Dalam persoalan sholat, para ulama fiqih telah menyepakati bahwa gerakan berat dan banyak yang dilakukan berturut-turut didalam sholat itu dapat membatalkan sholat jika dilakukan dengan sengaja, karena gerakan yang banyak selain dari gerakan sholat itu dapat menghilangkan tujuan utama dalam sholat. Hanya saja para ulama berbeda pendapat terkait esensi dari gerakan banyak itu sendiri.
Diantara gerakan-gerakan berat itu misalnya mendorong, melangkah dan lain sebagainya. Adapun gerakan sedikit dan ringan seperti memberi isyarat kepada orang lain dengat matanya dan juga menggaruk itu tidak sampai membatalkan sholat. Sementara gerakan yang sedang (antara berat dan ringan) seperti berpaling dari arah kiblat dalam sholat, maka sholatnya akan menjadi batal jika dilakukan dengan sengaja. Namun jika tidak dilakukan dengan sengaja maka tidak dianggap membatalkan sholat.
Dalam hal ini para ulama madzhab Syafi'i menyatakan bahwa gerakan banyak didalam sholat yang dilakukan dengan sengaja itu dapat membatalkan sholat, itu pun jika dilakukan tanpa jeda. Artinya gerakan-gerakan tersebut terus menerus dilakukan. Sementara gerakan ringan seperti menggerakkan jari disaat menggaruk atau menggerakkan pelupuk mata, maka hal itu tidak membatalkan sholat meskipun dilakukan dengan sengaja dan terus menerus, hanya saja perbuatan semacam itu dihukumi makruh.
Syeikh Zainuddin Al-Malibari rahimahullah berkata :
لاتبطل بحركات خفيفة وإن كثرت وتوالت بل تكره ، كتحريك أصبع أو أصابع في حك أو سبحة مع قرار كفه أو جفن أو شفة أو ذكر أو لسان لأنها تابعة لمحالها المستقرة كالأصابع
“Tidak membatalkan sholat akibat gerakan-gerakan yang ringan meskipun banyak dan dilakukan terus menerus, hanya saja perbuatan seperti itu dihukumi makruh semisal gerakan jari saat menggaruk dengan syarat telapak tangannya tetap (tidak ikut bergerak). Atau gerakan pelupuk mata, bibir, zakar dan lidah karena kesemuanya itu masih menempel pada tempat pokoknya yang diam dan kokoh seperti halnya jari jemari” (Fathul Mu'in : 1/143)
Gambaran sederhananya adalah begini :
Dua langkah itu dianggap gerakan sedikit, dan tiga langkah atau lebih serta berturut turut menurut ulama madzhab Syafi'i sudah dianggap gerakan banyak yang dapat membatalkan sholat.
Imam Al-Haromain rahimahullah berkata :
والعمل الكثير على وجه التوالي والاتصال عمدا مبطل للصلاة، والدليل على أن القليل غير مبطل للصلاة أن النبي صلى الله عليه وسلم أخذ في الصلاة أذن ابن عباس، وأداره من يساره إلى يمينه
“Gerakan banyak dalam bentuk yang berlanjut serta berturut-turut secara sengaja (tanpa uzur dan dalam keadaan darurat) itu akan membatalkan sholat. Dan dalil bahwa gerakan yang sedikit tidak membatalkan sholat adalah bahwasanya nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memegang telinganya Ibnu Abbas (saat sedang sholat) kemudian beliau memindahkannya dari sebelah kiri menuju ke sebelah kanan beliau” (Nihayatul Matlab : 2/205)
Dalam keterangan lain imam Nawawi rahimahullah juga mengatakan :
ثم أجمعوا على أن الكثير إنما يبطل إذا توالى فإن تفرق بأن خطا خطوة ثم بعد زمن خطا أخرى أو خطوتين ثم خطوتين بينهما زمن، وقلنا إنهما قليل
“Kemudian secara ijma (didalam madzhab syafi'i) disebutkan bahwa gerakan yang banyak dapat membatalkan sholat jika dilakukan secara berturut-turut. Namun jika gerakan tersebut berjarak seperti saat sedang melangkah kemudian dalam durasi tertentu melangkah lagi, atau setiap dua langkah ada jeda, maka menurut kami hal tersebut adalah gerakan sedikit (yang tidak membatalkan sholat)” (Roudhotut Tholibin : 1/294)
Masih didalam madzhab Syafi'i, disebutkan juga pada keterangan lainnya :
اما الحركة القليلة، كحرتين فلا تبطل الصلاة بها، سواء كان عمدا او سهوا، مالم يقصد بها اللعب، فإن قصد بها ذالك، كأن قام أُصبعه الوسطى في صلاته لشخص لاعبا معه بطلت صلاته
“Adapun gerakan yang sedikit seperti dua gerakan (yang berat), maka hal itu tidak membatalkan sholat entah dilakukan secara sengaja ataupun karena lupa, dengan catatan hal itu dilakukan tidak bertujuan untuk main-main. Oleh karena itu jika seseorang sengaja menggerakkan anggota badannya dengan tujuan main-main, misalnya dengan cara mengacungkan jari tengahnya didalam sholat kepada orang lain, maka sholatnya menjadi batal” (Kasyifatus Saja, hlm. 331)
Adapun madzhab Hambali, pada dasarnya hampir sependapat dengan madzhab Syafi'i. Hanya saja ulama madzhab ini tidak menentukan gerakan banyak itu dengan jumlah, termasuk dalam persoalan batasan minimal tiga kali gerakan.
Syeikh Hasan bin Ibrahim Al-Khalil rahimahullah mengatakan :
يشترط في العمل الكثير الذي يبطل الصلاة أن يكون متواليا فإن وقع متفرقا فإنه لا يبطل الصلاة حتى لو فرضنا أنه لو جمعت هذه الأعمال لصارت مجتمعة فعلاً كثيرة فإن الصلاة لا تبطل، والدليل على هذا ما تقدم معنا من أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يحمل أمامة وهذا فعل لو جمع وضم بعضه لبعض لصار فعلاً كثيرا حيث يضعها في كل ركعة ويحملها في كل ركعة
“Disyaratkan dalam gerakan banyak yang membatalkan sholat adalah gerakan yang dilakukan secara berturut-turut. Oleh karena itu jika hanya terjadi dengan jeda durasi tertentu, maka tidak akan membatalkan sholat. Bahkan jika seumpama kita beranggapan bahwa gerakan tersebut jika dikumpulkan (seluruhnya) akan menjadi gerakan yang sangat banyak, maka tetap sholatnya tidak batal. Dan dalil atas hal ini telah disebutkan bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menggendong umamah (saat sedang sholat). Gerakan ini jika dikumpulkan dan digabungkan maka akan menjadi gerakan yang banyak dimana beliau meletakan umamah pada setiap raka'at dan menggendongnya kembali pada raka'at yang lain” (Syarhul Mumti ala Zaadil Mustaqni : 1/414)
Sedangkan ulama-ulama madzhab Hanafi memberikan batasan terkait gerakan banyak itu didalam keterangan sebagai berikut :
ومنها العمل الكثير الذي ليس من أعمال الصلاة في الصلاة من غير ضرورة فأما القليل فغير مفسد اختلف في الحد الفاصل بين القليل والكثير قال بعضهم: الكثير ما يحتاج فيه إلى استعمال اليدين والقليل ما لا يحتاج فيه إلى ذلك حتى قالوا: إذا زر قميصه في الصلاة فسدت صلاته، وإذا حل إزاره لا تفسد، وقال بعضهم: كل عمل لو نظر الناظر إليه من بعيد لا يشك أنه في غير الصلاة فهو كثير، وكل عمل لو نظر إليه ناظر ربما يشبه عليه أنه في الصلاة فهو قليل وهو الأصح، وعلى هذا الأصل يخرج ما إذا قاتل في صلاته في غير حالة الخوف أنه تفسد صلاته؛ لأنه عمل كثير ليس من أعمال الصلاة لما بينا
“Dan diantara (perkara yang dapat membatalkan sholat) adalah gerakan banyak yang tidak termasuk gerakan sholat dan hal itu dilakukan bukan dalam keadaan daruat. Adapun gerakan yang sedikit, maka tidak membatalkan sholat. Sebagian ulama madzhab Hanafi berbeda pendapat terkait batasan rinci antara gerakan yang banyak dan sedikit, mereka menyatakan : Gerakan yang banyak adalah yang dilakukan oleh kedua tangan, sedangkan gerakan yang sedikit adalah tidak seperti itu. Mereka memberikan contoh semisal jika ada seseorang mengancingkan bajunya, maka menjadi batal sholatnya, dan jika seseorang membetulkan posisi sarung atau kainnya (dengan satu tangan), maka tidak menjadi batal sholatnya.
Sebagian ulama madzhab Hanafi yang lain menyatakan : Setiap gerakan yang dilihat dari jauh dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu nampak seperti bukan gerakan sholat, maka hal tersebut termasuk gerakan banyak (yang dapat membatalkan sholat). Sedangkan jika dilihat dari jauh masih nampak seperti orang yang sedang sholat, maka gerakan itu masih dianggap sedikit (yang tidak membatalkan sholat), maka inilah pendapat yang shohih. Dan disini yang tidak termasuk (rukhsoh) adalah jika seseorang membunuh (hewan) pada saat sholat bukan karena takut, maka hal itu menjadikan sholatnya batal karena termasuk kepada gerakan yang banyak diluar gerakan sholat seperti yang sudah kami jelaskan” (Bada'ius Shona'i : 1/241)
Dan yang terakhir adalah madzhab Maliki, ulama-ulama madzhab ini memberikan contoh terkait gerakan-gerakan yang dapat membatalkan sholat itu melalui pernyataan imam Ahmad bin Muhammad As-Showi berikut ini :
وبطلت بكثير فعل كحك جسد وعبث بلحيته ووضع رداء على كتف ودفع مار وإشارة بيد فالقليل من ذلك لا يبطلها كالإشارة وحك البشرة، أما المتوسط بين الكثير والقليل، كالانصراف من الصلاة، فيبطل عمده دون سهوه. قوله: كحك جسد أي فيبطلها إذا كثر ولو سهوا والكثير عندنا هو ما يخيل للناظر أنه ليس في صلاة
“Dan sholat menjadi batal dengan gerakan yang banyak semisal menggosok badan, mengelus-elus jenggot, meletakkan selendang diatas bahu, mencegah orang yang berjalan dan memberi isyarat dengan tangan. Sedangkan gerakan yang sedikit itu tidak membatalkan sholat semisal memberi isyarat (dengan mata) dan menggaruk sedikit bagian kulit. Adapun gerakan yang ada diantara gerakan sedikit dan banyak semisal berpindah dari tempat sholat, maka menjadi batal sholatnya jika dilakukan dengan sengaja. Namun tidak batal sholatnya jika dilakukan tanpa sengaja. Dan dikatakan : Seperti menggaruk seluruh badan, maka hal itu akan membatalkan sholatnya. Yakni jika gerakannya banyak meskipun dilakukan tanpa sadar, dan gerakan yang banyak menurut kami adalah yang terlihat sangat jelas bagi setiap orang yang melihatnya bahwa orang tersebut seperti tidak sedang melakukan sholat” (Balaghotus Salik : 1/348)
Nah demikianlah sedikit pembahasan terkait gerakan-gerakan yang dapat membatalkan sholat, semoga bermanfaat.
والله أعلم بالـصـواب

Masya Allah
BalasHapus