Rabu, 20 Desember 2023

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفسادا وأما الجماع، فيفسد الحج قبل التحلل الأول بعد الوقوف أو قبله، أما بعد التحلل الأول فلا يفسد (إلا عقد النكاح) فإنه لا ينعقد (ولا يفسده إلا الوطء في الفرج) بخلاف المباشرة في غير الفرج فإنها لا تفسده (ولا يخرج) المحرم (منه بالفساد) بل يجب عليه المضي في فاسده وسقط في بعض النسخ قوله في فاسده، أي النسك من حج أو عمرة بأن يأتي ببقية أعماله (ومن) أي والحاج الذي (فاته الوقوف بعرفة) بعذر أو غيره (تحلل) حتما (بعمل عمرة) فيأتي بطواف وسعي إن لم يكن سعى بعد طواف القدوم، وعليه أي الذي فاته الوقوف (القضاء) فورا فرضا كان نسكه أو نفلاً، وإنما يجب القضاء في فوات لم ينشأ عنه حصر، فإن أحصر شخص، وكان له طريق غير التي وقع الحصر فيها لزمه سلوكها، وإن علم الفوات، فإن مات لم يقض عنه في الأصح (و) عليه مع القضاء (الهدي) ويوجد في بعض النسخ زيادة وهي ومن ترك ركنا) مما يتوقف عليه الحج (لم يحل من إحرامه حتى يأتي به) ولا يجبر ذلك الركن بدم (ومن ترك واجبا) من واجبات الحج (لزمه الدم) وسيأتي بيان الدم (ومن ترك سنة) من سنن الحج (لم يلزمه بتركها شيء) وظهر من كلام المتن الفرق بين الركن والواجب والسنة

Jima seperti yang telah dijelaskan sebelumnya itu bisa merusak ibadah umroh yang disendirikan. Adapun umroh yang berada didalam kandungan haji Qiran, maka hukumnya mengikuti haji entah sah ataupun rusaknya. Sedangkan jima, itu bisa merusak haji saat dilakukan sebelum tahallul awal entah setelah wukuf ataupun sebelumnya. Sementara jima yang dilakukan setelah tahallul awal, maka tidak sampai merusak status haji.

Namun dikecualikan untuk akad nikah, karena sesungguhnya akad nikah yang dilakukan tidaklah sah. Dan haji tidak bisa rusak kecuali dengan wathi (jima) pada bagian farji. Berbeda halnya dengan bersentuhan pada bagian selain farji, maka hal tersebut tidak sampai merusak status haji.

Kemudian, orang yang sedang ihram tidak diperbolehkan untuk keluar dari ihramnya disebabkan ihramnya telah rusak, bahkan wajib baginya untuk meneruskan amaliyah ihramnya yang telah berstatus rusak tersebut. Didalam sebagian redaksi matan kitab tidak dicantumkan pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Didalam ihramnya yang rusak, maksudnya ibadah haji atau umroh dengan cara melaksanakan amaliyah-amaliyah yang masih tersisa.

Lalu barang siapa yang melaksanakan ihram haji dan ketinggalan wukuf di Arafah sebab uzur atau tanpa uzur, maka wajib baginya untuk tahallul dengan melaksanakan amaliyah umroh. Oleh karena itu dia melakukan thowaf dan sa'i jika memang belum sa'i setelah thowaf Qudum. Dan bagi dia, maksudnya orang yang ketinggalan wukuf di Arafah itu wajib untuk segera mengqodhonya entah hajinya fardhu atau sunnah.

Dan qodho hanya wajib dilakukan didalam permasalahan ketinggalan wukuf yang tidak disebabkan oleh hasr (tercegah). Sedangkan jika seseorang tercegah untuk melakukan perjalanan namun dia masih bisa melewati jalan selain jalan yang terjadi pencegahan, maka wajib baginya untuk melewati jalan tersebut meskipun tau bahwa dia tetap akan ketinggalan wukuf. Dan jika misalnya dia meninggal dunia, maka tidak wajib diqodhoi oleh orang lain menurut pendapat yang shohih. Bagi dia (yakni orang yang ketinggalan wukuf), disamping mengqodho juga wajib membayar hadyah (menyembelih kambing).

Didalam sebagian redaksi matan kitab telah ditemukan keterangan tambahan. Yakni barang siapa yang meninggalkan rukun-rukun yang menjadi penentu sahnya haji, maka dia tidak bisa berstatus halal atau lepas dari ihramnya sehingga dia melaksanakan rukun tersebut. Dan rukun tersebut tidak bisa digantikan dengan dam.

Sedangkan barang siapa yang meninggalkan kewajiban dari kewajiban-kewajiban haji, maka wajib membayar dam. Dan untuk masalah damnya akan dijelaskan pada bab selanjutnya. Kemudian barang siapa yang meninggalkan kesunnahan dari kesunnahan-kesunnahan haji, maka dia tidak berkewajiban apa-apa sebab meninggalkan kesunnahan tersebut. Nah dari ungkapan matan kitab diatas, telah jelas perbedaan antara rukun, wajib dan sunnah.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 156-157 Maktabah Syamilah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...