Kamis, 16 Februari 2023

APAKAH USAHA & DOA BISA MERUBAH TAKDIR?


Didalam ilmu akidah, takdir adalah istilah yang merujuk pada qodho atau keputusan Allah yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz sejak sebelum dunia diciptakan. Allah menyinggung hal ini dalam banyak ayat, misalnya :

ما أصاب من مصيبة في الأرض ولا في أنفسكم إلا في كتاب من قبل أن نبرأها إن ذلك على الله يسير   

“Setiap bencana yang menimpa dibumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya itu telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu sangat mudah bagi Allah” (Qs. Al-Hadid : 22) 

Jika demikian, maka bisakah manusia merubah takdir dengan doa dan usahanya sendiri? Jawaban pertanyaan ini sebenarnya tidak ada, tidak bisa dijawab dengan ya atau tidak sebab pertanyaan ini bermasalah. Pertanyaan ini muncul dari asumsi seolah ada usaha atau tindakan didunia ini yang tidak tercatat sebagai takdir di Lauhul Mahfudz, sehingga hendak dipertentangkan dengan catatan yang ada di Lauhul Mahfudz. Seolah-olah yang bertanya ingin membenturkan antara usaha manusia disatu sisi dengan takdir disisi yang lain. 

Padahal kejadiannya tidaklah demikian. Karena usaha manusia entah itu berupa tindakan, pilihan atau doa yang dipanjatkan, semuanya adalah kejadian yang telah tertulis rapih di Lauhul Mahfudz sebagaimana yang telah disinggung dalam ayat diatas. Sama sekali tidak ada kejadian apapun yang tidak terekam disana.

Jadi, semisal ketika seorang manusia dengan pilihan sadarnya berusaha keras agar kemiskinannya berubah menjadi kekayaan dan hal itu berhasil dia lakukan, maka sebenarnya dia tidak merubah sedikit pun takdirnya. Takdirnya bukanlah miskin kemudian dilawan hingga berubah menjadi kaya, akan tetapi takdirnya adalah dia miskin lalu berusaha keras dan menjadi kaya. Dengan demikian, sangat tidak relevan sama sekali menanyakan apakah usaha dan doa bisa merubah takdir, sebab usaha dan doa itu sendiri adalah bagian daripada takdir.

Kemudian, terkait kesalah fahaman sebagian orang mengenai hadits ‘jika menyambung silaturahim maka akan dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya’. Inipun sama, seseorang yang dengan kesadaran akalnya semisal bersilaturahim kepada kerabatnya lalu rezekinya melimpah, nah sebetulnya dia tidak merubah takdirnya sama sekali dengan cara bersilaturahim. Akan tetapi takdirnya adalah pada saat itu dia bersilaturahim, kemudian setelah itu bertemu dengan takdir yang selanjutnya yaitu mendapatkan rezeki yang melimpah. Jadi dalam pandangan atau pengetahuan Allah, sebenarnya lapangnya rezeki seseorang itu bukan berubah karena bersilaturahim. Namun dalam pandangan manusia memang terlihat seolah berubah dengan bersilaturahim. Namun yang jelas, catatan takdir yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz itu tidak akan mengalami perubahan sama sekali.

Oleh sebab itulah dalam sebuah hadits diceritakan jawaban Rasulullah ﷺ terhadap orang yang bertanya apakah berobat dengan cara ruqyah bisa menolak takdir? Berikut ini haditsnya :

يا رسول الله، أرأيت رقى نسترقي بها، هل ترد من قدر الله شيئا؟ فقال: هي من قدر الله   

“Wahai Rasulullah, bagaimana pandanganmu mengenai ruqyah yang kami lakukan, apakah ia bisa menolak takdir Allah? Rasulullah ﷺ kemudian menjawab: Ruqyah adalah bagian daripada takdir” (HR.Tirmidzi : 2148)

Nah demikianlah, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...