولا بخنثى مشكل ولا خنثى مشكل بامرأة ولا بمشكل (ولا قارىء) وهو من يحسن الفاتحة، أي لا يصح اقتداؤه (بأمي) وهو من يخل بحرف أو تشديدة من الفاتحة

Bagi seorang laki-laki merdeka, maka diperbolehkan baginya untuk bermakmum kepada seorang budak laki-laki. Dan bagi seorang laki-laki yang sudah baligh, maka diperbolehkan baginya untuk bermakmum kepada seorang murohik (yakni anak yang menjelang baligh). Adapun seorang anak yang belum tamyiz, maka tidak sah bermakmum kepadanya. 

Kemudian seorang laki-laki tidak sah bermakmum kepada seorang perempuan dan khuntsa musykil (orang yang punya dua kelamin), dan seorang khuntsa musykil tidak sah bermakmum kepada seorang perempuan dan sesama khuntsa musykil. Kemudian seorang ­qori, yaitu orang yang benar bacaan Al-Fatihahnya itu tidak sah untuk bermakmum kepada seorang yang ummi, yaitu orang yang rusak bacaan huruf atau tasydid surah Al-Fatihahnya.

SYARAT-SYARAT BERJAMAAH

ثم أشار المصنف لشروط القدوة بقوله (وأي موضع صلى في المسجد بصلاة الإمام فيه) أي في المسجد (وهو) أي المأموم (عالم بصلاته) أي الإمام بمشاهدة المأموم له أو بمشاهدته بعض صف (أجزأه) أي كفاه ذلك في صحة الاقتداء به (ما لم يتقدم عليه) فإن تقدم عليه بعقبه في جهته لم تنعقد صلاته، ولا تضر مساواته لإمامه، ويندب تخلفه عن إمامه قليلا ولا يصير بهذا التخلف منفردا عن الصف حتى لا يجوز فضيلة الجماعة

Kemudian mushonnif (pengarang kitab) memberi isyarat terkait syarat-syarat bermakmum dengan pernyataan beliau : Ditempat manapun, didalam masjid yang seseorang melakukan sholat mengikuti imam yang berada didalam masjid, lalu dia (makmum) mengetahui sholatnya imam dengan langsung melihatnya atau sekedar melihat sebagian shafnya, maka hal itu sudah mencukupi sahnya bermakmum kepada imam tersebut selama posisi makmum tidak mendahului imamnya.

Dan jika tumit makmum mendahului tumit imam dalam satu arah, maka sholatnya tidak sah. Namun tidak apa-apa jika tumitnya sejajar dengan tumit imamnya. Kemudian disunnahkan juga bagi seorang makmum untuk mundur sedikit dibelakang imamnya. Dan dengan posisi ini, maka dia tidak dianggap keluar dari shaf sehingga akan menyebabkannya tidak mendapatkan fadhilah sholat berjamaah.

(وإن صلى) الإمام (في المسجد والمأموم خارج المسجد) حال كونه (قريبا منه) أي الإمام بأن لم تزد مسافة ما بينهما على ثلاثمائة ذراع تقريبا (وهو) أي المأموم (عالم بصلاته) أي الإمام (ولا حائل هناك) أي بين الإمام والمأموم (جاز) الاقتداء به، وتعتبر المسافة المذكورة من آخر المسجد، وإن كان الإمام والمأموم في غير المسجد إما فضاء أو بناء، فالشرط أن لا يزيد ما بينهما على ثلاثمائة ذراع، وأن لا يكون بينهما حائل

Jika seorang imam sholat didalam masjid sedangkan makmumnya sholat diluar masjid, disaat keadaan makmum agak dekat dengan imamnya kira-kira jarak diantara keduanya tidak lebih dari tiga ratus dziro dan makmum mengetahui sholat imamnya lalu disana tidak ada penghalang, maksudnya diantara imam dan makmum, maka diperbolehkan untuk bermakmum kepada imam tersebut.

Dan jaraknya terhitung dari ujung terakhir masjid. Oleh karena itu jika imam dan makmum berada pada selain masjid, misalnya ditanah lapang atau bangunan, maka syaratnya adalah jarak diantara keduanya tidak boleh lebih dari tiga ratus dziro (kira-kira 140-145 meter). Dan diantara keduanya tidak terdapat penghalang (yang menghalangi jangkauan penglihatan).

📕 (Fathul Qarib, hlm. 92-94 Maktabah Syamilah)

Kamis, 13 Juli 2023

FATHUL QARIB - WAKTU YANG MAKRUH TAHRIM UNTUK MELAKUKAN SHOLAT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في الأوقات التي تكره الصلاة فيها تحريما كما في الروضة، وشرح المهذب هنا وتنزيها كما في التحقيق، وشرح المهذب في نواقض الوضوء

Pasal terkait waktu-waktu yang dimakruhkan melakukan sholat secara makruh tahrim (makruh yang mendekati haram) seperti keterangan didalam kitab Ar-Raudhah dan kitab Majmu' Syarah Muhadzdzab didalam bab ini. Dan makruh tanzih seperti keterangan didalam kitab At-Tahqiq dan kitab Majmu' Syarah Muhadzdzab didalam bab hal-hal yang membatalkan wudhu.

(وخمسة أوقات لا يصلي فيها إلا صلاة لها سبب) إما متقدم كالفائتة أو مقارن كصلاة الكسوف والاستسقاء، فالأول من الخمسة الصلاة التي لا سبب لها إذا فعلت (بعد صلاة الصبح) وتستمر الكراهة (حتى تطلع الشمس و) الثاني الصلاة (عند طلوعها) فإذا طلعت (حتى تتكامل وترتفع قدر رمح) في رأي العين

Ada lima waktu yang dimakruhkan (tahrim) untuk melakukan sholat pada waktu itu kecuali sholat yang memiliki sebab. Terkadang ada sebab yang terjadi sebelum pelaksanaan sholat seperti sholat yang (pernah) ditinggalkan, atau sebab yang bersamaan dengan pelaksanaan sholat seperti sholat gerhana dan sholat istisqo.

1. SETELAH SHUBUH SAMPAI MATAHARI TERBIT.

Yang pertama dari lima waktu tersebut adalah sholat yang tidak memiliki sebab disaat dikerjakan setelah sholat shubuh, dan hukum makruh (tahrim) tersebut tetap ada sampai dengan terbitnya matahari.

2. SAAT MATAHARI TERBIT.

Yang kedua adalah saat terbitnya matahari sampai keluar secara sempurna dan naik kurang lebih setinggi satu tombak sesuai dengan pandangan mata.

(و) الثالث الصلاة (إذا استوت حتى تزول) عن وسط السماء ويستثنى من ذلك يوم الجمعة، فلا تكره الصلاة فيه وقت الاستواء. وكذا حرم مكة المسجد وغيره، فلا تكره الصلاة فيه في هذه الأوقات كلها سواء صلى سنة الطواف أو غيرها (و) الرابع من (بعد صلاة العصر حتى تغرب الشمس و) الخامس (عند الغروب) للشمس إذا دنت للغروب (حتى يتكامل غروبها)

3. SHOLAT PADA WAKTU ISTIWA.

Yang ketiga adalah saat matahari tepat ditengah-tengah langit sampai bergeser (sedikit) dari tengah-tengah langit. Namun dikecualikan pada hari jum'at, maka tidak dimakruhkan melakukan sholat pada hari jum'at dengan tepat pada waktu istiwa. Begitu juga dengan daerah mekkah entah masjid atau yang lainnya, maka tidak dimakruhkan melakukan sholat disana pada semua waktu-waktu ini baik itu sholat sunnah thawaf ataupun yang lainnya.

4. SETELAH SHOLAT ASHAR.

Yang ke empat adalah setelah melakukan sholat ashar sampai terbenamnya matahari.

5. SAAT TERBENAM MATAHARI.

Dan yang ke lima adalah saat terbenamnya matahari, yaitu disaat mendekati terbenam sampai terbenam sempurna.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 91-92 Maktabah Syamilah)

FATHUL QARIB - JIKA KEFARDHUAN & KESUNNAHAN DI TINGGALKAN SAAT SHOLAT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء فرض ويسمى بالركن أيضا (وسنة وهيئة) وهما ما عدا الفرض وبين المصنف الثلاثة في قوله (فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره) أي الفرض، وهو في الصلاة أتى به وتمت صلاته أو ذكره بعد السلام (والزمان قريب أتى به وبنى عليه) ما بقي من الصلاة (وسجد للسهو) وهو سنة كما سيأتي، لكن عند ترك مأمور به في الصلاة أو فعل منهي عنه فيها

Pasal terkait sesuatu yang ditinggalkan dari sholat, itu berjumlah tiga perkara. Yaitu fardhu, yang mana ia disebut juga dengan rukun. Kemudian sunnah ab'ad serta sunnah haiat, dan yang dua ini adalah selain daripada fardhu. Kemudian mushonnif (pengarang kitab) menjelaskan ketiga hal tersebut didalam pernyataan beliau : Fardhu itu tidak bisa diganti dengan sujud sahwi.

Bahkan disaat dia ingat telah meninggalkan hal yang fardhu dan posisinya masih didalam sholat, maka wajib bagi dia untuk melakukan fardhu yang telah ditinggalkan kemudian sholatnya dianggap selesai. Atau jika ingat setelah salam dan waktunya masih sebentar (dari saat melakukan salam), maka wajib bagi dia untuk melakukan fardhu yang ditinggalkan dan meneruskan apa yang tersisa dari sholatnya kemudian (dianjurkan) melakukan sujud sahwi. Adapun sujud sahwi, itu hukumnya sunnah seperti yang akan dijelaskan. Akan tetapi hukum seperti ini adalah disaat meninggalkan perkara yang dianjurkan (seperti qunut shubuh) atau melakukan perkara yang dilarang didalam sholat.

(والسنة) إن تركها المصلي (لا يعود إليها بعد التلبس بالفرض) فمن ترك التشهد الأول مثلا فذكره بعد اعتداله مستويا لا يعود إليه فإن عاد إليه عامدا عالما بتحريمه بطلت صلاته، أو ناسياً أنه في الصلاة أو جاهلا فلا تبطل صلاته، ويلزمه القيام عند تذكره، وإن كان مأموما عاد وجوبا لمتابعة إمامه

Kemudian, sunnah ab'ad disaat ditinggalkan oleh orang yang sedang sholat, maka dia tidak diperbolehkan untuk kembali melakukannya setelah dia dalam posisi melakukan bagian fardhu. Oleh karena itu barang siapa yang semisal meninggalkan tasyahud awal, kemudian dia ingat setelah dalam posisi berdiri tegak, maka dia tidak diperbolehkan untuk kembali ke posisi tasyahud. Dan jika dia kembali ke posisi tasyahud dalam keadaan tau bahwa hal itu diharamkan, maka batal sholatnya.

Atau jika dalam keadaan lupa bahwa dia sedang melakukan sholat, atau tidak tau bahwa hal itu diharamkan, maka sholatnya tidak batal tapi harus berdiri ketika sudah ingat. Dan jika dia adalah seorang makmum, maka wajib untuk kembali ke posisi tasyahud karena untuk mengikuti imamnya.

(لكنه يسجد للسهو عنها) في صورة عدم العود أو العود ناسيا وأراد المصنف بالسنة هنا الأبعاض الستة، وهي التشهد الأول وقعوده والقنوت في الصبح، وفي آخر الوتر في النصف الثاني من رمضان والقيام للقنوت، والصلاة على النبي في التشهد الأول، والصلاة على الآل في التشهد الأخير. والهيئة كالتسبيحات ونحوها مما لا يجبر بالسجود (لا يعود) المصلي (إليها بعد تركها ولا يسجد للسهو عنها) سواء تركها عمدا أو سهوا

Akan tetapi disunnahkan baginya untuk melakukan sujud sahwi ketika dalam keadaan tidak kembali, atau kembali ke posisi tasyahud dalam keadaan lupa. Dan yang dimaksud mushonnif (pengarang kitab) dengan sunnah disini adalah sunnah-sunnah ab'ad yang berjumlah enam perkara. Yaitu tasyahud awal, duduk tasyahud awal, qunut didalam sholat shubuh dan diakhir sholat witir pada separuh bulan kedua dari bulan ramadhan, kemudian berdiri untuk melakukan qunut, dan bacaan sholawat untuk nabi didalam tasyahud awal, serta bacaan sholawat untuk keluarga nabi didalam tasyahud akhir.

Adapun sunnah haiat adalah semisal bacaan-bacaan tasbih dan sejenisnya dari kesunnahan-kesunnahan yang tidak diganti dengan sujud sahwi. Dan setelah meninggalkan sunnah-sunnah haiat ini, maka orang yang sholat tidak perlu untuk kembali melakukannya. Dan tidak perlu juga untuk melakukan sujud sahwi entah dia meninggalkannya secara sengaja ataupun karena lupa.

(وإذا شك) المصلي (في عدد ما أتى به من الركعات) كمن شك هل صلى ثلاثا أو أربعا (بنى على اليقين وهو الأقل) كالثلاثة في هذا المثال وأتى بركعة (وسجد للسهو) ولا ينفعه غلبة الظن أنه صلى أربعا، ولا يعمل بقول غيره له أنه صلى أربعا، ولو بلغ ذلك القائل عدد التواتر (وسجود السهو سنة) كما سبق (ومحله قبل السلام) فإن سلم المصلي عامدا عالما بالسهو أو ناسيا وطال الفصل عرفا فات محله، وإن قصر الفصل عرفا لم يفت وحينئذ فله السجود وتركه

Dan jika orang yang sholat merasa ragu terkait jumlah rakaat, semisal orang yang ragu apakah dia sudah melakukan tiga rakaat atau empat rakaat, maka hendaklah dia melakukan apa yang diyakininya. Yaitu jumlah terkecil seperti tiga rakaat didalam contoh ini, dan hendaknya dia menambah satu rakaat kemudian disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi.

Adapun perihal dugaan kuat bahwa dia sudah melakuan empat rakaat, maka hal itu tidak bisa dijadikan pegangan. Dan dia juga tidak diperbolehkan untuk mengikuti ucapan orang lain yang mengatakan kepadanya bahwa dia sudah melakukan empat rakaat meskipun jumlah mereka mencapai jumlah yang mutawatir (maksudnya banyak yang bilang seperti itu). Dan sujud sahwi ini hukumnya adalah sunnah sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, dan tempat melakukannya adalah sebelum salam.

Oleh karena itu jika orang yang sholat melakukan salam dengan sengaja dan tau bahwa dia disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi, atau lupa namun waktunya cukup lama menurut kebiasaan (orang setempat), maka kesunnahan untuk melakukan sujud sahwi itu sudah hilang. Namun jika waktunya masih terbilang sebentar, maka waktu untuk melakukannya tidaklah hilang dan saat itu dia diperbolehkan untuk melakukan sujud sahwi dan boleh pula tidak melakukannya.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 88-90 Maktabah Syamilah)

FATHUL QARIB - JUMLAH RAKAAT & UZUR-UZUR SHOLAT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في عدد ركعات الصلاة، (وركعات الفرائض) أي في كل يوم وليلة في صلاة الحضر إلا يوم الجمعة (سبعة عشر ركعة) أما يوم الجمعة فعدد ركعات الفرائض في يومها خمسة عشر ركعة، وأما عدد ركعات صلاة السفر في كل يوم للقاصر فإحدى عشرة ركعة

Pasal terkait jumlah rakaat sholat. Jumlah rakaat sholat fardhu, maksudnya sehari semalam ketika sholat dirumah kecuali pada hari jum'at, itu berjumlah tujuh belas rakaat. Sedangkan untuk hari jum'at, maka jumlah rakaat sholat fardhu pada hari itu adalah lima belas rakaat. Adapun jumlah rakaat sholat setiap hari saat bepergian bagi orang yang melakukan sholat qoshor, itu berjumlah sebelas rakaat.

وقوله (فيها أربع وثلاثون سجدة وأربع وتسعون تكبيرة وتسع تشهدات وعشر تسليمات ومائة وثلاث وخمسون تسبيحة وجملة الأركان في الصلاة مائة وستة وعشرون ركنا في الصبح ثلاثون ركنا وفي المغرب اثنان وأربعون ركنا وفي الرباعية أربعة وخمسون ركنا) إلى آخره ظاهر غني عن الشرح

Perkataan mushonnif (pengarang kitab) : Didalam jumlah rakaat tersebut terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat takbir, sembilan tasyahud, sepuluh salam, dan seratus lima puluh tiga tasbih. Adapun jumlah rukun didalam sholat itu berjumlah seratus dua puluh enam rukun, yaitu tiga puluh rukun didalam sholat shubuh, empat puluh dua rukun didalam sholat maghrib, dan lima puluh empat rukun didalam sholat empat rakaat. Sampai pada akhir perkataan beliau adalah sudah jelas dan tidak perlu dijelaskan ulang.

(ومن عجز عن القيام في الفريضة) لمشقة تلحقه في قيامه (صلى جالسا) على أي هيئة شاء، ولكن افتراشه في موضع قيامه أفضل من تربعه في الأظهر (ومن عجز عن الجلوس صلى مضطجعاً) فإن عجز عن الاضطجاع صلى مستلقياً على ظهره ورجلاه للقبلة

Barang siapa yang tidak mampu berdiri saat melaksanakan sholat fardhu karena ada kesulitan yang dialami saat berdiri, maka dia diperbolehkan untuk sholat dengan cara duduk sesuai posisi yang dia mau.

Akan tetapi duduk iftirosy pada waktu posisi berdiri lebih utama daripada duduk bersila menurut pendapat yang lebih unggul. Dan barang siapa yang tidak mampu duduk, maka diperbolehkan melakukan sholat dengan cara tidur miring. Namun jika tidak mampu dengan cara tidur miring, maka diperbolehkan sholat dengan terlentang diatas punggung dan kedua kakinya (tetap) menghadap kiblat.

فإن عجز عن ذلك كله أومأ بطرفه، ونوى بقلبه، ويجب عليه استقبالها بوجهه بوضع شيء تحت رأسه، ويومىء برأسه في ركوعه وسجوده، فإن عجز عن الإيماء برأسه أومأ بأجفانه

Sedangkan jika tidak mampu melakukan semua itu, maka hendaknya dia memberi isyarat dengan mata dan berniat didalam hati. Dan wajib baginya untuk menghadap kiblat dengan wajah dengan meletakkan sesuatu dibawah kepalanya serta memberi isyarat dengan kepalanya saat melakukan ruku dan sujud. Adapun jika tidak mampu memberi isyarat dengan kepala, maka hendaknya dia memberi isyarat dengan kedipan mata.

فإن عجز عن الإيماء بها أجرى أركان الصلاة على قلبه، ولا يتركها ما دام عقله ثابتا، والمصلي قاعدا لا قضاء عليه ولا ينقص أجره لأنه معذور وأما قوله : من صلى قاعدا فله نصف أجر القائم، ومن صلى نائما، فله نصف أجر القاعد، فمحمول على النفل عند القدرة

Dan jika tidak mampu memberi isyarat dengan itu semua, maka dia harus melakukan rukun-rukun sholat didalam hati. Dan tidak diperbolehkan meninggalkan sholat selama akalnya masih ada (maksudnya selama masih sadar). Dan orang yang sholat dengan posisi duduk, maka dia tidak wajib mengqodho dan pahalanya sama sekali tidak berkurang. Karena sesungguhnya orang seperti itu adalah orang memiliki uzur.

Adapun terkait sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam : Barang siapa yang melakukan sholat dengan posisi duduk, maka dia mendapatkan separuh pahala orang yang sholat dengan posisi berdiri. Dan barang siapa yang melakukan sholat dengan posisi tidur, maka dia mendapatkan separuh pahala orang yang sholat dengan posisi duduk. Hadits itu dimaksudkan untuk orang yang melakukan sholat sunnah dan dia dalam keadaan mampu (berdiri tapi melakukannya dengan cara duduk).

📕 (Fathul Qarib, hlm. 86-88 Maktabah Syamilah)

Selasa, 11 Juli 2023

FATHUL QARIB - PERKARA YANG MEMBATALKAN SHOLAT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في عدد مبطلات الصلاة (والذي يبطل به الصلاة أحد عشر شيئا الكلام العمد) الصالح لخطاب الآدميين سواء تعلق بمصلحة الصلاة أو لا. (والعمل الكثير) المتوالي كثلاث خطوات عمدا كان ذلك أو سهوا، أما العمل القليل فلا تبطل الصلاة به (والحدث) الأصغر والأكبر (وحدوث النجاسة) التي لا يعفى عنها، ولو وقع على ثوبه نجاسة يابسة، فنفض ثوبه حالا لم تبطل صلاته

Pasal terkait perkara yang membatalkan sholat, hal itu berjumlah sebelas perkara :

Yang pertama adalah berbicara secara sengaja dengan kalimat yang jelas dan biasa digunakan untuk berbicara diantara anak adam, entah itu yang berhubungan dengan kemaslahatan sholat ataupun tidak.

Yang kedua adalah gerakan (besar) yang banyak dan terus menerus seperti tiga langkahan (kaki) secara sengaja ataupun lupa, adapun gerakan yang sedikit (kurang dari tiga kali) maka tidak sampai membatalkan sholat.

Yang ketiga dan ke empat adalah berhadas kecil ataupun berhadas besar serta terkena najis yang tidak dima'fu. Adapun seandainya pakaian terkena najis kering kemudian dia langsung mengibaskan pakaiannya seketika itu juga, maka sholatnya tidak batal.

(وانكشاف العورة) عمدا فإن كشفها الريح فسترها في الحال لم تبطل صلاته (وتغيير النية) كأن ينوي الخروج من الصلاة (واستدبار القبلة) كأن يجعلها خلف ظهره (والأكل والشرب) كثيرا كان المأكول والمشروب أو قليلا إلا أن يكون الشخص في هذه الصورة جاهلا تحريم ذلك (والقهقهة) ومنهم من يعبر عنها بالضحك. (والردة) وهي قطع الإسلام بقول أو فعل

Yang ke lima adalah terbukanya aurat dengan sengaja. Adapun jika terkena tiupan angin dan sampai membuka auratnya kemudian segera ditutup seketika itu juga, maka sholatnya tidak batal.

Yang ke enam adalah merubah niat semisal berniat untuk keluar dari sholat. 

Yang ke tujuh adalah membelakangi (atau berpaling) dari kiblat semisal memposisikan kiblat dibelakang punggungnya.

Yang ke delapan dan yang ke sembilan adalah makan dan minum, entah makanan dan minuman itu banyak ataupun sedikit. Kecuali bagi orang yang tidak tau akan keharamannya hal tersebut.

Yang ke sepuluh adalah tertawa. Dan sebagian ulama mengungkapkan dengan kalimat tertawa terbahak-bahak.

Dan yang ke sebelas adalah murtad. Murtad ini maksudnya adalah memutus keislaman dengan ucapan atau perbuatan.

📕 Fathul Qarib, hlm. 85-86 Maktabah Syamilah

FATHUL QARIB - PERBEDAAN LAKI-LAKI & PEREMPUAN SAAT SHOLAT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في أمور تخالف فيها المرأة الرجل في الصلاة. وذكر المصنف ذلك في قوله (والمرأة تخالف الرجل في خمسة أشياء

Pasal terkait hal-hal yang membedakan antara perempuan dan laki-laki didalam sholat. Mushonnif (pengarang kitab) menyebut hal itu dengan pernyataan beliau : Dan perempuan berbeda dengan laki-laki pada lima perkara.

فالرجل يجافي) أي يرفع (مرفقيه عن جنبيه ويقل) أي يرفع (بطنه عن فخذيه في الركوع والسجود ويجهر في موضع الجهر) وتقدم بيانه في موضعه (وإذا نابه) أي أصابه (شيء في الصلاة سبح) فيقول: سبحان الله بقصد الذكر فقط أو مع الإعلام أو أطلق، لم تبطل صلاته أو الإعلام فقط بطلت (وعورة الرجل ما بين سرته وركبته) أما هما فليسا من العورة، ولا ما فوقهما

(Pada saat sholat), seorang laki-laki mengangkat kedua sikunya dari lambungnya, kemudian mengangkat perutnya dari kedua pahanya saat melakukan ruku dan sujud. Lalu mengeraskan suara sesuai pada tempatnya, dan hal itu sudah dijelaskan pada bab sebelumnya. 

Dan jika seorang laki-laki mengalami sesuatu pada saat sholat, maka (dianjurkan untuk) membaca tasbih yaitu mengucapkan subhanallah dengan tujuan berdzikir saja. (Hal itu jika dilakukan) bersamaan dengan tujuan memberitahu (imam yang lupa) atau dimutlakan tanpa tujuan apa-apa, maka sholatnya tidak batal. Adapun jika bertujuan hanya memberitahu saja, maka sholatnya batal.

Kemudian, auratnya seorang laki-laki adalah anggota badan diantara pusar dan lutut. Sedangkan pusar dan lutut itu sendiri bukan termasuk aurat, demikian halnya anggota diatas keduanya.

(والمرأة) تخالف الرجل في الخمسة المذكورة فإنها (تضم بعضها إلى بعض) فتلصق بطنها بفخذيها في ركوعها وسجودها (وتخفض صوتها) إن صلت (بحضرة الرجال الأجانب) فإن صلت منفردة عنهم جهرت

Adapun seorang perempuan, berbeda dengan laki-laki didalam lima hal yang telah dijelaskan diatas. Maka seorang perempuan itu menempelkan sebagian badannya dengan sebagian badannya yang lain, oleh karena itu dia menempelkan perutnya pada kedua pahanya saat ruku dan sujud.

Dan seorang perempuan memelankan suaranya saat sedang sholat didekat laki-laki lain (yang bukan mahram). Tapi disaat dia sedang sholat sendiri, maka disunnahkan untuk mengeraskan suara (ditempat yang dianjurkan untuk mengeraskan suara semisal pada sholat shubuh dan maghrib).

(وإذا نابها شيء في الصلاة صفقت) بضرب بطن اليمين على ظهر الشمال، فلو ضربت بطناً ببطن بقصد اللعب، ولو قليلا مع علم التحريم بطلت صلاتها والخنثى كالمرأة (وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها) وهذه عورتها في الصلاة أما خارج الصلاة فعورتها جميع البدن (والأمة كالرجل) فتكون عورتها ما بين سرتها وركبتها

Dan jika seorang perempuan mengalami sesuatu didalam sholat (semisal untuk mengingatkan imam), maka (dianjurkan untuk) menepuk tangannya dengan memukulkan punggung telapak tangan kanan ke punggung telapak tangan kiri. Oleh karena itu seandainya dia memukulkan telapak tangan bagian dalam ke telapak tangan bagian dalam yang satunya dengan tujuan main-main, meskipun hanya sedikit saja padahal dia tau terkait keharamannya (ketidak bolehannya), maka sholatnya batal. Kemudian, seorang khuntsa (orang yang punya dua kelamin) itu sama seperti seorang perempuan (terkait cara-cara didalam sholat).

Dan seluruh tubuh perempuan merdeka itu adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, ini adalah auratnya didalam sholat. Adapun auratnya diluar sholat adalah seluruh tubuhnya (termasuk wajah dan kedua telapak tangannya). Sedangkan seorang budak perempuan itu sama seperti halnya laki-laki didalam sholat, maka auratnya adalah anggota badan diantara pusar dan lututnya.

📕 Fathul Qarib, hlm. 83-85 Maktabah Syamilah

Senin, 10 Juli 2023

FATHUL QARIB - SUNNAH HAIAT DI DALAM SHOLAT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(وهيئاتها) أي الصلاة وأراد بهيئاتها ما ليس ركنا فيها، ولا بعضا يجبر بسجود السهو (خمسة عشر خصلة: رفع اليدين عند تكبيرة الإحرام) إلى حذو منكبيه (و) رفع اليدين (عند الركوع و) عند (الرفع منه ووضع اليمين على الشمال) ويكونان تحت صدره وفوق سرته

Sunnah haiat, yakni pada saat melakukan sholat. Yang dimaksud dengan haiat adalah bukan rukun dan bukan pula sunnah ab'ad yang (jika tidak dilakukan) maka (dianjurkan untuk) diganti dengan sujud sahwi. Sunnah haiat ini jumlahnya ada lima belas perkara :

1. Yang pertama adalah mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram hingga sejajar dengan kedua pundaknya.

2. Yang kedua adalah mengangkat kedua tangan saat hendak ruku dan bangun dari ruku.

3. Yang ke tiga adalah meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri (saat sedekap), kemudian keduanya berada dibawah dada dan diatas pusar.

(والتوجه) أي قول المصلي عقب التحرم: وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض الخ. والمراد أن يقول المصلي بعد التحرم دعاء الافتتاح هذه الآية أو غيرها مما ورد في الاستفتاح (والاستعاذة) بعد التوجه وتحصل بكل لفظ يشتمل على التعوذ، والأفضل أعوذ بالله من الشيطان الرجيم (والجهر في موضعه) وهوالصبح وأولتا المغرب والعشاء والجمعة والعيدان (والإسرار في موضعه) وهي ما عدا الذي ذكر

4. Yang ke empat adalah tawajjuh, maksudnya adalah ucapan orang yang sholat setelah takbiratul ihram lalu membaca : Wajjahtu wajhialilladzi fathoros samaawaati wal ardh dan seterusnya. Dan yang dimaksud (dengan tawajjuh) setelah takbiratul ihram adalah orang yang sholat membaca doa iftitah entah bacaan diatas atau yang lainnya dari bentuk-bentuk doa (yang berasal dari rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam).

5. Yang ke lima adalah membaca ta'awwudz setelah tawajjuh. Kesunnahan membaca ta'awwudz ini sudah bisa terpenuhi dengan setiap lafadz yang mengandung ta'awudz. Adapun yang paling utamanya bacaan ta'awwudz adalah : A'uudzu billaahi minasysyaithoonir rojiim.

6. Yang ke enam adalah mengeraskan suara sesuai pada tempatnya seperti pada saat melakukan sholat shubuh, lalu dua rakaat pertama sholat maghrib dan isya, kemudian sholat jum'at dan sholat dua hari raya.

7. Yang ke tujuh adalah memelankan suara sesuai pada tempatnya, yaitu pada selain tempat-tempat yang telah disebutkan diatas.

(والتأمين) أي قول آمين عقب الفاتحة لقارئها في صلاة وغيرها، لكن في الصلاة آكد ويؤمن المأموم مع تأمين إمامه، ويجهر به (وقراءة السورة بعد الفاتحة) لإمام ومنفرد في ركعتي الصبح وأولتي غيرها، وتكون قراءة السورة بعد الفاتحة، فلو قدم السورة عليها لم تحسب (والتكبيرات عند الخفض) للركوع

8. Yang ke delapan adalah mengucapkan aamiin setelah selesai membaca surah Al-Fatihah bagi orang yang membacanya didalam sholat dan selainya, adapun didalam sholat itu lebih dianjurkan lagi. Kemudian, seorang makmum disunnahkan juga untuk membaca aamiin bersamaan dengan bacaan aamiin imamnya dengan mengeraskan suara.

9. Yang ke sembilan adalah membaca surah setelah membaca surat Al-Fatihah bagi imam atau orang yang sholat sendiri didalam dua rakaatnya sholat shubuh dan dua rakaat pertamanya sholat lain (semisal maghrib dan isya). Membaca surah itu dilakukan setelah membaca surat Al-Fatihah, oleh karena itu seandainya seseorang mendahulukan membaca surah sebelum membaca Al-Fatihah, maka bacaan surahnya tidaklah dianggap.

10. Yang ke sepuluh adalah bacaan takbir saat turun ke posisi ruku.

(والرفع) أي رفع الصلب من الركوع (وقول سمع الله لمن حمده) حين يرفع رأسه من الركوع. ولو قال من حمد الله سمع له كفى، ومعنى سمع الله لمن حمده تقبل الله منه حمده وجازاه عليه وقول المصلي (ربنا لك الحمد) إذا انتصب قائما (والتسبيح في الركوع) وأدنى الكمال في التسبيح سبحان ربي العظيم ثلاثا (و) التسبيح في (السجود) وأدنى الكمال فيه سبحان ربي الأعلى ثلاثا والأكمل في تسبيح الركوع والسجود مشهور (ووضع اليدين على الفخذين في الجلوس) للتشهد الأول والأخير (يبسط) اليد (اليسرى) بحيث تسامت رؤوسها الركبة (ويقبض) اليد (اليمنى) أي أصابعها (إلا المسبحة) من اليمنى فلا يقبضها (فإنه يشير بها) رافعا لها حال كونه (متشهدا) وذلك عند قوله إلا الله ولا يحركها فإن حركها كره ولا تبطل صلاته في الأصح

11. Yang ke sebelas adalah mengangkat punggung dari posisi ruku. Kemudian membaca sami'allahu liman hamidah saat mengangkat kepala dari ruku. Dan seandainya orang yang sholat mengucapkan man hamadallaha sami'a lahu, maka hal itu sudah mencukupi. Dan makna ucapan tersebut adalah semoga Allah menerima pujian darinya dan memberi balasan atas pujiannya. Kemudian mengucapkan robbana lakal hamdu setelah berdiri tegak (dari ruku).

12. Yang ke dua belas adalah membaca tasbih saat ruku, dan paling minimalnya saat membaca tasbih ini adalah dengan membaca subhanarobbiyal adhziim sebanyak tiga kali.

13. Yang ke tiga belas adalah membaca tasbih saat sujud, paling minimalnya saat membaca tasbih ini adalah dengan membaca subsubhanarobbiyal a'laa sebanyak tiga kali. Dan untuk yang paling sempurna bacaan tasbih saat ruku dan sujud itu sudah masyhur.

Setelah itu kemudian meletakkan kedua tangan diatas kedua paha saat duduk tasyahud awal dan tasyahud akhir dengan membuka tangan kiri sekiranya ujung jemari sejajar dengan lutut. Lalu menggenggam tangan kanan, maksudnya adalah jemarinya, kecuali jari telunjuk tangan kanan. Tidak menggenggamnya karena dia akan menggunakannya untuk isyarat, lalu mengangkatnya pada saat mengucapkan tasyahud, yaitu ketika mengucapkan kalimat illallah. Dan jangan menggerak-gerakan jari telunjuknya, sebab jika dia menggerak-gerakannya maka hukumnya makruh. Namun tidak sampai membatalkan sholat menurut pendapat yang shohih.

(والافتراش في جميع الجلسات) الواقعة في الصلاة كجلوس الاستراحة، والجلوس بين السجدتين، وجلوس التشهد الأول، والافتراش أن يجلس الشخص على كعب اليسرى جاعلاً ظهرها للأرض، وينصب قدمه اليمنى ويضع بالأرض أطراف أصابعها لجهة القبلة (والتورك في الجلسة الأخيرة) من جلسات الصلاة، وهي جلوس التشهد الأخير والتورك مثل الافتراش، إلا أن المصلي يخرج يساره على هيئتها في الافتراش من جهة يمينه، ويلصق وركه بالأرض، أما المسبوق والساهي فيفترشان ولا يتوركان (والتسليمة الثانية) أما الأولى فسبق أنها من أركان الصلاة

14. Yang ke empat belas adalah melakukan duduk iftirosy pada semua posisi duduk yang dilakukan didalam sholat seperti duduk diantara dua sujud dan duduk tasyahud awal. Iftirosy ini maksudnya adalah seseorang yang menduduki mata kaki kirinya, kemudian memposisikan punggung kaki kirinya pada lantai, lalu menegakkan telapak kaki kanannya, dan memposisikan jemari kaki kanannya menempel pada lantai dengan menghadap ke kiblat.

Kemudian duduk tawarruk saat duduk terakhir dari duduk-duduk didalam sholat, yaitu duduk tasyahud akhir. Tawarruk ini sama dengan posisi duduk iftirosy, hanya saja disamping menetapi posisi iftirasy, maka orang yang sholat itu mengeluarkan kaki kirinya melalui arah bawah kaki kanannya dan menempelkan pantatnya ke lantai. Adapun makmum masbuk dan orang yang lupa, maka disunnahkan untuk melakukan duduk iftirasy, bukan duduk tawarruk. 

15. Yang ke lima belas adalah melakukan salam yang kedua. Adapun salam yang pertama, maka sudah dijelaskan bahwa sesungguhnya hal itu termasuk dari rukun-rukunnya sholat.

📕 Fathul Qarib, hlm. 80-83 Maktabah Syamilah

FATHUL QARIB - SUNNAH AB'AD DI DALAM SHOLAT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(و) سننها (بعد الدخول فيها شيئان التشهد الأول والقنوت في الصبح) أي في اعتدال الركعة الثانية منه، وهو لغة الدعاء وشرعا ذكر مخصوص، وهو اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت الخ

Kesunnahan (ab'ad) setelah masuknya waktu sholat itu ada dua perkara. Yang pertama adalah tasyahud awal, dan yang kedua adalah qunut pada sholat shubuh. Qunut ini dilakukan saat i'tidal rakaat kedua dari sholat shubuh.

Secara bahasa, qunut itu bermakna doa. Adapun secara syariat adalah (doa dengan) bacaan tertentu yang berbunyi : Allahummahdini fiiman hadait, wa 'aafinii fiiman 'aafait dan seterusnya.

(و) القنوت (في) آخر (الوتر في النصف الثاني من شهر رمضان) وهو كقنوت الصبح المتقدم في محله ولفظه، ولا تتعين كلمات القنوت السابقة، فلو قنت بآية تتضمن دعاء وقصد القنوت حصلت سنة القنوت

Kemudian qunut pada akhir sholat witir di separuh bulan kedua dari bulan ramadhan. Qunut pada sholat witir ini sama seperti halnya qunut pada sholat shubuh, (yaitu dilakukan saat i'tidal rakaat terakhir sholat witir) dan lafadz bacaannya pun (sama). Namun qunut itu tidak mesti harus menggunakan bacaan-bacaan qunut yang telah disebutkan diatas. Oleh karena itu seandainya seseorang melakukan qunut dengan membaca ayat Al-Qur'an yang mengandung doa lalu ditujukan untuk qunut, maka kesunnahan qunut sudah dianggap terpenuhi.

📕 Fathul Qarib, hlm. 80 Maktabah Syamilah

Catatan : 

Sunnah ab'ad adalah sunnah yang jika ditinggalkan atau lupa tidak dilakukan maka dianjurkan untuk menggantinya dengan sujud sahwi.

Minggu, 09 Juli 2023

FATHUL QARIB - KESUNNAHAN SEBELUM MELAKUKAN SHOLAT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(و) الصلاة (سننها قبل الدخول فيها شيئان الأذان) وهو لغة الإعلام وشرعا ذكر مخصوص للإعلام بدخول وقت صلاة مفروضة، وألفاظه مثنى إلا التكبير أوله فأربع، وإلا التوحيد آخره فواحد

Kesunahan-kesunahan sebelum melakukan sholat itu ada dua perkara, yang pertama adalah adzan. Secara bahasa, adzan ini artinya memberitahu. Adapun secara syariat adalah bacaan tertentu untuk memberitahukan masuknya waktu sholat fardhu. Lafadz-lafadz adzan itu dibaca dua kali, kecuali lafadz takbir pada permulannya maka dibaca empat kali. Dan dikecualikan pula lafadz tauhid pada akhir adzan, maka dibaca satu kali.

(والإقامة) وهي مصدر أقام ثم سمي به الذكر المخصوص، لأنه يقيم إلى الصلاة وإنما يشرع كل من الأذان والإقامة للمكتوبة، وأما غيرها فينادى لها الصلاة جامعة

Kemudian yang kedua adalah iqomah. Iqomah ini berasal dari kata aqoma yang kemudian dijadikan nama sebuah bacaan tertentu, karena sesungguhnya bacaan tersebut digunakan untuk melakukan sholat. Masing-masing dari adzan dan iqomah itu dilakukan untuk sholat fardhu, adapun untuk sholat yang lain maka dikumandangkan dengan kalimat Asholaatu Jaami'ah.

📕 Fathul Qarib, hlm. 79 Maktabah Syamilah

FATHUL QARIB - RUKUN SHOLAT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في أركان الصلاة. وتقدم معنى الصلاة لغة وشرعا (وأركان الصلاة ثمانية عشر ركنا) أحدها (النية) وهي قصد الشيء مقترنا بفعله ومحلها القلب، فإن كانت الصلاة فرضا وجب نية الفرضية وقصد فعلها، وتعيينها من صبح أو ظهر مثلا أو كانت الصلاة نفلا ذات وقت كراتبة أو ذات سبب كالاستسقاء، وجب قصد فعلها وتعيينه لا نية النفلية

Pasal terkait rukun-rukun sholat, dan definisi sholat secara bahasa dan istilah sudah dijelaskan pada bab sebelumnya. Rukun-rukun sholat itu ada delapan belas :

1. Yang pertama adalah niat. Niat itu bermakna menyengaja sesuatu (bersamaan) dengan melakukannya, adapun tempatnya niat adalah didalam hati. Ketika melakukan sholat fardhu maka wajib niat fardhu, lalu menyengaja melakukannya kemudian menentukan (sholatnya) semisal shubuh atau dzuhur.

Dan sholat sunnah yang memiliki waktu tertentu semisal sholat rawatib, atau sholat yang memiliki sebab seperti sholat istisqo, maka wajib menyengaja melakukan dan menentukannya, (namun) tidak wajib niat sunnah.

(و) الثاني (القيام مع القدرة) عليه فإن عجز عن القيام قعد كيف شاء، وقعوده مفترشا أفضل

2. Rukun yang kedua adalah berdiri jika mampu. Namun jika tidak mampu, maka duduk dengan posisi yang dia mau. Namun duduk iftirosy (yaitu posisi duduk didalam sholat pada saat rakaat yang pertama) adalah yang lebih utama.

(و) الثالث (تكبيرة الإحرام) فيتعين على القادر بالنطق بها بأن يقول الله أكبر، فلا يصح الرحمن أكبر ونحوه، ولا يصح فيها تقديم الخبر على المبتدإ كقوله أكبر الله، ومن عجز عن النطق بها بالعربية ترجم عنها بأي لغة شاء، ولا يعدل عنها إلى ذكر آخر، ويجب قرن النية بالتكبير، وأما النووي فاختار الاكتفاء بالمقارنة العرفية بحيث يعد عرفا أنه مستحضر للصلاة

3. Rukun yang ketiga adalah takbiratul ihram. Bagi orang yang mampu, maka wajib mengucapkan takbiratul ihram, yaitu dengan mengucapkan Allahu Akbar. Maka tidak sah jika semisal mengucapkan Ar-Rahmanu Akbar atau yang lainnya. Dan dalam takbiratul ihram juga tidak sah mendahulukan khobar sebelum mubtadanya seperti mengucapkan Akbarullah.

Lalu, barang siapa yang tidak mampu mengucapkan takbiratul ihram dengan bahasa arab, maka wajib menterjemahkannya dengan bahasa yang dia mau. Dan tidak diperbolehkan baginya untuk berpindah dari takbiratul ihram kepada bentuk dzikir yang lain (semisal subhanallah). Kemudian wajib membarengkan niat disaat melakukan takbiratul ihram. Adapun imam Nawawi, maka beliau lebih memilih (pendapat) bahwa cukup dengan hanya berbarengan secara 'urf (atau kebiasaan saja), yaitu sekira secara urf maka seseorang sudah dianggap menghadirkan sholat (didalam hati saat takbiratul ihram).

(و) الرابع (قراءة الفاتحة) أو بدلها لمن لم يحفظها فرضا كانت الصلاة أو نفلا (وبسم الله الرحمن الرحيم آية منها) كاملة ومن أسقط من الفاتحة حرفا أو تشديدة، أو أبدل حرفا منها بحرف لم تصح قراءته ولا صلاته إن تعمد، وإلا وجب عليه إعادة القراءة، ويجب ترتيبها بأن يقرأ آياتها على نظمها المعروف، ويجب أيضا موالاتها بأن يصل بعض كلماتها ببعض من غير فصل إلا بقدر التنفس، فإن تخلل الذكر بين موالاتها قطعها، إلا أن يتعلق الذكر بمصلحة الصلاة كتأمين المأموم في أثناء فاتحته لقراءة إمامه، فإنه لا يقطع الموالاة، ومن جهل الفاتحة وتعذرت عليه لعدم معلم مثلا وأحسن غيرها من القرآن، وجب عليه سبع آيات متوالية عوضا عن الفاتحة أو متفرقة فإن عجز عن القرآن أتى بذكر بدلا عنها بحيث لا ينقص عن حروفها، فإن لم يحسن قرآنا ولا ذكرا وقف قدر الفاتحة، وفي بعض النسخ وقراءة الفاتحة بعد بسم الله الرحمن الرحيم، وهي آية منها

4. Rukun yang ke empat adalah membaca surah Al-Fatihah, baik sholat fardhu ataupun sholat sunnah. Bismillahirrahmanirrahim itu merupakan satu ayat dari surah Al-Fatihah. Maka barang siapa yang tidak membaca satu huruf atau satu tasydid dari surat Al-Fatihah, atau mengganti satu huruf dengan huruf yang lain, maka bacaannya tidak sah. Begitu pula sholatnya (tidak sah) jika dilakukan dengan sengaja. Adapun jika tidak sengaja, maka wajib baginya untuk mengulangi bacaannya.

Kemudian, wajib pula membaca surah Al-Fatihah secara tertib. Yaitu dengan membaca ayat-ayatnya sesuai dengan urutan yang sudah diketahui. Dan wajib membacanya secara muwallah (atau terus menerus), yaitu sebagian kalimat-kalimat Al-Fatihah bersambung dengan sebagian yang lain tanpa ada pemisah kecuali hanya sekedar mengambil nafas. Mangkanya jika diantara muwallah terdapat pemisah dengan dzikir yang lain, maka hal itu akan memutus bacaan muwallah surat Al-Fatihah tersebut. Kecuali bacaan dzikirnya yang berhubungan dengan kemaslahatan sholat semisal bacaan Aamiin yang dilakukan oleh makmum ditengah-tengah bacaan Al-Fatihahnya karena bacaan Al-Fatihah imamnya, jika demikian maka bacaan Aamiin tersebut tidak sampai memutus muwallah.

Dan barang siapa yang tidak mengetahui atau kesulitan membaca surah Al-Fatihah semisal karena tidak ada yang mengajari, namun dia bisa membaca surah yang lain dari (surah-surah) Al-Qur'an, maka wajib baginya untuk membaca tujuh ayat secara berurutan ataupun tidak sebagai ganti dari (membaca) surah Al-Fatihah. Dan jika (misalnya dia) tidak mampu membaca Al Qur'an (seluruhnya), maka wajib baginya untuk membaca dzikir (lain) sebagai ganti dari (membaca) surah Al-Fatihah yang sekiranya huruf dzikir tersebut tidak kurang dari jumlah huruf surah Al-Fatihah.

Sedangkan jika dia tidak bisa membaca Al-Qur'an dan juga tidak bisa membaca dzikir, maka wajib baginya untuk berdiri selama kadar ukuran membaca surah Al-Fatihah. Didalam sebagian redaksi matan ada ungkapan kalimat : Dan membaca Al-Fatihah setelah bismillahirrahmanirrahim, karena basmalah adalah bagian dari surah Al-Fatihah.

(و) الخامس (الركوع) وأقل فرضه لقائم قادر على الركوع معتدل الخلقة سليم يديه وركبتيه أن ينحني بغير انخناس قدر بلوغ راحتيه ركبتيه، ولو أراد وضعهما عليهما، فإن لم يقدر على هذا الركوع انحنى مقدوره وأومأ بطرفه، وأكمل الركوع تسوية الراكع ظهره وعنقه بحيث يصيران كصفيحة واحدة، ونصب ساقيه وفخذيه وأخذ ركبتيه بيديه

5. Rukun yang ke lima adalah ruku. Paling minimal fardhunya ruku bagi orang yang melakukan sholat dengan berdiri, mampu melakukan ruku, berbadan normal serta sehat kedua tangan dan lututnya adalah dengan membungkukkan badan tanpa membusungkan dada sekiranya kedua telapak tangan bisa menggapai kedua lutut. 

Namun jika tidak mampu melakukan ruku seperti diatas, maka wajib baginya untuk membungkuk semampunya dan memberi isyarat dengan matanya. Adapun ruku yang paling sempurna adalah dengan cara melakukan ruku dengan meluruskan punggung serta lehernya yang mana keduanya itu seperti satu papan yang lurus. Lalu menegakkan kedua betisnya dan memegang kedua lututnya dengan kedua tangannya.

(و) السادس (الطمأنينة) وهي سكون بعد حركة (فيه) أي الركوع والمصنف يجعل الطمأنينة في الأركان ركنا مستقلا ومشى عليه النووي في التحقيق، وغير المصنف يجعلها هيئة تابعة للأركان

6. Rukun yang ke enam adalah tuma'ninah (didalam ruku). Tuma'ninah ini maksudnya adalah diam (sejenak) setelah bergerak (seukuran membaca subhanallah). Mushonnif (pengarang kitab) menjadikan tuma'ninah sebagai salah satuh rukun dari rukun-rukunnya sholat, dan imam Nawawi memakai pendapat ini didalam kitab At-Tahqiq. Sedangkan selain mushonnif (pengarang kitab) itu menjadikan tuma'ninah sebagai (sunnah) haiat yang menyertai (rukun) sholat.

(و) السابع (الرفع) من الركوع (والاعتدال) قائما على الهيئة التي كان عليها قبل ركوعه من قيام قادر وقعود عاجز عن القيام

7. Rukun yang ke tujuh adalah bangun dari ruku dan i'tidal (dengan) berdiri tegap sesuai keadaan sebelum ruku, yaitu berdiri bagi orang yang melakukan sholat dengan berdiri dan duduk bagi orang yang tidak mampu berdiri.

(و) الثامن (الطمأنينة فيه) أي الاعتدال

8. Rukun yang ke delapan adalah tuma'ninah didalamnya, yakni pada saat i'tidal.

(و) التاسع (السجود) مرتين في كل ركعة، وأقله مباشرة بعض جبهة المصلي موضع سجوده من الأرض أو غيرها، وأكمله أن يكبر لهويه للسجود بلا رفع يديه، ويضع ركبتيه ثم يديه ثم جبهته وأنفه

9. Rukun yang ke sembilan adalah sujud dua kali didalam setiap rakaat. Minimalnya sujud ini adalah dengan menempelkan sebagian kening orang yang sholat ke tempat sujudnya entah itu tanah atau yang lainnya (semisal sajadah). Adapun sujud yang paling sempurna adalah membaca takbir tanpa mengangkat kedua tangan ketika turun ke posisi sujud, lalu meletakkan kedua lutut dan kedua tangan, kemudian kening serta hidungnya.

(و) العاشر (الطمأنينة فيه) أي السجود بحيث ينال موضع سجوده ثقل رأسه، ولا يكفي إمساس رأسه موضع سجوده، بل يتحامل بحيث لو كان تحته قطن مثلا لانكبس، وظهر أثره على يد لو فرضت تحته

10. Rukun yang ke sepuluh adalah tuma'ninah didalam sujud sekiranya kepala mengenai tempat sujudnya, dan tidak cukup hanya menyentuhkan kepalanya ke tempat sujudnya. Bahkan harus agak menekannya (sedikit) semisal jika ada kapas dibawah kepalanya, niscaya akan tertekan dan bebannya itu akan terasa diatas tangan seandainya jika diletakkan dibawahnya.

(و) الحادي عشر (الجلوس بين السجدتين) في كل ركعة سواء صلى قائما أو مضطجعا، وأقله سكون بعد حركة أعضائه، وأكمله الزيادة على ذلك بالدعاء الوارد فيه، فلو لم يجلس بين السجدتين، بل صار إلى الجلوس أقرب لم يصح

11. Rukun yang ke sebelas adalah duduk diantara dua sujud pada setiap rakaat, entah itu saat dengan cara sholat berdiri, duduk ataupun tidur miring. Minimalnya duduk diantara dua sujud ini adalah dengan diam (sebentar) setelah menggerakkan anggota-anggota badannya, adapun yang paling sempurnanya adalah dengan menambahi ukuran tersebut dengan doa yang berasal dari (nabi shallallahu 'alaihi wasallam) saat melakukannya (semisal robbighfirlii, warhamni dan seterusnya).

Oleh karena itu seandainya dia tidak duduk diantara dua sujud, bahkan posisinya hanya lebih dekat pada posisi duduk, maka duduk yang dilakukannya tersebut tidak sah.

(و) الثاني عشر (الطمأنينة فيه) أي الجلوس بين السجدتين

12. Rukun yang ke dua belas adalah tuma'ninah disaat duduk diantara dua sujud.

(و) الثالث عشر (الجلوس الأخير) أي الذي يعقبه السلام

13. Rukun yang ke tiga belas adalah duduk yang terakhir, yakni duduk yang diiringi dengan salam.

(و) الرابع عشر (التشهد فيه) أي الجلوس الأخير

14. Rukun yang ke empat belas adalah tasyahud disaat duduk yang terakhir.

(و) الخامس عشر (الصلاة على النبي فيه) أي الجلوس الأخير بعد الفراغ من التشهد، وأقل الصلاة على النبي اللهم صل على محمد، وأشعر كلام المصنف أن الصلاة على الآل لا تجب وهو كذلك بل هي سنة

15. Rukun yang ke lima belas adalah membaca sholawat untuk nabi shallallahu 'alaihi wasallam didalamnya, yakni disaat duduk yang terakhir setelah membaca tasyahud. Minimal bacaan sholawat untuk beliau adalah Allahumma sholli 'alaa Muhammad. Kemudian, pernyataan mushonnif (pengarang kitab) memberitahukan bahwasanya membaca sholawat untuk keluarga nabi itu tidak wajib. Dan memang seperti itu hukumnya, bahkan hukumnya adalah sunnah.

(و) السادس عشر (التسليمة الأولى) ويجب إيقاع السلام حال القعود وأقله السلام عليكم مرة واحدة، وأكمله السلام عليكم ورحمة الله مرتين يمينا وشمالاً

16. Rukun yang ke enam belas adalah membaca salam pertama, dan wajib mengucapkan salam dalam posisi duduk. Minimal bacaan salam ini adalah Assalamu'alaikum satu kali, adapun bacaan salam yang paling sempurnanya adalah Assalamu'alaikum warohmatulloh dua kali, yaitu ke kanan dan ke kiri.

(و) السابع عشر (نية الخروج من الصلاة) وهذا وجه مرجوح وقيل لا يجب ذلك، أي نية الخروج وهذا الوجه هو الأصح

17. Rukun yang ke tujuh belas adalah niat keluar dari sholat, namun ini merupakan pendapat yang lemah. Dan ada yang mengatakan bahwa niat keluar dari sholat itu hukumnya tidak wajib, maka inilah pendapat yang shohih.

(و) الثامن عشر (ترتيب الأركان) حتى بين التشهد الأخير والصلاة على النبي فيه وقوله (على ما ذكرناه) يستثنى منه وجوب مقارنة النية لتكبيرة الإحرام ومقارنة الجلوس الأخير للتشهد والصلاة على النبي

18. Rukun yang ke delapan belas adalah melakukan rukun-rukun sholat secara tertib sampai diantara tasyahud yang terakhir dan bacaan sholawat untuk nabi shallallahu 'alaihi wasallam disaat tasyahud terakhir.

Pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Sesuai dengan apa yang aku jelaskan, maka dikecualikan kewajiban membarengkan niat dengan takbiratul ihram, kemudian membarengkan duduk terakhir dengan tasyahud serta bacaan sholawat untuk nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

📕 Fathul Qarib, hlm. 75-79 Maktabah Syamilah

🔄 Bersambung...

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...