Jumat, 17 Maret 2023

HUBUNGAN ANTARA ILMU AQIDAH, FIQIH & TASAWUF


Diriwayatkan dari sayyidina Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam duduk bermajelis bersama para sahabatnya, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang nampak asing menghampiri majelis beliau. Rambutnya sangat hitam, bajunya sangat putih, bersih dan rapih, tidak seperti seorang musafir yang telah melakukan perjalanan panjang. Kemudian laki-laki itu mendekati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam semakin dekat, sampai-sampai dia menempelkan kedua lututnya kepada lutut Rasulullah. Kemudian meletakkan dua telapak tangannya ke atas dua paha beliau dan terjadilah tanya jawab antara mereka berdua :

يا محمد أخبرني عن الإسلام، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا، قال صدقت . فعجبنا له يسأله ويصدقه، قال فأخبرني عن الإيمان، قال: أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره . قال صدقت، قال فأخبرني عن الإحسان، قال: أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

“Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kemudian menegakkan sholat, menunaikan zakat, berpuasa dibulan ramadhan, dan menunaikan haji ke baitullah jika engkau mampu melakukannya. Laki-laki itu berkata: Kamu benar. Kami pun heran, dia yang bertanya tapi dia pula yang membenarkannya. Kemudian laki-laki itu bertanya lagi: Beritahukanlah kepadaku tentang iman. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian menjawab: Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikatnya, kitab-kitabnya, para rasulnya, hari akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk. Laki-laki itu berkata kembali: Kamu benar. Lalu laki-laki itu bertanya lagi: Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan. Untuk yang kesekian kalinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, tapi jika engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya dia melihatmu” (Shohih Muttafaqun 'Alaih)

Hadits diatas dikenal dengan sebutan hadits Jibril, yaitu hadits yang memiliki kedudukan tinggi dalam islam. Amirul mukminin fil hadits, imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan :

هذا الحديث يصلح أن يقال له أم السنة لما تضمنه من جمل علم السنة

“Hadits ini layak disebut sebagai ummu sunnah (induknya sunnah) dikarenakan kandunganya yang menghimpun ilmu sunnah secara umum” (Fathul Bari : 1/125)

Kemudian imam Nawawi rahimahullah mengatakan :

واعلم أن هذا الحديث يجمع أنواعا من العلوم والمعارف والآداب واللطائف بل هوأصل الإسلام

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya hadits ini menghimpun berbagai macam jenis ilmu pengetahun, adab dan hal-hal yang tersirat. Bahkan hadits ini merupakan pokok (ajaran) islam” (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 1/160)

Lalu, imam Ibnu Daqiq rahimahullah dalam Syarah Arba'in Nawawi juga mengatakan :

هذاحديث عظيم قد اشتمل على جميع وظائف الأعمال الظاهرة والباطنة، وعلوم الشريعة كلها راجعة إليه ومتشعبة منه لما تضمنه من جمعه علم السنة فهو كالأم للسنة كما سميت الفاتحة أم القرآن لما تضمنته من جمعها معاني القرآن

“Ini adalah hadits yang agung, mencangkup seluruh fungsi dan kedudukan amal dzohir dan amal batin. Semua ilmu tentang syariat islam itu merujuk kepada hadits ini dan tercabang daripadanya. Hal itu karena hadits ini mengandung ilmu sunnah secara keseluruhan, hadits ini adalah induknya sunnah seperti halnya Al-Fatihah yang dinamai induk Al-Qur'an karena kandungannya yang berisi makna-makna Al-Qur'an secara keseluruhan” (Syarah Arba'in Nawawi, hlm. 29)

Cukuplah perkataan dan penjelasan ulama-ulama besar diatas yang mengatakan keagungan hadits Jibril ini, dan bahwasannya hadits ini memuat ajaran islam secara menyeluruh. Atau paling tidak hadits ini merupakan dasar dari semua ajaran islam yang bercabang-cabang.

Pada akhir hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan kepada para sahabatnya bahwa yang datang ke majelis beliau adalah malaikat Jibril. Dia datang untuk mengajarkan agama islam kepada para sahabat dengan mengatakan :

فإنه جبريل أتكم يعلمكم دينكم

“Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian”

Subhanallah, bayangkanlah suatu majelis yang mana pengajarnya itu adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan malaikat Jibril, lalu yang menyimaknya adalah para sahabat yang mulia radhiyallahu 'anhum ajma'in.

Lalu, mengapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan bahwa kedatangan malaikat Jibril itu adalah untuk mengajarkan agama islam? Hal tersebut tiada lain karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah itu menghimpun dasar-dasar dan jenis-jenis ilmu yang ada didalam agama islam.

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata terkait hadits Jibril diatas :

هو حديث عظيم جدا، يشتمل على شرح الدين كله، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم في آخره: هذاجبريل أتاكم يعلمكم دينكم بعد أن شرح درجة الإسلام، ودرجة الإيمان، ودرجة الإحسان، فجعل ذلك كله دينا

“Ini adalah hadits yang agung yang mencangkup semua penjelasan agama. Oleh sebab itu nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda pada akhir hadits tersebut: Dia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian setelah menjelasakan kedudukan islam, kedudukan iman dan kedudukan ihsan yang mana itu semua merupakan (hal-hal yang ada didalam) agama” (Jami'ul Ulum wal Hikam, hlm. 97)

Dasar-dasar agama islam, yang kita kenal dengan ilmu syariat yaitu fiqih. Fiqih adalah ilmu yang berkaitan dengan amal perbuatan munusia yang bersifat dzohir seperti sholat, zakat, puasa dan sebagainya. Dan sebenarnya, fiqih sebagai suatu makna tertentu itu sudah ada sejak dahulu, namun fiqih sebagai suatu disiplin ilmu adalah hal baru hasil kerja keras para ulama. Itu terbukti dari berbedanya definisi fiqih sebagai sebuah kata dalam bahasa Arab dengan definisi fiqih dalam arti sebuah ilmu. Adapun secara bahasa, fiqih artinya adalah faham. Sedangkan secara istilah :

العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية

“(Fiqih adalah) ilmu yang membahas tentang hukum syariat atas perbuatan-perbuatan dzohir yang digali dari dalil-dalil secara terperinci” (Jam'ul Jawami, hlm. 5)

Itulah diantara khidmah para ulama dalam mengaplikasikan makna islam dalam hadits Jibril diatas ke kehidupan nyata didunia ini. Maka sudah selayaknya kita untuk berterima kasih dan menghormati jasa-jasa mereka. Adapun diantara upaya kita agar mampu membumikan makna islam dalam diri kita adalah dengan belajar ilmu fiqih secara baik dan benar.

Kemudian iman, ditafsirkan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan hati atau amal batin berupa i'tiqod atau keyakinan kita. Yakni agar keyakinan kita benar, para ulama telah bersusah payah memilah, memilih dan merumuskan semua petunjuk yang mengarahkan kita kepada iman yang benar. Maka lahirlah apa yang disebut ilmu aqidah.

Sedangkan ihsan, imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan :

الإحسان هو أن يعبد المؤمن ربه في الدنيا على وجه الحضور والمراقبة،كأنه يراه بقلبه وينظر إليه في حال عبادته

“Ihsan adalah ketika seorang mukmin beribadah kepada tuhannya didunia ini dengan merasakan kehadiran dan pengawasannya. Seolah-olah dia melihat Allah dengan hatinya pada saat dia beribadah” (Al-Ibanah Al-Kubra : 1/642)

Untuk mencapat derajat ihsan ini tidaklah mudah. Selain harus faham ilmu syariat (fiqih), menjaga kejernihan hati dan akhlak juga menjadi syarat yang harus dipenuhi. Namun ternyata, para ulama terdahulu yang telah mencapai keadaan ihsan ini sudah berupaya mencari, memilih, merenungi dan memahami apa saja yang bisa menghantarkan seorang hamba kepada derajat ihsan. Lalu mereka memetakan jalan-jalan menuju ihsan ini, mereka beri rambu-rambu perjalanan, mereka beri peringatan akan apa saja yang menghalangi kita dalam menuju derajat ihsan. Inilah yang disebut dengan ilmu tasawuf. Jadi antara islam, iman dan ihsan itu sangat erat. Atau antara syariat (fiqih), aqidah dan tasawuf itu sangatlah erat.

Al-Imam Ma'ruf Al-Karkhi qodda shallahu sirrahu mengatakan :

التصوف الأخذ بالحقائق واليأس مما في أيدي الخلائق

“Tasawuf adalah (ilmu untuk) mencari kebenaran yang hakiki dan memalingkan (hati) dari apa yang dimiliki oleh makhluk” (Awafiful Ma'arif, hlm. 62)

Maksudnya adalah hidup dan mati hanya dipesembahkan untuk Allah semata, serta tidak memperdulikan apapun yang ada pada diri manusia berupa harta, jabatan atau yang lainnya. Dan bukan pula dengan cara hidup menyusah-nyusahkan diri, pakaian compang camping dan sebagainya. Karena yang dimaksud adalah keadaan hati yang tidak condong kepada syahwat atau keinginan duniawi, bukan dengan cara dzohirnya yang berpaling dari itu semua. Karena banyak ulama-ulama sufi terdahulu yang dalam keadaan dunia berada ditangannya (hidup kaya raya), tapi hati mereka tidak condong kepada dunia, imam Ibnul Mubarok rahimahullah contohnya.

Sebenarnya masih banyak definisi tentang tasawuf ini, namun pada intinya semua definisi itu menggambarkan bagaimana keadaan seseorang agar bisa mencapai derajat ihsan. Dengan tasawuf (atau ihsan) inilah seluruh amalan lahir maupun amalan batin niscaya akan menjadi sempurna. Sebagai konsekuensi dari keyakinan dan kesadaran yang selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, lalu akan terjaga seluruh anggota tubuh dari melakukan hal-hal buruk, kemudian akan terus hadir didalam hatinya kekhusyuan, keikhlasan dan rasa takut kepada Allah. Kemudian akan baik akhlak serta perilakunya kepada sesama manusia, karena dia tau bahwa itu semua merupakan bentuk pengabdian kepada Allah dan Allah selalu mengawasinya.

Maka dari itu, sangat penting (bahkan wajib) bagi seorang muslim untuk belajar ilmu aqidah (iman), kemudian ilmu fiqih (islam), dan ilmu tasawuf (ihsan).

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan :

من تصوف ولم يتفقه فقد تزندق ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق ومن جمع بينهما فقد تحقق

“Barang siapa yang bertasawuf tanpa fiqih, maka ia akan menjadi zindiq. Dan barang siapa berfiqih tanpa tasawuf, maka ia akan menjadi fasiq. Tapi barang siapa yang mengamalkan keduanya, maka ia akan mencapai maqom hakikat (kebenaran sejati)” (Hasyiyah Al-Adawi Syarah Az-Zarqoni : 3/195)

Apa yang dikatakan oleh imam Malik rahimahullah diatas adalah benar adanya. Ketika seseorang bertasawuf namun tidak mempunyai pengetahuan tentang ilmu fiqih, maka dia akan menjadi zindiq. Dia akan seenaknya meninggalkan sholat karena berasumsi sudah merasa dekat dengan Allah. Begitu juga dengan orang yang mengetahui ilmu fiqih namun tidak bertasawuf, maka ia akan mudah untuk mengentengkan syariat. Sholat asal-asalan yang penting sah, ah ini kan halal, ah itu kan boleh dan sebagainya. 

Nah kesimpulannya, antara islam, iman dan ihsan itu merupakan satu kesatuan yang dinamakan dengan agama. Semuanya berjalan bersama dan beriringan, oleh karenanya barang siapa yang memisah antara ketiganya, maka seolah-olah telah berkurang darinya sebagian dari agamanya.

Baik, demikianlah uraian terkait iman, islam dan ihsan, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...