Saudaraku wahai ahli iman, silaturahim memang sudah tidak aneh terdengar ditelinga kita, namun apakah setiap orang memahami makna yang terkandung dari silaturahim itu sendiri? Istilah silaturahim ditengah-tengah masyarakat kita sering diartikan sebagai kegiatan kunjung-mengunjungi, saling bertegur sapa, saling menolong, dan saling berbuat kebaikan. Namun, sesungguhnya bukan itu makna silaturahim yang sebenarnya.
Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahim itu sendiri, yaitu shilat atau washl yang artinya menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahim yang berarti kasih sayang. Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung, dan menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali.
Nabi ﷺ bersabda :
“Bukanlah yang disebut silaturahim itu seorang yang membalas hubungan kebaikan, akan tetapi (yang disebut) silaturahim itu adalah jika suadaranya memutuskan hubungan, maka dia menyambungnya”
📚 (Shohih Muttafaqun 'Alaih)
Nah maka dari itu, jika orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang tinggi dan keluasan hati. Boleh jadi kita melakukannya karena merasa malu atau merasa berhutang budi kepada orang tersebut. Berbeda halnya jika ada orang yang tidak pernah bersilaturahim kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya walau harus menempuh jarak yang jauh dan melelahkan misalnya, maka inilah yang disebut silaturahim.
Apalagi jika kita bersilaturahim kepada orang yang membenci kita, seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya, maka inilah silaturahim yang sebenarnya sebagaimana yang baginda nabi sebutkan pada hadits diatas. Dan letak keistimewaannya pun disitu, yaitu keluasan hati dan aspek mental yang tinggi serta akhlak mulia. Karena jika tidak demikian, mana mau seseorang melakukan silaturahim terhadap orang yang membencinya.
Nah saudaraku, itulah makna atau hakikat silaturahim yang sebenarnya. Semoga Allah mengampuni kita semua, semoga tetap terjaga ukhuwah islamiyah diantara kita sebagai sesama umat baginda nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
والله أعلم بالـصـواب
Tidak ada komentar:
Posting Komentar