Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan :
وللصوم ثلاث مراتب: صوم العموم، وصوم الخصوص، وصوم خصوص الخصوص. فأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة، وأما صوم الخصوص فهو كف النظر واللسان واليد والرجل والسمع والبصر وسائر الجوارح عن الآثام، وأما صوم خصوص الخصوص فهو صوم القلب عن الهمم الدنيئة والأفكار المبعدة عن الله تعالى
“Puasa itu memiliki tiga tingkatan. Yakni puasa secara umum, puasa secara khusus, dan puasa yang lebih khusus. Adapun puasa secara umum adalah menahan perut dan kemaluan dari syahwat. Dan adapun puasa secara khusus adalah puasa untuk menjaga pandangan, lisan, tangan, kaki, penglihatan dan seluruh anggota badan dari perbuatan dosa. Sedangkan puasa yang lebih khusus adalah puasanya hati dari keinginan-keinginan yang rendah dan dari pemikiran-pemikiran yang akan memalingkannya dari Allah Ta'ala” (Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hlm. 44)
Melihat dari pernyataan beliau, disana disebutkan terkait tiga tingkatan puasa. Jika ditinjau, maka kita bisa jelaskan bahwa puasa yang pertama adalah puasanya orang-orang awam secara umum, kemudian yang kedua adalah puasanya orang-orang sholeh dan ahli ilmu, sedangkan yang terakhir adalah puasanya orang-orang ahli ma'rifat. Memang benar bahwa yang disebut puasa secara umum itu adalah puasanya seseorang untuk menjaga segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa. Yakni puasa dengan cara menjaga perut dari makan dan minum, juga puasa dengan cara menjaga kemaluan dari melakukan jima. Inilah puasa yang kita kenal secara umum dalam ilmu fiqih.
Tapi tidak cukup hanya disitu, karena ternyata puasa tidak terbatas pada menahan perut dari makan dan minum serta menahan kemaluan dari melakukan jima saja. Melainkan juga menahan perilaku-perilaku dzohir yang bisa menggugurkan serta menghilangkan pahala puasa. Contohnya ghibah, fitnah, namimah dan lain sebagainya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa dan menghilangkan pahala puasa itu harus kita jauhi. Selain itu, puasa juga dilakukan untuk melatih kesabaran seorang hamba. Karena dengan berpuasa, elemen-elemen jiwa akan terasa melemah.
Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata :
الصبر ثلاثة أنواع: صبر على طاعة الله، وصبر عن محارم الله، وصبر على أقدار الله المؤلمة، وتجتمع الثلاثة في الصوم، فإن فيه صبرا على طاعة الله، وصبرا عما حرم الله على الصائم من الشهوات، وصبرا على ما يحصل للصائم فيه من ألم الجوع والعطش وضعف النفس والبدن
“Kesabaran itu ada tiga jenis: Yaitu kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, lalu kesabaran dalam menjauhi perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah, dan kesabaran dalam menjalani takdir Allah yang menyakitkan. Ketiga macam kesabaran ini terkumpul pada ibadah puasa, karena sesungguhnya pada perkara tersebut ada kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, lalu ada kesabaran dalam menjauhi perkara-perkara diharamkan oleh Allah terhadap orang yang berpuasa dari syahwatnya, dan ada juga kesabaran terhadap apa yang dialami oleh orang yang berpuasa berupa rasa lapar, haus dan lemahnya jiwa serta badan” (Lathaiful Ma'arif, hlm. 354)
Dan yang terakhir, yakni puasanya rohani dari segala bentuk keinginan, ambisi dan hawa nafsu yang buruk. Yang mana dengan sesuatu yang buruk itu akan mengakibatkan seorang hamba menjadi jauh dari tuhannya. Dan demikianlah keistimewaannya, orang yang mampu mengekang hawa nafsunya dari hal-hal buruk niscaya dirinya akan tergiring ke jenjang takwa, yang mana tujuan daripada berpuasa itu sendiri adalah supaya manusia bertakwa. Jadi puasa yang terakhir ini adalah puasa yang mesti dilakukan setiap saat, dan tidak terikat oleh waktu pada bulan ramadhan saja. Sebab mengekang hawa nafsu dan keinginan yang buruk itu adalah hal yang mesti dilakukan oleh setiap hamba-hamba Allah pada kapanpun dan dimanapun, nah seperti itulah hakikat puasa yang sesungguhnya.
Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan :
والصائم هو الذي صامت جوارحه عن الآثام، ولسانه عن الكذب والفحش وقول الزور وبطنه عن الطعام والشراب وفرجه عن الرفث، فإن تكلم لم يتكلم بما يجرح صومه، وإن فعل لم يفعل ما يفسد صومه فيخرج كلامه كله نافعا صالحا وكذلك أعماله
“(Hakikat) orang yang berpuasa adalah orang yang (seluruh) anggota tubuhnya berpuasa dari dosa-dosa. Lisannya berpuasa dari ucapan dusta, keji dan ucapan-ucapan buruk lainnya, lalu perutnya berpuasa dari makan dan minum, kemudian kemaluannya berpuasa dari rafats (jima). Jika dia berbicara, maka dia tidak berbicara dengan ucapan-ucapan yang akan mengotori puasanya. Dan jika dia berbuat, maka dia tidak melakukan perbuatan yang dapat merusak puasanya. Oleh karena itu, seluruh ucapannya adalah ucapan yang bermanfaat lagi baik, demikian pula dengan perbuatan-perbuatannya” (Tadzkirul Anam, hlm. 25)
Didalam keterangan yang lain beliau mengatakan :
فالصوم هو صوم الجوارح عن الآثام وصوم البطن عن الشراب والطعام، فكما أن الطعام والشراب يقطعه ويفسده، فهكذا الآثام تقطع ثوابه وتفسد ثمرته فتصيره بمنزلة من لم يصم
“Puasa (yang hakiki) adalah puasanya seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa dan puasanya perut dari makanan dan minuman. Sebagaimana makan dan minum akan memutus dan merusak (keabsahan) puasa, maka demikian pula dengan dosa-dosa. Dia akan memutus pahala puasa dan merusak buahnya sehingga membuat pelakunya (seolah-olah) seperti orang yang tidak berpuasa” (Roudhotul Abidin, hlm. 238)
Nah demikianlah, semoga bermanfaat.
والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar