Rabu, 01 Maret 2023

MANHAJ ULAMA SALAF DALAM MEMAHAMI AYAT & HADITS MUTASYABIHAT

Para ulama salaf dari kalangan ahlusunnah wal jama'ah mempunyai dua manhaj saat memahami ayat-ayat serta hadits-hadits yang mutasyabihat. Diantara mereka ada yang memakai manhaj tafwidh, yakni menyerahkan makna ayat atau haditsnya kepada Allah, serta tidak membahas dan menanyakan bagaimana maknanya. Dan inilah mahajnya kebanyakan ulama salaf. Sedangkan sebagian dari mereka ada juga yang memakai manhaj takwil, yaitu mentakwil ayat-ayat dan hadits-hadits mutasyabihat untuk memalingkan pemahaman keliru orang-orang awam sehingga mereka tidak terjerumus kepada tajsim (menjisimkan Allah) dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). 

Hal ini telah dikemukakan oleh imam Nawawi didalam kitab Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim. Beliau rahimahullah berkata :

اعلم أن لأهل العلم في أحاديث الصفات وآيات الصفات قولين، أحدهما : وهو مذهب معظم السلف أو كلهم أنه لا يتكلم في معناها بل يقولون: يجب علينا أن نؤمن بها ونعتقد لها معنى يليق بجلال الله تعالى وعظمته مع اعتقادنا الجازم أن الله تعالى ليس كمثله شيء، وأنه منزه عن التجسم والانتقال والتحيز في جهة وعن سائر صفات المخلوق، وهذا القول هو مذهب جماعة من المتكلمين واختاره جماعة من محققيهم وهو أسلم، والقول الثاني : وهو مذهب معظم المتكلمين أنها تتأول على ما يليق  بها على حسب مواقعها، وإنما يسوغ تأويلها لمن كان من أهله بأن يكون عارفا بلسان العرب وقواعد الأصول الفروع ذا رياضة في العلم


“Ketahuilah bahwa terdapat dua pendapat dikalangan para ahli ilmu berkenaan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits sifat (semisal Allah turun, istawa dan sebagainya). 

Yang pertama adalah pendapat kebanyakan ulama salaf atau kebanyakan dari mereka bahwa sesungguhnya mereka itu tidak berkata (atau membahas) terkait maknanya, (yakni tafwidh atau menyerahkan maknanya kepada Allah). Bahkan mereka berkata: Kita wajib beriman dan meyakini nash tersebut berdasarkan makna yang layak sesuai dengan kemuliaan Allah ta'ala dan kebesarannya dengan berpegang teguh bahwa Allah tidak serupa dengan apapun. 

Dan sesungguhnya mahasuci Allah daripada tajsim, berpindah, mengambil ruang pada suatu tempat, dan mahasuci Allah daripada menyerupai sifat-sifat makhluk. Inilah pendapat yang dipegang oleh sebahagian daripada ulama-ulama ahli kalam dan menjadi pilihan oleh sebahagian pengkaji mereka, dan pendapat ini lebih selamat. 

Yang kedua adalah pendapat kebanyakan dari ulama-ulama ahli kalam. Mereka mentakwil nash-nash tersebut sesuai dengan keadaan tertentu. Dan sesungguhnya keharusan untuk mentakwil sebuah nash adalah khusus bagi mereka yang mengerti bahasa arab (dengan baik), dan memahami kaidah-kaidah ushul serta cabang-cabangnya berlandaskan ilmu pengetahuan yang mendalam.”

📚 (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 3/18) 

Nah demikianlah, semoga bermanfaat. 

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...