Ada beberapa hadits yang memuat kaidah penting tentang ajaran islam. Para ulama menyatakan bahwa hadits tersebut memuat tiga pokok ajaran islam. Ya, tiga pokok dari ajaran islam tidak bisa dilepaskan dari hadits ini sehingga hadits tersebut sangat penting untuk diketahui, dihafalkan dan difahami isi kandungannya.
Hadits tersebut sudah sangat masyhur, yaitu hadits tentang niat.
Diriwayatkan dari sayyidina Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu bahwasanya nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يُصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
“Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan diberi ganjaran) berdasarkan apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhoan) Allah dan rasulnya, maka hijrahnya itu kepada (keridhoan) Allah dan rasulnya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan (yang layak) didunia atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan” (Shohih Muttafaqun 'Alaih)
Al-Imam Ibnu Daqiq rahimahullah mengatakan terkait hadits diatas :
وهذا الحديث أحد الأحاديث التي يدور الدين عليها، فروي عن الشافعي أنه قال: هذا الحديث ثلث العلم، ويدخل في سبعين بابا من الفقه، وعن الإمام أحمد قال: أصول الإسلام على ثلاثة أحاديث: حديث عمر إنما الأعمال بالنيات، وحديث عائشة من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد، وحديث النعمان بن بشير: الحلال بين والحرام بين
“Hadits ini merupakan salah satu hadits yang merupakan (pokok ajaran agama). Diriwayatkan dari imam Syafi'i bahwasanya beliau berkata: Hadits ini merupakan sepertiga ilmu, dan masuk didalamnya tujuh puluh dari bab fiqih. Dan dari imam Ahmad beliau berkata: Pokok (ajaran) islam itu terdiri atas tiga hadits: Yaitu hadits Umar (Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya), lalu hadits Aisyah (Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama kami yang tidak ada dasarnya, maka ia tertolak), dan hadits Nu'man bin Basyir: (Yang halal itu jelas, dan yang haram juga jelas)” (Syarah Arba'in Nawawi karya Ibnu Daqiq : 2/5)
Terkhusus pada pembahasan kali ini adalah pembahasan tentang hadits niat, karena betapa pentingnya niat sehingga sebuah amal tidak akan berarti jika tanpa dibarengi dengannya. Dan hadits diatas menjadi pondasi penting terkait masalah niat. Menimbang begitu pentingnya hadits tersebut, banyak ulama yang meletakkannya sebagai hadits pertama dalam beberapa kitabnya.
Lalu bagaimana bisa hadits tentang niat ini dinyatakan sebagai pokok ajaran islam? Bagaimana penjelasannya? Apa arti niat? Dan kenapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan dunia dan perempuan sebagai perbandingan untuk Allah dan rasulnya?
Berikut ini penjelasannya :
Pertama, hadits tentang niat mencakup pokok ajaran islam, artinya bahwa permasalahan tentang niat itu masuk ke hampir seluruh bab dalam kajian fiqih. Seperti halnya dalam bab sholat, wudhu, mandi junub, tayammum, dan lain sebagainya. Niat merupakan pokok dari bagian tersebut dan merupakan hal terpenting. Sebab niat kadang menjadi ibadah tersendiri tanpa yang lain, dan selain niat itu terkadang memerlukan niat pula agar menjadi ibadah tersendiri.
Kedua, niat artinya adalah kesengajaan dalam hati tatkala melakukan sesuatu. Oleh sebab itu kesengajaan dalam hati yang muncul sebelum melakukan sesuatu itu tidak bisa disebut niat. Dan didalam kajian fiqih diistilahkan dengan 'azm. Oleh karena itu, niat dalam masalah wudhu hendaknya besertaan saat awal wudhu, dan niat dalam sholat dan amalan lainnya juga seperti itu.
Ketiga, amal dalam hadits diatas maknanya adalah apa yang dilakukan oleh dzohiriyah (anggota badan), tidak mencakup oleh apa yang dilakukan dengan hati. Dan makna amal tergantung kepada niat itu bukan berarti bahwa gerakan tubuh layaknya orang sholat apabila tidak diniati tidak dapat disebut sholat. Tapi tidak dianggap sah dan belum bisa menggugurkan kewajiban sholat dari pelakunya.
Keempat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits diatas menyebutkan kata perempuan setelah dunia padahal perempuan juga bagian dari dunia. Menurut para ulama hal itu menunjukkan bahwa bahaya atau godaan perempuan dalam permasalahan melalaikan Allah itu lebih berbahaya dari godaan apapun. Sedangkan membandingkan antara niat kepada Allah dan rasulnya pada dunia dan perempuan mengisyaratkan pentingnya beralih dari memandang atau mempertimbangkan ciptaan kepada wujudnya sang pencipta. Jadi wujudnya keindahan alam dunia dan seisinya jangan sampai membuat lalai dari Allah sebagai penciptanya.
Dan yang terakhir, pentingnya niat ikhlas kepada Allah mengingatkan kita bahwa dalam memandang segala sesuatu itu tidak boleh hanya berdasar pada tindakan dzohir saja. Sebab tidaklah setiap orang yang tampak bersedekah misalnya, berarti ia sedang mencari ridho Allah. Dan tidak setiap orang yang tampak sholat berarti ia sedang mendekatkan diri kepada Allah. Sebab jika niatnya agar memperoleh perhatian dari manusia, maka bisa jadi Allah telah hilang dari alam pikirannya.
Nah demikianlah sedikit pembahasan terkait pentingnya niat dalam hadits diatas, semoga bermanfaat.
والله أعلم بالـصـواب
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar