Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :
(فصل): والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء فرض ويسمى بالركن أيضا (وسنة وهيئة) وهما ما عدا الفرض وبين المصنف الثلاثة في قوله (فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره) أي الفرض، وهو في الصلاة أتى به وتمت صلاته أو ذكره بعد السلام (والزمان قريب أتى به وبنى عليه) ما بقي من الصلاة (وسجد للسهو) وهو سنة كما سيأتي، لكن عند ترك مأمور به في الصلاة أو فعل منهي عنه فيها
Pasal terkait sesuatu yang ditinggalkan dari sholat, itu berjumlah tiga perkara. Yaitu fardhu, yang mana ia disebut juga dengan rukun. Kemudian sunnah ab'ad serta sunnah haiat, dan yang dua ini adalah selain daripada fardhu. Kemudian mushonnif (pengarang kitab) menjelaskan ketiga hal tersebut didalam pernyataan beliau : Fardhu itu tidak bisa diganti dengan sujud sahwi.
Bahkan disaat dia ingat telah meninggalkan hal yang fardhu dan posisinya masih didalam sholat, maka wajib bagi dia untuk melakukan fardhu yang telah ditinggalkan kemudian sholatnya dianggap selesai. Atau jika ingat setelah salam dan waktunya masih sebentar (dari saat melakukan salam), maka wajib bagi dia untuk melakukan fardhu yang ditinggalkan dan meneruskan apa yang tersisa dari sholatnya kemudian (dianjurkan) melakukan sujud sahwi. Adapun sujud sahwi, itu hukumnya sunnah seperti yang akan dijelaskan. Akan tetapi hukum seperti ini adalah disaat meninggalkan perkara yang dianjurkan (seperti qunut shubuh) atau melakukan perkara yang dilarang didalam sholat.
(والسنة) إن تركها المصلي (لا يعود إليها بعد التلبس بالفرض) فمن ترك التشهد الأول مثلا فذكره بعد اعتداله مستويا لا يعود إليه فإن عاد إليه عامدا عالما بتحريمه بطلت صلاته، أو ناسياً أنه في الصلاة أو جاهلا فلا تبطل صلاته، ويلزمه القيام عند تذكره، وإن كان مأموما عاد وجوبا لمتابعة إمامه
Kemudian, sunnah ab'ad disaat ditinggalkan oleh orang yang sedang sholat, maka dia tidak diperbolehkan untuk kembali melakukannya setelah dia dalam posisi melakukan bagian fardhu. Oleh karena itu barang siapa yang semisal meninggalkan tasyahud awal, kemudian dia ingat setelah dalam posisi berdiri tegak, maka dia tidak diperbolehkan untuk kembali ke posisi tasyahud. Dan jika dia kembali ke posisi tasyahud dalam keadaan tau bahwa hal itu diharamkan, maka batal sholatnya.
Atau jika dalam keadaan lupa bahwa dia sedang melakukan sholat, atau tidak tau bahwa hal itu diharamkan, maka sholatnya tidak batal tapi harus berdiri ketika sudah ingat. Dan jika dia adalah seorang makmum, maka wajib untuk kembali ke posisi tasyahud karena untuk mengikuti imamnya.
(لكنه يسجد للسهو عنها) في صورة عدم العود أو العود ناسيا وأراد المصنف بالسنة هنا الأبعاض الستة، وهي التشهد الأول وقعوده والقنوت في الصبح، وفي آخر الوتر في النصف الثاني من رمضان والقيام للقنوت، والصلاة على النبي في التشهد الأول، والصلاة على الآل في التشهد الأخير. والهيئة كالتسبيحات ونحوها مما لا يجبر بالسجود (لا يعود) المصلي (إليها بعد تركها ولا يسجد للسهو عنها) سواء تركها عمدا أو سهوا
Akan tetapi disunnahkan baginya untuk melakukan sujud sahwi ketika dalam keadaan tidak kembali, atau kembali ke posisi tasyahud dalam keadaan lupa. Dan yang dimaksud mushonnif (pengarang kitab) dengan sunnah disini adalah sunnah-sunnah ab'ad yang berjumlah enam perkara. Yaitu tasyahud awal, duduk tasyahud awal, qunut didalam sholat shubuh dan diakhir sholat witir pada separuh bulan kedua dari bulan ramadhan, kemudian berdiri untuk melakukan qunut, dan bacaan sholawat untuk nabi didalam tasyahud awal, serta bacaan sholawat untuk keluarga nabi didalam tasyahud akhir.
Adapun sunnah haiat adalah semisal bacaan-bacaan tasbih dan sejenisnya dari kesunnahan-kesunnahan yang tidak diganti dengan sujud sahwi. Dan setelah meninggalkan sunnah-sunnah haiat ini, maka orang yang sholat tidak perlu untuk kembali melakukannya. Dan tidak perlu juga untuk melakukan sujud sahwi entah dia meninggalkannya secara sengaja ataupun karena lupa.
(وإذا شك) المصلي (في عدد ما أتى به من الركعات) كمن شك هل صلى ثلاثا أو أربعا (بنى على اليقين وهو الأقل) كالثلاثة في هذا المثال وأتى بركعة (وسجد للسهو) ولا ينفعه غلبة الظن أنه صلى أربعا، ولا يعمل بقول غيره له أنه صلى أربعا، ولو بلغ ذلك القائل عدد التواتر (وسجود السهو سنة) كما سبق (ومحله قبل السلام) فإن سلم المصلي عامدا عالما بالسهو أو ناسيا وطال الفصل عرفا فات محله، وإن قصر الفصل عرفا لم يفت وحينئذ فله السجود وتركه
Dan jika orang yang sholat merasa ragu terkait jumlah rakaat, semisal orang yang ragu apakah dia sudah melakukan tiga rakaat atau empat rakaat, maka hendaklah dia melakukan apa yang diyakininya. Yaitu jumlah terkecil seperti tiga rakaat didalam contoh ini, dan hendaknya dia menambah satu rakaat kemudian disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi.
Adapun perihal dugaan kuat bahwa dia sudah melakuan empat rakaat, maka hal itu tidak bisa dijadikan pegangan. Dan dia juga tidak diperbolehkan untuk mengikuti ucapan orang lain yang mengatakan kepadanya bahwa dia sudah melakukan empat rakaat meskipun jumlah mereka mencapai jumlah yang mutawatir (maksudnya banyak yang bilang seperti itu). Dan sujud sahwi ini hukumnya adalah sunnah sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, dan tempat melakukannya adalah sebelum salam.
Oleh karena itu jika orang yang sholat melakukan salam dengan sengaja dan tau bahwa dia disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi, atau lupa namun waktunya cukup lama menurut kebiasaan (orang setempat), maka kesunnahan untuk melakukan sujud sahwi itu sudah hilang. Namun jika waktunya masih terbilang sebentar, maka waktu untuk melakukannya tidaklah hilang dan saat itu dia diperbolehkan untuk melakukan sujud sahwi dan boleh pula tidak melakukannya.
📕 (Fathul Qarib, hlm. 88-90 Maktabah Syamilah)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar