Minggu, 26 Februari 2023

MEMAHAMI MAKNA & BENTUK TAUBAT NASUHA


Taubat adalah salah satu kewajiban yang mesti dilakukan oleh setiap orang yang melakukan dosa, mengingat semua manusia pasti pernah melakukan dosa entah itu dosa kecil dan terlebih lagi dosa besar. Taubat sendiri bermakna kembalinya seseorang dari perilaku yang buruk menuju perilaku yang baik. Adapun taubat nasuha adalah taubat yang dilakukan dengan semurni-murninya atau sebenar-benarnya atas setiap dosa yang telah dilakukan pada masa lalu. Taubat nasuha ini adalah jalan terbaik yang ditunjukkan oleh Allah sebagai cara agar hambanya berusaha untuk memperbaiki diri atas setiap dosa yang dilakukannya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

يا أيها الذين آمنوا توبوا إلى الله توبة نصوحا عسى ربكم أن يكفر عنكم سيئاتكم ويدخلكم جنات تجري من تحتها الأنهار

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha (taubat yang sebenar-benarnya). Mudah-mudahan tuhanmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai” (Qs. At-Tahrim : 8)

Nabi ﷺ bersabda :

كل بني آدم خطاء، وخير الخطائين التوابون

“Setiap manusia itu (cenderung) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah ia yang bertaubat” (HR. Ibnu Majah : 4241)

Secara bahasa, kata nashoha artinya sesuatu yang bersih atau murni (tidak bercampur dengan sesuatu yang lain). Dan sesuatu yang disebut an-naashih jika sesuatu tersebut tidak bercampur atau tidak terkontaminasi dengan sesuatu yang lain, misalnya madu murni dan yang lainnya.

Berdasarkan makna bahasa ini, taubat disebut dengan taubat nasuha jika pelakunya melakukan taubat tersebut dengan cara memurnikan, ikhlas dan benar dalam taubatnya. Dia mencurahkan segala daya dan upayanya untuk menyesali setiap dosa yang telah diperbuatnya dengan taubat yang benar tersebut.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud taubat nasuha dalam Surah At-Tahrim ayat 8 diatas dengan pernyataan beliau :

توبة نصوحا أي توبة صادقة جازمة تمحو ما قبلها من السيئات، وتلم شعث التائب وتجمعه وتكفه عما كان يتعاطاه من الدناءات

“Taubat nasuha adalah taubat dengan sebenar-benarnya taubat yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus keburukan-keburukan pada masa lalu, yang menghimpun dan mengangkat pelakunya dari kehinaan” (Tafsir Al-Qur'anil Adzhim : 4/191)

Adapun didalam tafsir Jalalain disebutkan :

أي صادقة بأن لا يعاد إلى الذنب ولا يراد العود إليه

“(Taubat nasuha) adalah taubat yang shodiq (benar dan jujur), yaitu pelakunya tidak kembali (melakukan) dosa dan juga tidak berniat mengulanginya” (Tafsir Jalalain : 1/753)

Banyak dari kalangan ulama yang menjelaskan terkait makna taubat nasuha ini, contohnya imam Al-Alusi rahimahullah salah satu ulama masyhur pengarang kitab tafsir Ruhul Ma'ani yang mengatakan :

وجوز أن يراد توبة تنصح الناس أي تدعوهم إلى مثلها لظهور أثرها في صاحبها، واستعمال الجد والعزيمة في العمل بمقتضياتها، وسميت التوبة نصوحا أي توبة ترفو خروقك في دينك وترم خللك

“(Taubat nasuha) bisa juga dimaknai dengan taubat yang mendatangkan doa dari manusia. Artinya manusia mendoakannya untuk bertaubat, sehingga tampaklah pengaruh taubat tersebut bagi pelakunya. Pelakunya pun mencurahkan kesungguhan dan tekad untuk melaksanakan taubatnya. Dan disebut dengan taubat nasuha, yaitu taubat yang memperbaiki robekan (lubang) dalam agamamu dan memperbaiki keburukanmu” (Ruhul Ma'ani : 28/158)

Kemudian, sebab daripada tujuan dilakukannya taubat sendiri adalah bertujuan untuk memperbaiki kerusakan didalam agama akibat perbuatan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan seseorang pada masa yang lalu.

Al-Imam Badruddin Al-Aini rahimahullah berkata :

وأصل النصيحة مأخوذ من نصح الرجل توبه إِذا خاطه بالمنصح ومنه التوبة النصوح، كأن الذنب يمزق الدين والتوبة تخيطه

“Asal kata nashihah diambil dari seseorang yang menjahit pakaiannya disaat dia sedang menyulam pakaiannya dengan jarum. (Dari kata nashihah tersebut) muncullah istilah taubat nasuha. Seakan-akan dosa telah merobek agama (seseorang), dan taubatlah yang menjahit kembali (robekan tersebut)” (Umdatul Qori Syarah Shohih Bukhari : 1/321)

Imam Al-Qurthubi juga menjelaskan terkait makna taubat nasuha ini dengan pernyataan beliau :

قيل : هي مأخوذة من النصاحة وهي الخياطة. وفي أخذها منها وجهان، أحدهما لأنها توبة قد أحكمت طاعته وأوثقتها كما يحكم الخياط الثوب بخياطته ويوثقه، والثاني لأنها قد جمعت بينه وبين أولياء الله وألصقته بهم كما يجمع الخياط الثوب ويلصق بعضه ببعض

“Dikatakan : (Taubat nasuha) yaitu diambil dari kata nashohah yang artinya jahitan. Berdasarkan asal kata tersebut, terdapat dua sisi (makna) dari taubat nasuha ini. Pertama, karena taubat tersebut telah memperbaiki ketaatan dan menguatkannya, sebagaimana jahitan yang memperbaiki pakaian dan menguatkannya. Sedangkan yang ke dua, karena taubat nasuha mengumpulkan antara pelakunya dengan wali-wali Allah dan merekatkannya. Hal ini sebagaimana jahitan yang merekatkan pakaian dan menyambung antara sisi (kain) yang satu dengan sisi kain yang lainnya” (Jami' Li Ahkaamil Qur'an : 18/199)

Nah demikianlah sedikit pembahasan terkait makna dan bentuk taubat nasuha, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالـصـواب

1 komentar:

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...