Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :
(ولا يخرج) المعتكف (من الاعتكاف المنذور إلا لحاجة الإنسان) من بول وغائط وما في معناهما كغسل جنابة (أو عذر من حيض) أو نفاس فتخرج المرأة من المسجد لأجلهما (أو) عذر من (مرض لا يمكن المقام معه) في المسجد بأن كان يحتاج لفرش وخادم وطبيب، أو يخاف تلويث المسجد كإسهال وإدرار بول، وخرج بقول المصنف لا يمكن الخ بالمرض الخفيف كحمى خفيفة، فلا يجوز الخروج من المسجد بسببها، (ويبطل) الاعتكاف (بالوطء) مختارا ذاكرا للاعتكاف عالما بالتحريم. وأما مباشرة المعتكف بشهوة فتبطل اعتكافه إن أنزل وإلا فلا
Orang yang melakukan i'tikaf nadzar, itu tidak diperbolehkan untuk keluar dari i'tikafnya kecuali karena ada hajat kemanusiaan seperti buang air kecil, buang air besar, dan hal-hal yang serupa dengan keduanya seperti untuk mandi janabah. Atau jika terkena udzur syar'i seperti haid atau nifas, oleh karena itu seorang perempuan harus keluar dari masjid sebab mengalami haid dan nifas. Atau juga karena udzur seperti sakit yang tidak mungkin berdiam diri didalam masjid.
Semisal ketika seseorang butuh terhadap tikar, pelayan, dan juga dokter. Atau karena dia khawatir akan mengotori masjid seperti sedang sakit diare atau beser. Adapun pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Tidak mungkin bertempat dimasjid hingga akhir pernyataan beliau, maka itu dikecualikan untuk sakit yang ringan seperti demam sedikit. Jika demikian maka tidak diperbolehkan untuk keluar dari masjid disebabkan sakit tersebut.
Kemudian, i'tikaf akan menjadi batal sebab melakukan wathi (jima) atas keinginan sendiri dalam keadaan sadar bahwa dirinya sedang melakukan i'tikaf dan juga mengetahui akan keharamannya. Adapun (hanya sekedar) bersentuhan kulit disertai syahwat yang dilakukan oleh orang yang sedang melakukan i'tikaf, maka akan membatalkan i'tikafnya jika dia sampai mengeluarkan sperma. Sedangkan jika tidak maka tidak sampai membatalkan i'tikafnya.
📕 (Fathul Qarib, hlm. 143 Maktabah Syamilah)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar