Selasa, 28 Februari 2023

MAKNA ALLAH TURUN PADA SEPERTIGA MALAM


Sudah ma'lum didalam akidah ahlussunnah wal jama'ah bahwasanya Allah itu maha suci daripada sifat-sifat makhluk, dan af'al Allah tidaklah sama dengan af'alnya makhluk. Oleh karena itu jika ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa Allah turun, maka jangan dikatakan bahwa turunnya Allah itu sama sebagaimana turunnya manusia yakni dari atas ke bawah melalui pergerakan jisim. Dan maha suci Allah dari hal-hal semacam itu.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

ูŠู†ุฒู„ ุฑุจู†ุง ุชุจุงุฑูƒ ูˆุชุนุงู„ู‰ ููŠ ูƒู„ ู„ูŠู„ุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู…ุงุก ุงู„ุฏู†ูŠุง ุญูŠู† ูŠุจู‚ู‰ ุซู„ุซ ุงู„ู„ูŠู„ ุงู„ุขุฎุฑ ููŠู‚ูˆู„ ู…ู† ูŠุฏุนูˆู†ูŠ ูุฃุณุชุฌูŠุจ ู„ู‡ ู…ู† ูŠุณุฃู„ู†ูŠ ูุฃุนุทูŠู‡ ู…ู† ูŠุณุชุบูุฑู†ูŠ ูุฃุบูุฑ ู„ู‡

“Robb kita tabaaroka wa ta'ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir kemudian berfirman: Barang siapa yang berdoa kepadaku, maka akan aku kabulkan. Barang siapa yang meminta kepadaku, maka akan aku berikan. Dan barang siapa yang memohon ampun kepadaku, maka akan ampuni” (Shohih Muttafaqun 'Alaih)

Hadits ini termasuk hadits mutawatir yang tidak diragukan lagi keshohihannya, dan mayoritas ulama juga mengatakan bahwasanya hadits ini termasuk hadits mutasyabihat yang samar maknanya. Para ulama dari kalangan salaf dan kholaf berbeda pendapat saat bertemu hadits ini, kebanyakan dari kalangan salaf menggunakan metode tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah dan tidak membahasnya, namun cukup diimani saja sesuai dengan nashnya). Sementara sebagian ulama salaf ada juga yang menggunakan metode takwil saat memaknainya.

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata :

ู‚ูˆ๏ปŸ๏ปช ๏ปณ๏ปจ๏บฐ๏ป ๏บญ๏บ‘๏ปจ๏บŽ ๏บ‡๏ปŸ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏บด๏ปค๏บŽ๏บ€ ๏บ๏ปŸ๏บช๏ปง๏ปด๏บŽ ุง๏บณ๏บ˜๏บช๏ป ๏บ‘๏ปช ๏ปฃ๏ปฆ ๏บƒ๏บ›๏บ’๏บ– ๏บ๏ปŸ๏บ ๏ปฌ๏บ” ๏ปญ๏ป—๏บŽ๏ป ู‡ูŠ ๏บŸ๏ปฌ๏บ” ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏ป ๏ปฎ، ๏ปญ๏บƒ๏ปง๏ปœ๏บฎ ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏บ๏ปŸ๏บ ๏ปค๏ปฌ๏ปฎ๏บญ ู„ุฃ๏ปฅ ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏ปฎ๏ป ๏บ‘๏บฌ๏ปŸ๏ปš ๏ปณ๏ป”๏ป€๏ปฒ ๏บ‡๏ปŸ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏บ˜๏บค๏ปด๏บฐ ุชุนุง๏ปŸ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ปฆ ๏บซ๏ปŸ๏ปš

“Hadits robb kita turun ke langit dunia dijadikan dalil oleh (sebagian) orang yang menetapkan Allah itu berarah, dia berkata: Allah berada diketinggian (atas). Akan tetapi perkataan seperti itu diingkari oleh mayoritas ulama, karena mengatakan allah diatas itu berarti (seolah) dia berada pada ruang. Maka maha suci Allah dari hal semacam itu”

Lanjutan keterangan diatas:

ูˆู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ููŠ ู…ุนู†ู‰ ุงู„ู†ุฒูˆู„ ุนู„ู‰ ุฃู‚ูˆุงู„: ูู…ู†ู‡ู… ู…ู† ุญู…ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุธุงู‡ุฑู‡ ูˆุญู‚ูŠู‚ุชู‡، ูˆู‡ู… ุงู„ู…ุดุจู‡ุฉ ุชุนุงู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู† ู‚ูˆู„ู‡ู…. ูˆู…ู†ู‡ู… ู…ู† ุฃู†ูƒุฑ ุตุญุฉ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ููŠ ุฐู„ูƒ ุฌู…ู„ุฉ، ูˆู‡ู… ุงู„ุฎูˆุงุฑุฌ ูˆุงู„ู…ุนุชุฒู„ุฉ. ูˆู‡ูˆ ู…ูƒุงุจุฑุฉ ูˆุงู„ุนุฌุจ ุฃู†ู‡ู… ุฃูˆู„ูˆุง ู…ุง ููŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู…ู† ู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ، ูˆุฃู†ูƒุฑูˆุง ู…ุง ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฅู…ุง ุฌู‡ู„ุง ูˆุฅู…ุง ุนู†ุงุฏุง. ูˆู…ู†ู‡ู… ู…ู† ุฃุฌุฑุงู‡ ุนู„ู‰ ู…ุง ูˆุฑุฏ ู…ุคู…ู†ุง ุจู‡ ุนู„ู‰ ุทุฑูŠู‚ ุงู„ุฅุฌู…ุงู„ ู…ู†ุฒู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู† ุงู„ูƒูŠููŠุฉ ูˆุงู„ุชุดุจูŠู‡ ูˆู‡ู… ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุณู„ู

“Dan telah terjadi perbedaan pada makna (turunnya Allah) menjadi beberapa pendapat. Diantara mereka ada yang membawanya pada makna dzohir dan hakikatnya, mereka adalah kelompok musyabbihah (kelompok yang meyerupakan Allah dengan makhluk), maka maha suci Allah dari perkataan mereka. Diantara mereka ada juga yang mengingkari keshohihan hadits tersebut dengan redaksi seperti itu, mereka adalah kelompok khawarij dan mu'tazilah, mereka itu adalah pengingkar. Namun yang aneh adalah mereka mentakwilkan apa yang ada didalam Al-Qur'an dengan yang semisal itu namun mengingkari apa yang ada pada hadits itu, entah karena tidak tau atau karena memang sengaja menentang. Dan diantara mereka ada juga yang mengimani terkait apa yang disebutkan (pada hadits itu) secara keseluruhan dengan mensucikan Allah dari kaifiyat (cara) dan tasybih (penyerupaan), mereka adalah mayoritas ulama salaf”

Masih lanjutan dari keterangan diatas :

ู‚ุงู„ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: ูˆุฃุณู„ู…ู‡ุง ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจู„ุง ูƒูŠู ูˆุงู„ุณูƒูˆุช ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠุฑุฏ ุฐู„ูƒ ุนู† ุงู„ุตุงุฏู‚ ููŠุตุงุฑ ุฅู„ูŠู‡. ู…ู† ุงู„ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุงุชูุงู‚ู‡ู… ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุชุฃูˆูŠู„ ุงู„ู…ุนูŠู† ุบูŠุฑ ูˆุงุฌุจ، ูุญูŠู†ุฆุฐ ุงู„ุชููˆูŠุถ ุฃุณู„ู…

“Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata: Yang paling selamat adalah mengimani (hadits itu) tanpa menanyakan bagaimana (maknanya), dan diam dari (membahasnya) kecuali jika ada (penjelasan melalui) riwayat dari Ash-Shaddiq (Rasulullah) mengenai hal itu. Diantara dalilnya adalah kesepakatan mereka (yang mengatakan) bahwasanya takwil mu'ayyan (ta'wil untuk menetapkan karakteristik tertentu) tidaklah wajib. Oleh karena itu tafwidh (yakni menyerahkan maknanya kepada Allah tanpa membahas dan menanyakan bagaimana maknanya) itu lebih selamat” (Fathul Bari Syarah Shohih Bukhari : 6/136)

Masih didalam kitabnya imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, juga disebutkan :

ูˆู„ู…ุง ุซุจุช ุจุงู„ู‚ูˆุงุทุน ุฃู†ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ู…ู†ุฒู‡ ุนู† ุงู„ุฌุณู…ูŠุฉ ูˆุงู„ุชุญูŠุฒ ุงู…ุชู†ุน ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู†ุฒูˆู„ ุนู„ู‰ ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุงู†ุชู‚ุงู„ ู…ู† ู…ูˆุถุน ุฅู„ู‰ ุขุฎุฑ ุฃุฎูุถ ู…ู†ู‡، ูุงู„ู…ุฑุงุฏ ู†ูˆุฑ ุฑุญู…ุชู‡   

“Dan sudah tetap dalil-dalil yang qoth'i untuk membantah bahwasanya Allah itu maha suci dari sifat jismiyyah dan sifat batasan, yang mana tidak mungkin lafadz turun dimaknai sebagai pergerakan dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih rendah. Oleh karena itu yang dimaksud turun itu adalah turunnya cahaya rahmat (kasih sayang)” (Fathul Bari Syarah Shohih Bukhari : 3/36)

Kemudian :

ุงู„ู†ุฒูˆู„ ู…ุญุงู„ ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ู„ุงู† ุญู‚ูŠู‚ุชู‡ ุงู„ุญุฑูƒุฉ ู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ุนู„ูˆ ุฅู„ู‰ ุงู„ุณูู„ ูˆู‚ุฏ ุฏู„ุช ุงู„ุจุฑุงู‡ูŠู† ุงู„ู‚ุงุทุนุฉ ุนู„ู‰ ุชู†ุฒูŠู‡ู‡ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ูู„ูŠุชุฃูˆู„ ุฐู„ูƒ ุจุฃู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ู†ุฒูˆู„ ู…ู„ูƒ ุงู„ุฑุญู…ุฉ ูˆู†ุญูˆู‡ ุฃูˆ ูŠููˆุถ ู…ุน ุงุนุชู‚ุงุฏ ุงู„ุชู†ุฒูŠู‡  

“Turun itu mustahil bagi Allah, sebab hakikat turun sudah jelas yakni pergerakan dari atas ke bawah. Dan sudah tetap dalil-dalil qoth'i yang tidak terbantahkan yang menunjukkan atas kemahasucian Allah dari itu semua. Maka hadits (Allah turun) ditakwil bahwa yang dimaksud adalah turunnya malaikat rahmat dan yang sejenisnya, atau maknanya diserahkan kepada Allah serta diimani kesucian Allah dari hal-hal yang tidak layak” (Fathul Bari Syarah Shohih Bukhari : 11/111)

Kemudian didalam kitab Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim imam Nawawi rahimahullah mengatakan :

ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ูŠู†ุฒู„ ุฑุจู†ุง ูƒู„ ู„ูŠู„ุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู…ุงุก ููŠู‚ูˆู„ ู…ู† ูŠุฏุนูˆู†ูŠ ูุฃุณุชุฌูŠุจ ู„ู‡، ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ู…ู† ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตูุงุช ูˆููŠู‡ ู…ุฐู‡ุจุงู† ู…ุดู‡ูˆุฑุงู† ู„ู„ุนู„ู…ุงุก ุณุจู‚ ุฅูŠุถุงุญู‡ู…ุง ููŠ ูƒุชุงุจ ุงู„ุฅูŠู…ุงู†، ูˆู…ุฎุชุตุฑู‡ู…ุง ุฃู† ุฃุญุฏู‡ู…ุง ูˆู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุณู„ู ูˆุจุนุถ ุงู„ู…ุชูƒู„ู…ูŠู† ุฃู†ู‡ ูŠุคู…ู† ุจุฃู†ู‡ุง ุญู‚ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠู„ูŠู‚ ุจุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰، ูˆุฃู† ุธุงู‡ุฑู‡ุง ุงู„ู…ุชุนุงุฑู ููŠ ุญู‚ู†ุง ุบูŠุฑ ู…ุฑุงุฏ ูˆู„ุง ูŠุชูƒู„ู… ููŠ ุชุฃูˆูŠู„ู‡ุง ู…ุน ุงุนุชู‚ุงุฏ ุชู†ุฒูŠู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู† ุตูุงุช ุงู„ู…ุฎู„ูˆู‚ ูˆุนู† ุงู„ุงู†ุชู‚ุงู„ ูˆุงู„ุญุฑูƒุงุช ูˆุณุงุฆุฑ ุณู…ุงุช ุงู„ุฎู„ู‚

“Terkait sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Robb kita turun setiap malam ke langit dunia kemudian berfirman, barang siapa yang berdoa kepadaku, maka akan aku kabulkan. Hadits ini termasuk hadits-hadits sifat. Ada dua madzhab masyhur dikalangan ulama yang telah dijelaskan didalam kitab iman. Ringkasannya yang pertama yaitu: Mereka adalah mayoritas ulama salaf dan sebagian ahli kalam, bahwasanya mereka mengimani hadits itu sesuai dengan keagungan Allah ta'ala. Dan dzohir hadits tersebut yang biasa kita kenal itu bukanlah yang dimaksud (yaitu turun dari atas ke bawah). Dan mereka tidak mengatakan takwilannya serta meyakini kesucian Allah dari sifat-sifat makhluk. Dan maha suci Allah dari berpindah, bergerak, serta seluruh karakter-karakter makhluk”

Lanjutan keterangan diatas :

ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ: ู…ุฐู‡ุจ ุฃูƒุซุฑ ุงู„ู…ุชูƒู„ู…ูŠู† ูˆุฌู…ุงุนุงุช ู…ู† ุงู„ุณู„ู ูˆู‡ูˆ ู…ุญูƒูŠ ู‡ู†ุง ุนู† ู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠ ุฃู†ู‡ุง ุชุชุฃูˆู„ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠู„ูŠู‚ ุจู‡ุง ุจุญุณุจ ู…ูˆุงุทู†ู‡ุง، ูุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุชุฃูˆู„ูˆุง ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ุชุฃูˆูŠู„ูŠู†، ุฃุญุฏู‡ู…ุง: ุชุฃูˆูŠู„ ู…ุงู„ูƒ ุจู† ุฃู†ุณ ูˆุบูŠุฑู‡ ู…ุนู†ุงู‡ ุชู†ุฒู„ ุฑุญู…ุชู‡ ูˆุฃู…ุฑู‡ ูˆู…ู„ุงุฆูƒุชู‡، ูƒู…ุง ู‚ุงู„ ูุนู„ ุงู„ุณู„ุทุงู† ูƒุฐุง ุฅุฐุง ูุนู„ู‡. ุฃุชุจุงุนู‡ ุจุฃู…ุฑู‡. ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ: ุฃู†ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุงุณุชุนุงุฑุฉ ูˆู…ุนู†ุงู‡ ุงู„ุฅู‚ุจุงู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุฏุงุนูŠู† ุจุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ูˆุงู„ู„ุทู

“Dan yang kedua: Kebanyakan ahli kalam dan sebagian ulama salaf yang diceritakan dari imam Malik serta imam Al-Auza'i bahwasanya hadits tersebut ditakwilkan sesuai dengan ketentuan-ketentuanya. Atas dasar inilah mereka mentakwil haditsnya dengan dua takwilan. Yang pertama yaitu takwil imam Malik bin Anas dan yang lainnya, maknannya adalah turun rahmat, perintah, dan malaikatnya. Sebagaimana dikatakan: Jika dia melakukannya atas perintah sultan. Dan yang kedua bahwasanya hadits tersebut menggunakan (majaz) isti'aroh. Maknanya menerima permohonan orang-orang yang berdoa dengan pengabulan dan kemurahan” (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 6/376)

Yang terakhir adalah keterangan dari Al-Imam Ibnu Abdill Barr yang menyatakan :

ูˆู‚ุฏ ุฑูˆูŠ ู…ู† ุญุฏูŠุซ ุฃุจูŠ ุฐุฑ ุฃู†ู‡ ู‚ุงู„ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฃูŠ ุงู„ู„ูŠู„ ุฃุณู…ุน ู‚ุงู„ ุฌูˆูุงู„ู„ูŠู„ ุงู„ุบุงุจุฑ، ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ุช ูุฑู‚ุฉ ู…ู†ุชุณุจุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู†ุฉ ุฅู†ู‡ ูŠู†ุฒู„ ุจุฐุงุชู‡ ูˆู‡ุฐุง ู‚ูˆู„ ู…ู‡ุฌูˆุฑ ู„ุฃู†ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฐูƒุฑู‡ ู„ูŠุณ ุจู…ุญู„ ู„ู„ุญุฑูƒุงุช ูˆู„ุง ููŠู‡ ุดูŠุก ู…ู† ุนู„ุงู…ุงุช ุงู„ู…ุฎู„ูˆู‚ุงุช

“Dan telah diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari bahwasanya beliau berkata : Wahai Rasulullah, pada bagian malam yang mana (doa itu lebih) didengar? Rasulullah menjawab : Pada setengah malam yang tersisa. Sungguh telah berkata suatu kelompok yang menisbatkan dirinya kepada pengikut sunnah bahwasanya Allah turun dengan dzatnya, maka ini merupakan ucapan yang terlarang. Karena Allah menyebutkannya bukan ditempat gerakan dan bukan juga dari tanda makhluknya” (Al-Istidzkar : 2/530)

Nah demikianlah pembahasan terkait hadits nuzul atau hadits turunnya Allah. Sekali lagi kita katakan, Allah tidak sama dengan makhluk. Jadi jika dikatakan Allah turun, maka turunnya Allah tidaklah sama seperti apa yang ada dalam benak manusia, yakni turun dari atas kebawah melalui pergerakan jisim.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

2 komentar:

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : ูˆุงู„ุฌู…ุงุน ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ุชูุณุฏ ุจู‡ ุงู„ุนู…ุฑุฉ ุงู„ู…ูุฑุฏุฉ ุฃู…ุง ุงู„ุชูŠ ููŠ ุถู…ู† ุญุฌ ููŠ ู‚ุฑุงู†، ูู‡ูŠ ุชุงุจุนุฉ ู„ู‡ ุตุญุฉ ูˆูุณ...