Rabu, 15 Maret 2023

HADITS PALSU BERGEMBIRA DENGAN DATANGNYA BULAN RAMADHAN


Detik-detik memasuki bulan ramadhan, biasanya ada sejumlah penceramah yang dengan semangat suka menyampaikan keutamaan-keutamaan bulan suci ini. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa baru bergembira dengan kedatangan bulan ramadhan saja sudah bisa menjauhkan diri dari api neraka. Hehe ini bagi saya sangat tak masuk akal, bahkan seperti sedang mendengar sebuah dongeng. 

Tapi ternyata, bukan tanpa alasan para penceramah menyampaikan hal itu. Sebab ada sebuah hadits yang seringkali dijadikan sandaran untuk memperkuat ungkapan tersebut, yakni hadits :

من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران

“Barang siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka”

Prof Dr KH. Ali Musthofa Ya'qub, yakni seseorang yang terkenal sebagai ahli hadits asal Indonesia dalam bukunya yang berjudul "Hadits-Hadits Bermasalah" beliau mengatakan: Redaksi hadits diatas termaktub dalam kitab Durrotun Nashihin karya Utsman Al-Khubawi. Dalam kitab tersebut, Al-Khubawi dengan jelas menulis, "Wa 'anin nabiyyi shallallahu 'alaihi wasallam" didepan redaksinya yang menandakan kalau ungkapan tersebut memang dinisbatkan kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Namun demikian, kiyai Ali Musthofa Ya'qub menyatakan bahwa beliau telah melacak hadits tersebut dikitab-kitab hadist mu'tabar untuk mengetahui siapa perawinya. Sebab untuk mengetahui kualitas sebuah hadits, seorang peneliti itu harus mengetahui profil para perawinya. 

Akan tetapi, mantan imam besar Masjid Istiqlal ini menyatakan bahwa beliau tidak menemukan perawi sekaligus redaksi hadits tersebut dikitab hadist rujukan manapun. Oleh karena itu hadits diatas ditetapkan sebagai hadits palsu yang haram dibawakan ceramah atau disebarkan kecuali hanya sekedar untuk menjelaskan kepalsuannya saja.

Adapun ciri-ciri hadits palsu sebagaimana yang telah dikatakan oleh Al-Hafidz imam Ibnul Jauzi rahimahullah yaitu :

ما أحسن قول القائل إذا رأيت الحديث يباين المعقول أو يخالف المنقول أو يناقض الأصول فاعلم أنه موضوع، ومعنى مناقضته للأصول أن يكون خارجا عن دواوين الإسلام من المسانيد والكتب المشهورة

“Betapa baiknya perkataan orang yang mengatakan: Jika engkau melihat suatu hadits bertentangan dengan akal (tidak masuk akal), atau menyalahi penukilan (dari Al-Qur'an dan hadits yang shohih), atau bertentangan dengan ushul, maka ketahuilah bahwa itu merupakan hadits palsu. Dan maksudnya bertentangan dengan ushul adalah: Jika hadits tersebut (tidak disebutkan didalam) kitab-kitab islam, kitab-kitab musnad, dan kitab-kitab yang masyhur/terkenal (sebagai kitab rujukan hadits)” (Tadribur Rawi : 1/327)

Selain apa yang dikatakan oleh Al-Hafidz imam Ibnul Jauzi, ciri-ciri hadits palsu yang lain diantaranya sering menyebutkan redaksi amal yang ringan dan pahala besar, atau sebaliknya yaitu perbuatan dosa yang remeh namun azabnya besar. Sebagaimana yang kita ketahui pada redaksi hadits bergembira menyambut ramadhan, disana disebutkan amal yang sangat ringan (yaitu sekedar bergembira saja) namun pahalanya sangat besar (yaitu diharamkan jasadnya dari api neraka).

Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata :

أن من جملة دلائل الوضع أن يكون مخالفا للعقل بحيث لا يقبل التأويل ويلتحق به ما يدفعه الحس والمشاهدة أو يكون منافيا لدلالة الكتاب القطعية أو السنة المتواترة أو الإجماع القطعي، ومنها الإفراط بالوعيد الشديد على الأمر الصغير أو الوعد العظيم على الفعل الحقير وهذا كثير فى حديث القصاص

“Diantara ciri kepalsuan sebuah hadits adalah haditsnya tidak masuk akal, kandungannya tidak bisa diterima, lalu teridentifikasinya hadits palsu itu biasanya akan bertentangan dengan bahasa (kalimat) serta informasi yang benar. Atau bertentangan dengan nash Al-Qur'an yang qoth'i, bertentangan dengan hadits-hadits yang mutawatir serta ijma yang qoth'i. Dan diantara ciri kepalsuan sebuah hadits adalah kalimat pada hadits tersebut sangat (berlebihan), yakni ancaman yang sangat keras untuk perkara yang remeh atau pahala yang sangat besar untuk amalan yang ringan. Dan hal ini banyak dijumpai pada hadits-hadits yang berkaitan dengan balasan atau hukuman” (Tadribur Rawi : 1/326)

Dan disamping itu, perlu diketahui bahwa Utsman Al-Khubawi ini tidak dikenal oleh para ulama kita sebagai ahli hadits. Tapi tiada lain dia hanyalah sekedar sejarawan yang terkenal gemar menulis cerita-cerita hikayat atau dongeng. Disisi lain, kitab Durrotun Nashihin sendiri bukanlah merupakan kitab hadits meskipun didalamnya terdapat sekitar 29 % hadits shohih dan sisanya hadits hasan, dhoif, dhoif jiddan, palsu dan belum diketahui kualitasnya.

Kesimpulannya, jangan jadikan Durrotun Nashihin sebagai rujukan untuk menukil hadits, sebab Durrotun Nashihin bukanlah sebuah kitab hadits. Dan sebagai penutup, saya mengingatkan dengan sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam berikut ini :

من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين

“Barang siapa yang menyampaikan hadits dariku, yang mana (nampaknya) hadits tersebut terlihat seperti hadits dusta (atau dia ragu), maka dia (si penyampai) akan tergolong sebagai salah satu dari dua golongan pendusta” (Shohih Muttafaqun 'Alaih)

Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkomentar terkait hadits diatas :

في هذا الخبر زجر للمرء أن يحدث بكل ما سمع حتى يعلم على اليقين صحته، فكل شاك فيما يروي أنه صحيح أو غير صحيح داخل في الخبر

“Didalam hadits ini terdapat larangan bagi siapapun untuk menyampaikan setiap apa yang dia dengar sampai dia mengetahui secara yakin tentang kebenarannya. Oleh karena itu setiap orang yang ragu terhadap hadits yang dia sampaikan apakah hadits tersebut shohih atau tidak, maka dia tercakup ke dalam (ancaman) hadits ini” (Adh-Dhu'afa wal Matrukin : 1/8)

Nah oleh karena itu saya ingatkan sekali lagi agar jangan sembarangan untuk menshare sebuah hadits. Minimal jika mau meneruskan postingan orang lain yang didalamnya terdapat hadits, lihat dulu apakah dalam postingannya itu ada disebutkan hadits riwayatnya siapa (misal HR Bukhari, HR Muslim dan yang lainnya) atau tidak. Jika tidak ada, maka sebaiknya jangan dishare terlebih dahulu karena khawatir hadits tersebut adalah tidak benar. Kemudian, sebuah hadits sangat tidak dianjurkan untuk dinukil kecuali dinukil dari kitab-kitab yang mu'tabar atau kitab-kitab yang menjadi rujukan untuk mengambil hadits. 

Al-Imam Mulla Ali Al-Qari rahimahullah berkata :

لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرآنية إلا من الكتب المداولة المشهورة لعدم الإعتماد على غيرها

“Tidak diperbolehkan menukil hadits-hadits nabi, permasalahan fiqih dan tafsir-tafsir Al-Qur'an kecuali dari kitab yang masyhur (mu'tabar), karena kitab yang lainnya tidak bisa dijadikan sebagai pedoman” (Majmu' Rasail Mulla Ali Al-Qari : 1/154)

Nah demikianlah sedikit pembahasan tentang hadits palsu bergembira menyambut datangnya bulan ramadhan. Semoga bisa berhati-hati lagi disaat membagikan sebuah postingan, terutama yang didalamnya tercantum hadits-hadits nabi.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...