Minggu, 26 Maret 2023

APAKAH ALLAH BERADA DI ATAS ARSY?


Sudah ma'lum didalam aqidah ahlussunnah wal jama'ah bahwasanya Allah itu adalah dzat yang mahasuci dari sifat-sifat makhluk, kemudian suci dari sifat-sifat benda dan segala sesuatu yang bersifat jismiyah. Oleh karena itu jika terdapat ayat yang menyebutkan bahwa "ar-rahman 'alal arsystawa" maka tidak layak ayat tersebut difahami bahwa Allah bersemayam atau duduk diatas arsy. 

Lagipula, lafadz istawa pada itu merupakan lafadz mutasyabihat yang mengandung banyak makna. Namun diantara sekian banyak makna tersebut mestinya yang dipakai adalah makna yang sesuai dengan kesucian dan keagungan Allah itu sendiri. Diantara makna istawa yang disebutkan oleh para ulama misalnya duduk, kemudian bersemayam, kemudian berkuasa dan masih banyak lagi. Dan diantara yang disebutkan itu seharusnya makna istawa dimaknai berkuasa, karena yang demikian itu sesuai dengan keagungan Allah. 

Atau dengan cara mengartikan Allah beristawa saja, tanpa membahasnya panjang lebar. Dan istawa Allah tentu berbeda dengan pemahaman istawa yang ada dalam pikiran manusia. Jika misalnya manusia menggambarkan bahwa istawa Allah itu adalah bersemayam atau duduk diatas singgasana, maka istawa Allah tidaklah seperti apa yang tergambar dalam pikiran manusia.

Al-Imam Ahmad Ar-Rifa'i rahimahullah mengatakan :

سئل الامام احمد عن الاستواء، فقال : استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

“Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya mengenai makna istawa, beliau mengatakan: Allah beristawa sebagaimana yang dia kabarkan (didalam Al-Qur'an), tapi tidak seperti yang terlintas dalam pikiran manusia” (Al-Burhanul Muayyad : 87)

Kemudian didalam tafsir Ibnu Katsir juga disebutkan :

وقوله: الرحمن على العرش استوى تقدم الكلام على ذلك في سورة الأعراف بما أغنى عن إعادته أيضا، وأن المسلك الأسلم في ذلك طريقة السلف، إمرار ما جاء في ذلك من الكتاب والسنة من غير تكييف ولا تحريف ولا تشبيه ولا تعطيل ولا تمثيل

“Firman Allah: (Yaitu) tuhan yang maha pemurah beristawa diatas arsy. Pembahasan makna istawa telah disebutkan didalam surah Al-A'raf. Dan pemahaman yang lebih selamat dalam memahami makna lafadz istawa adalah dengan mengikuti pemahamannya para ulama salaf. Yaitu dengan memberlakukan (ayat tersebut) apa adanya seperti yang ada didalam Al-Qur'an dan sunnah dengan tanpa memberikan gambaran, penyelewengan, penyerupaan, tidak dikurangi dan tidak pula dipermisalkan” (Tafsir Al-Qur'anil Adhzim : 5/271)

Inilah hakikat tafwidh, yakni menyerahkan maknanya kepada Allah dengan tanpa membahasnya panjang lebar seperti memberikan gambaran dan penyerupaan. Jadi intinya, segala sesuatu yang pernah terlintas dalam pikiran manusia, maka Allah tidak seperti itu. Sebab apa-apa yang terlintas dalam pikiran manusia itu biasanya adalah hal-hal yang pernah dirasakan oleh panca inderanya. Semisal pernah dilihat oleh mata, pernah dirasa oleh lidah, pernah dicium oleh hidung dan yang lainnya. Maka, Allah tidaklah seperti itu, karena sekali lagi saya katakan bahwa Allah bukanlah jisim yang tersifati dengan sifat-sifat jismiyah.

Kemudian yang kedua yakni metode takwil untuk memahami ayat-ayat atau lafadz-lafadz mutasyabihat. Para kelompok musyabbihah seperti kalangan salafi wahabi salah faham dengan maksud takwil. Mereka mengira kalau takwil itu adalah ta'thil (memalingkan atau menyelewengkan makna), padahal tidak seperti itu. Adapun takwil, pada dasarnya adalah hampir sama dengan tafsir, dan untuk menafsiri ayat-ayat mutasyabihat tentu tidak boleh sembarangan. Para ulama ketika melakukan takwil itu menggunakan dalil-dalil lain sebagai takwilannya, tidak serta merta pakai akal mereka sendiri.

Kalangan ulama salaf sedikit sekali yang memakai metode ini, namun setidaknya metode takwil ini pernah dilakukan oleh ulama salaf. Tidak seperti dusta yang dikatakan kelompok salafi wahabi bahwa ulama salaf kata mereka tidak pernah melakukan takwil. Intinya entah itu metode tafwidh ataupun metode takwil, kedua-duanya adalah metode shohih yang pernah dilakukan oleh para ulama salaf. 

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bagaimana cara para ulama salaf dalam memahami nash-nash yang mutasyabihat :

قوله صلى الله عليه وسلم: ينزل ربنا كل ليلة إلى السماء فيقول من يدعوني فأستجيب له، هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيه مذهبان مشهوران للعلماء سبق إيضاحهما في كتاب الإيمان، ومختصرهما أن أحدهما وهو مذهب جمهور السلف وبعض المتكلمين أنه يؤمن بأنها حق على ما يليق بالله تعالى، وأن ظاهرها المتعارف في حقنا غير مراد ولا يتكلم في تأويلها مع اعتقاد تنزيه الله تعالى عن صفات المخلوق وعن الانتقال والحركات وسائر سمات الخلق

“Terkait sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Robb kita turun setiap malam ke langit dunia kemudian berfirman, barang siapa yang berdoa kepadaku, maka akan aku kabulkan. Hadits ini termasuk hadits-hadits sifat. Ada dua madzhab masyhur dikalangan ulama yang telah dijelaskan didalam kitab iman. Ringkasannya yang pertama yaitu: Mereka adalah mayoritas ulama salaf dan sebagian ahli kalam, bahwasanya mereka mengimani hadits itu sesuai dengan keagungan Allah ta'ala. Dan dzohir hadits tersebut yang biasa kita kenal itu bukanlah yang dimaksud (yaitu turun dari atas ke bawah). Dan mereka tidak mengatakan takwilannya serta meyakini kesucian Allah dari sifat-sifat makhluk. Dan mahasuci Allah dari berpindah, bergerak, serta seluruh karakter-karakter makhluk”

Keterangan lebih lanjut :

والثاني: مذهب أكثر المتكلمين وجماعات من السلف وهو محكي هنا عن مالك والأوزاعي أنها تتأول على ما يليق بها بحسب مواطنها، فعلى هذا تأولوا هذا الحديث تأويلين، أحدهما: تأويل مالك بن أنس وغيره معناه تنزل رحمته وأمره وملائكته، كما قال فعل السلطان كذا إذا فعله. أتباعه بأمره. والثاني: أنه على الاستعارة ومعناه الإقبال على الداعين بالإجابة واللطف

“Dan yang kedua: Kebanyakan ahli kalam dan sebagian ulama salaf yang diceritakan dari imam Malik serta imam Al-Auza'i bahwasanya hadits tersebut ditakwilkan sesuai dengan ketentuan-ketentuanya. Atas dasar inilah mereka mentakwil haditsnya dengan dua takwilan. Yang pertama yaitu takwil imam Malik bin Anas dan yang lainnya, maknanya adalah turun rahmat, perintah, dan malaikatnya. Sebagaimana dikatakan: Jika dia melakukannya atas perintah sultan. Dan yang kedua bahwasanya hadits tersebut menggunakan (majaz) isti'aroh. Maknanya menerima permohonan orang-orang yang berdoa dengan pengabulan dan kemurahan” (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 6/376)

Begitulah cara para ulama salaf menyikapi jika mereka bertemu dengan nash-nash yang mutasyabihat. Dan takwil sendiri dilakukan agar orang-orang awam tidak terjerumus dalam membayangkan dzat Allah.

Kesimpulannya, mudah sekali untuk membantah kelompok salafi wahabi itu. Jika mereka memakai dalil tekstual, maka kita pun bisa membantahnya pakai dalil tekstual juga. Semisal mereka mengatakan kalau Allah itu berada diatas langit atau diatas arsy, maka contoh kita jawab memakai hadits shohih dibawah ini :

إذا كان أحدكم يصلي فلا يبصق قبل وجهه، فإن الله قبل وجهه إذا صلى

“Jika salah seorang dari kalian berdiri untuk melakukan sholat, maka janganlah meludah ke arah depannya. Karena sesungguhnya Allah berada dihadapannya ketika dia sedang sholat” (Shohih Muttafaqun 'Alaih)

Jika salafi wahabi membantah bahwa hadits ini harus dijelaskan secara makna (yakni takwil), begitupun dengan ayat-ayat yang menyebutkan Allah beristawa diatas arsy juga harus dijelaskan secara makna (takwil juga). Salafi wahabi ini sebenarnya gengsi untuk mengakui kalau mereka juga melakukan takwil, buktinya mereka melakukan takwil pada sebagian dalil yang lain.

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan hadits diatas dengan pernyataannya :

قال ابن عبد البر: هو كلام خرج على التعظيم لشأن القبلة، وقد نزع به بعض المعتزلة القائلين بأن الله في كل مكان، وهو جهل واضح لأن في الحديث أنه يبزق تحت قدمه، وفيه نقض ما أصلوه، وفيه الرد على من زعم أنه على العرش بذاته ومهما تؤول به هذا جاز أن يتأول به ذاك

“Imam Ibnu Abdill Barr berkata: Hadits itu merupakan penjelasan yang keluar sebagai pengagungan terhadap kiblat. Sebagian mu'tazilah menolak hadits itu dengan menyatakan bahwa Allah berada dimana-mana, dan itu merupakan kebodohan yang nyata. Sebab pada hadits tersebut disebutkan bahwa ia harus meludah ke arah bawah kakinya. Mangkanya didalam hal ini ada penolakan terhadap qoidah mereka sendiri (yang menyatakan bahwa Allah berada dimana-mana). Dan didalam hadits ini juga terdapat penolakan bagi orang yang berkeyakinan bahwa (Allah) berada diatas arsy bersama dzatnya. Maka dari itu kalau hadits ini boleh ditakwil, maka hadits (yang menyebutkan bahwa Allah berada diatas arsy) juga boleh ditakwil” (Fathul Bari : 1/508)

Berdasarkan keterangan diatas, jelas sudah bahwa takwil itu dibenarkan. Oleh karenanya salafi wahabi yang tidak mau takwil pada sebagian dalil, akhirnya mereka malah terjebak kepada tajsim dan tasybih (menjisimkan Allah dan menyerupakan Allah dengan makhluk), mangkanya sangat berbahaya orang yang tidak mau takwil itu. Bisa-bisa terjebak pada tajsim dan tasybih seperti yang dialami kelompok salafi wahabi.

Nah demikianlah ulasan terkait masalah aqidah yakni mengenai dalil-dalil mutasyabihat. Semoga Allah menjauhkan kita dari kesesatan, aamin.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...