Seseorang akan bisa disebut dan dianggap sebagai “ustadz” atau “ustadzah” yang dalam arti sudah layak untuk mengajarkan ilmu agama, entah itu dalam bentuk menyampaikan ilmu dimajelis ta'lim, via tulisan, menjawab pertanyaan dan membuat kesimpulan-kesimpulan hukum serta menyebarkannya, itu setidaknya harus memiliki empat syarat :
1. Pernah mondok dipesantren minimal lima tahun. Karena dipondok pesantren, selain akan mempelajari berbagai cabang keilmuan seperti ilmu alat, ilmu ushul dan ilmu lainnya itu juga akan menjadi ajang untuk menimba pengalaman hidup. Disana seseorang akan merasakan bagaimana beratnya meninggalkan tanah kelahiran, kemudian jauh dari keluarga dan berbagai kesulitan serta kesederhanaan yang ada didalamnya. Entah itu mulai dari makanan, minuman, tidur, dan lain sebagainya. Semua ini selain akan membentuk kemapanan dari sisi keilmuan juga akan membentuk kepribadian yang baik bagi pelakunya.
2. Harus benar-benar memahami dan menguasai bahasa arab, khususnya ilmu nahwu dan shorof sebagai media untuk membaca dan memahami kitab-kitab warisan para ulama. Sebagai contoh kalimat “Alhamdulillah”, itu bukan sekedar menerjemahkan dengan arti “Segala puji bagi Allah”, tapi mampu juga untuk memaknainya dengan detail, yaitu “Segala pujian dengan seluruh kesempurnaan hanya untuk Allah diatas bentuk pengagungan kepadanya.” Nah kalau sekedar mengandalkan kemampuan muhaddatsah (berbicara dengan bahasa arab saja), maka hal itu belum mencukupi.
3. Memiliki kemampuan dalam memahami Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan disiplin ilmu alat yang digunakan untuk memahami keduanya, ditambah lagi dengan penjelasan para ulama yang memiliki kapasitas dibidang tersebut. Terutama para ulama pendahulu seperti imam Ramli, imam Rafi'i, imam Nawawi, imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan lain sebagainya. Dengan demikian, berbagai makna dan hukum yang mustambathoh (dipetik) dari keduanya itu akan lebih akurat sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah dan rasulnya.
4. Dan syarat yang terakhir adalah syarat yang paling unik, yaitu mampu untuk menta'liq (menyusun catatan tambahan) dengan tulisan miring dalam memaknai teks-teks bahasa arab. Entah itu berupa teks Al-Qur'an, sunnah, atau kitab-kitab para ulama dengan makna yang benar dan detail. Dan telah mewakili maksud yang diinginkan dari teks tersebut tanpa memenuhi ruang kosong yang tersedia pada suatu halaman kitab. Tradisi ini merupakan salah satu keistimewaan yang ada dipesantren-pesantren tanah jawa, yang mana di negeri arab sendiri pun tradisi seperti ini tidak akan ditemukan. Dan yang paling penting, kemampuan seperti ini tidak bisa didapatkan secara spontan atau otodidak, tapi harus dengan cara diasah dan dilatih dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Maka apa jadinya jika ada orang yang tiba-tiba muncul, padahal tidak jelas dia belajarnya dimana, gurunya siapa dan bagaimana kualitas keilmuannya, lalu dengan percaya dirinya muncul sebagai ustadz atau ustadzah dikhalayak masyarakat. Tapi mirisnya, fenomena semacam ini adalah fenomena yang sering terlihat entah itu didunia nyata maupun disosial media.
Oleh karena itu, dengan adanya standardisasi seorang ustadz atau ustadzah seperti ini, maka saya kira akan sangat besar sisi positifnya. Dan pembahasan seputar keagamaan dalam berbagai bentuk baik itu dengan cara menulis, menjawab pertanyaan, mengajar, ceramah, dan yang lain sebagainya itu hanya akan dikembalikan kepada mereka yang telah memenuhi standar. Dan bagi yang belum memenuhi standar, hendaknya menahan diri dan sadar diri dalam keadaan terus berusaha untuk belajar, maka hal itu lebih baik dan lebih bijak.
Jika hal ini bisa terlealisasi, maka insyaa Allah berbagai kerusakan dan kegaduhan yang muncul dalam dunia keilmuan itu akan dapat diminimalisir, karena yang berbicara mengenai perkara-perkara agama hanya akan terbatas pada orang-orang yang nyata keilmuannya saja.
Mangkanya bagi siapapun itu harus teliti, jeli dan selektif saat mengambil ilmu agama. Karena konsekuensi dari lalainya seseorang saat mengambil ilmu agama itu akan sangat besar resikonya.
Al-Imam Malik rahimahullah berkata :
ุฅู ูุฐุง ุงูุนูู ูู ูุญู ู ูุฏู ู ูุนูู ุชุณุฃู ููู ุงูููุงู ุฉ، ูุงูุธุฑ ุนู ู ุชุฃุฎุฐู
“Sesungguhnya ilmu ini adalah darah dan dagingmu, dan pada hari kiamat nanti engkau ditanya terkait (darimana dan dari siapa mengambilnya). Maka perhatikanlah (dan telitilah) dari siapa engkau mengambilnya” (Al-Kifayah Fii Ilmil Riwayah, hlm. 21)
Demikianlah, semoga bermanfaat.
ูุงููู ุฃุนูู ุจุงููุตููุงุจ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar