Selasa, 07 Maret 2023

BAGAIMANA SHOLATNYA ORANG BISU?


Didalam sholat ada dua kategori rukun yang harus dilakukan oleh orang yang menjalankan sholat. Yang pertama adalah rukun qouli, yaitu rukun yang berupa ucapan. Sedangkan yang kedua adalah rukun fi'li, yaitu rukun yang berupa perbuatan. Dua kategori rukun sholat ini harus dilakukan agar sholat yang dilakukan menjadi sah.

Namun dalam prakteknya, ada beberapa orang yang tidak mampu melakukan rukun tersebut karena kekurangan dan keterbatasan yang dimilikinya. Misalnya bagi orang yang bisu, mereka kesulitan untuk melafalkan atau mengucapkan bacaan sholat yang biasa dibaca oleh orang-orang yang mampu berbicara dengan normal.

Padahal dalam rukun qouli, setiap orang yang sholat itu harus melafalkan beberapa bacaan seperti saat membaca Al-Fatihah, tasyahud, dan beberapa bacaan yang lain minimal didengarkan oleh dirinya sendiri. Lalu bagaimana bacaan sholat bagi orang yang bisu? Didalam kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah disebutkan panjang lebar terkait permasalahan sholatnya orang yang bisu.

Berikut ini keterangannya :

من كان عاجزا عن النطق لخرس تسقط عنه الأقوال وهذا باتفاق الفقهاء، واختلفوا في وجوب تحريك لسانه بالتكبير والقراءة، فعند المالكية والحنابلة وهو الصحيح عند الحنفية لا يجب على الأخرس تحريك لسانه، وإنما يحرم للصلاة بقلبه لأن تحريك اللسان عبث ولم يرد الشرع به، وعند الشافعية يجب على الأخرس تحريك لسانه وشفتيه، ولهاته بالتكبير قدر إمكانه، قال في المجموع: وهكذا حكم تشهده وسلامه وسائر أذكاره، قال ابن الرفعة: وإن عجز عن ذلك نواه بقلبه كالمريض، لكن يظهر أن هذا عند الشافعية بالنسبة للخرس الطارئ، أما الخرس الخلقي فلا يجب معه تحريك شيء

“Barang siapa yang tidak dapat berbicara karena bisu, maka gugur baginya kewajiban bacaan (rukun qouli). Dan ini merupakan kesepakatan para ahli fiqih. Akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam masalah menggerakkan lisan saat takbir dan membaca (Al-Fatihah). Menurut ulama dalam madzhab Maliki, Hambali dan pendapat yang shohih dalam madzhab Hanafi, tidak diwajibkan bagi orang yang bisu untuk menggerakkan lisannya. Akan tetapi dia cukup takbirotul ihrom dengan hatinya, karena menggerakkan lisan (bagi orang bisu) itu tidak ada tuntunannya dari syariat.

Adapun menurut ulama madzhab syafi'i, tetap wajib bagi orang bisu untuk menggerakkan lisannya, kedua bibir serta mengketupkan nafasnya untuk bertakbir semampunya. Dikatakan dalam kitab Al-Majmu: Demikian pula hukumnya dalam tasyahud, salam dan seluruh dzikir dalam sholat. Ibnu Rif'ah mengatakan: Jika hal itu tidak mampu dia lakukan, maka cukup diniatkan dalam hatinya seperti halnya orang sakit. Akan tetapi yang tampak dalam mazdhab Syafi'i, hal ini berlaku bagi orang yang bisu kemudian. Adapun orang yang bisu sejak lahir, maka tidak wajib baginya menggerakkan sesuatu pun.” (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah : 19/92)

Namun demikian, para ulama berbeda pendapat mengenai keharusan orang bisu untuk tetap menggerakkan lisan bacaan takbir dan Al-Fatihah seperti yang diterangkan diatas. Menurut mazhab Syafi'i, tetap harus berusaha untuk menggerakkan lisan saat membaca takbir dengan beberapa kriteria seperti menggerakkan bibir dan mengketupkan nafasnya. Sedangkan menurut mazhab Maliki, Hambali dan pendapat yang shohih dalam madzhab Hanafi itu cukup menyebutkannya dalam hati saja.

Syeikh Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah berkata :

من عجز عن النطق بالتكبير كأخرس لزمه تحريك لسانه وشفيته ولهاته ما أمكنه فإن عجز نواه بقلبه

“Barang siapa yang tidak mampu melafalkan takbir (dan Al-Fatihah) seperti halnya orang bisu, maka dia wajib menggerakkan lisan dan kedua bibirnya semampu mungkin. Tapi jika tidak mampu, maka cukup berniat saja didalam hatinya” (Fiqhul Islam : 2/816)

Nah demikianlah sedikit pembahasan tentang sholatnya orang bisu, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالـصـواب

1 komentar:

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...