Selasa, 04 Juli 2023

FATHUL QARIB - FARDHU/RUKUN WUDHU


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): في فروض الوضوء. وهو بضم الواو في الأشهر اسم للفعل، وهو المراد هنا وبفتح الواو اسم لما يتوضأ به، ويشتمل الأول على فروض وسنن، وذكر المصنف الفروض في قوله: (وفروض الوضوء ستة أشياء)

(Pasal) yang menjelaskan tentang fardhu wudhu. 

Lafadz wudhu dengan dibaca dhommah huruf wawunya, menurut pendapat yang paling masyhur adalah nama perbuatannya. Namun ketika dibaca fathah huruf wawunya, wudhu adalah nama benda yang digunakan untuk melakukan wudhu. Dan lafadz yang pertama (yakni wudhu) itu mencakup beberapa fardhu dan beberapa kesunnahan. Mushonnif (pengarang kitab) menyebutkan fardhu-fardhunya wudhu didalam perkatannya : Fardhunya wudhu itu ada enam perkara.

1. NIAT.

أحدها (النية) وحقيقتها شرعا قصد الشيء مقترنا بفعله، فإن تراخى عنه سمي عزما وتكون النية (عند غسل) أول جزء من (الوجه) أي مقترنة بذلك الجزء لا بجميعه، ولا بما قبله ولا بما بعده، فينوي المتوضىء عند غسل ما ذكر رفع حدث من أحداثه، أو ينوي استباحة مفتقر، إلى وضوء، أو ينوي فرض الوضوء، أو الوضوء فقط، أو الطهارة عن الحدث، فإن لم يقل عن الحدث لم يصح، وإذا نوى ما يعتبر من هذه النيات وشرك معه نية تنظف أو تبرد صح وضوءه

Fardhu wudhu yang pertama adalah niat. Dan hakikat niat secara syariat adalah menyengaja sesuatu dibarengi dengan melakukannya. Namun jika melakukannya diakhirkan daripada menyengajakannya, maka disebut 'azm. Niat wudhu itu dilakukan disaat membasuh awal bagian dari wajah, maksudnya bersamaan dengan basuhan bagian tersebut, bukan sebelumnya dan bukan setelahnya. Sehingga disaat membasuh anggota tersebut, maka orang yang berwudhu itu berniat untuk menghilangkan hadas dari hadas-hadas yang ada pada dirinya. Atau dengan berniat agar diperkenankan melakukan sesuatu yang membutuhkan wudhu, atau hanya sekedar berniat untuk wudhu saja, dan berniat untuk bersuci dari hadas. Oleh karena itu jika tidak menyebutkan kalimat dari hadats (yakni dalam artian hanya niat bersuci saja), maka wudhunya tidak sah. Maka disaat dia sudah berniat yang dianggap sah dari niat-niat diatas, kemudian dia menyertakan niat membersihkan badan atau berniat untuk menyegarkan badan, maka wudhunya tetap sah.

2. MEMBASUH WAJAH.

(و) الثاني (غسل) جميع (الوجه) وحدّه طولا ما بين منابت شعر الرأس غالبا وآخر اللحيين، وهما العظمان اللذان ينبت عليهما الأسنان، السفلى يجتمع مقدمهما في الذقن، ومؤخرهما في الأذنين وحده عرضا ما بين الأذنين. وإذا كان على الوجه شعر خفيف أو كثيف، وجب إيصال الماء إليه مع البشرة التي تحته، وأما لحية الرجل الكثيفة بأن لم ير المخاطب بشرتها من خلالها، فيكفي غسل ظاهرها بخلاف الخفيفة، وهي ما يرى المخاطب بشرتها، فيجب إيصال الماء لبشرتها، وبخلاف لحية امرأة وخنثى، فيجب إيصال الماء لبشرتهما ولو كثفا، ولا بد مع غسل الوجه من غسل جزء من الرأس والرقبة وما تحت الذقن

Fardhu wudhu yang kedua adalah membasuh seluruh wajah. Dan batasan panjang wajah adalah anggota diantara tempat-tempat yang umumnya tumbuh rambut kepala serta pangkalnya (lahyaini). Lahyaini adalah dua tulang tempat tumbuhnya gigi bawah, ujungnya bertemu pada jenggot dan pangkalnya berada pada telinga. Adapun batasan lebar wajah adalah anggota diantara kedua telinga.

Ketika pada wajah terdapat bulu yang tipis atau bulu yang lebat, maka wajib mengalirkan air pada bulu tersebut beserta kulit yang berada dibaliknya atau dibawahnya. Namun untuk jenggotnya laki-laki yang lebat dengan gambaran orang yang diajak bicara itu tidak bisa melihat kulit yang berada dibalik jenggot tersebut dari sela-selanya, maka cukup dengan membasuh bagian luarnya saja. Berbeda halnya dengan jenggot yang tipis, yaitu jenggot yang berada dibaliknya bisa terlihat oleh orang yang diajak bicara, maka wajib mengalirkan air hingga ke bagian kulit yang ada dibaliknya. Dan berbeda lagi dengan jenggotnya perempuan dan khuntsa (orang yang memiliki dua kelamin), maka wajib mengalirkan air ke bagian kulit yang berada dibalik jenggot keduanya meskipun jenggotnya lebat. Dan disamping harus membasuh seluruh wajah, maka harus juga membasuh sebagian dari kepala, leher dan anggota yang berada dibawah jenggot.

3. MEMBASUH KEDUA TANGAN (SAMPAI SIKUT).

(و) الثالث (غسل اليدين إلى المرفقين) فإن لم يكن له مرفقان اعتبر قدرهما، ويجب غسل ما على اليدين من شعر (وسلعة، وأصبع زائدة وأظافير، ويجب إزالة ما تحتها من وسخ يمنع وصول الماء إليه)

Fardhu wudhu yang ketiga adalah membasuh kedua tangan sampai kedua sikut. Namun jika seseorang tidak memiliki dua sikut, maka yang dipertimbangkan adalah kira-kiranya. Dan wajib membasuh perkara-perkara yang berada pada kedua tangan. Yaitu bulu, jari tambahan serta kuku. Dan wajib untuk menghilangkan perkara yang berada pada bawah kuku, yaitu kotoran-kotoran yang bisa mencegah masuknya air ke dalamnya.

4. MENGUSAP KEPALA.

(و) الرابع (مسح بعض الرأس) من ذكر أو أنثى أو خنثى، أو مسح بعض شعر في حد الرأس. ولا تتعين اليد للمسح، بل يجوز بخرقة وغيرها، ولو غسل رأسه بدل مسحها جاز ولو وضع يده المبلولة، ولم يحركها جاز

Fardhu wudhu yang keempat adalah mengusap sebagian kepala baik itu laki-laki, perempuan maupun khuntsa (orang yang memiliki dua kelamin). Atau mengusap sebagian rambut yang masih berada pada batas kepala. Dan tidak mesti harus menggunakan tangan untuk mengusap kepala, bahkan bisa juga dengan menggunakan kain atau yang lainnya. Oleh karena itu seandainya dia membasuh kepala sebagai ganti dari mengusapnya, maka yang demikian itu adalah diperbolehkan. Dan seandainya dia meletakkan tangannya (diatas kepala) yang telah dibasahi dan tidak mengerakkannya, maka yang demikian itu juga diperbolehkan.

5. MEMBASUH KEDUA KAKI.

(و) الخامس (غسل الرجلين إلى الكعبين) إن لم يكن المتوضىء لابسا للخفين، فإن كان لابسهما وجب عليه مسح الخفين أو غسل الرجلين، ويجب غسل ما عليهما من شعر وسلعة وأصبع زائدة كما سبق في اليدين

Fardhu wudhu yang ke lima adalah membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki jika orang yang berwudhu tersebut tidak (sedang) memakai dua khuf (sepatu). Namun jika dia (sedang) memakai dua khuf (sepatu), maka wajib bagi dia untuk mengusap kedua khuf tersebut atau membasuh kedua kakinya. Dan wajib membasuh perkara-perkara yang berada pada kedua kaki. Yaitu bulu, daging tambahan, dan jari tambahan sebagaimana keterangan yang telah dijelaskan didalam permasalahan kedua tangan.

6. TERTIB.

(و) السادس (الترتيب) في الوضوء (على ما) أي الوجه الذي (ذكرناه) في عد الفروض، فلو نسي الترتيب لم يكف، ولو غسل أربعة أعضاءه دفعة واحدة بإذنه ارتفع حدث وجهه فقط

Fardhu wudhu yang ke enam adalah tertib saat melalukan wudhu sesuai dengan cara yang telah dijelaskan dalam urutan-urutan fardhunya wudhu. Sehingga jika seseorang lupa tidak tertib, maka wudhu yang dilakukannya itu tidak mencukupi. Maka dari itu jika misalnya ada empat orang yang membasuh seluruh anggota wudhunya seseorang dengan izinnya, maka yang hilang hanyalah hadas wajahnya saja (alias tidak seluruhnya).

📕 Fathul Qarib, hlm. 31-32 Maktabah Syamilah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...