Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :
(فصل): في قصر الصلاة وجمعها (ويجوز للمسافر) أي المتلبس بالسفر (قصر الصلاة الرباعية) لا غيرها من ثنائية وثلاثية
Pasal terkait qoshor dan jamak sholat.
Diperbolehkan bagi seorang musafir, yaitu orang yang sedang bepergian untuk mengqoshor sholatnya yang berjumlah empat rakaat, bukan yang lainnya dari sholat yang berjumlah dua atau tiga rakaat.
SYARAT-SYARAT QOSHOR
وجواز قصر الصلاة الرباعية (بخمس شرائط) الأول (أن يكون سفره) أي الشخص (في غير معصية) هو شامل للواجب كقضاء دين، وللمندوب كصلة الرحم، وللمباح كسفر تجارة، أما سفر المعصية كالسفر لقطع الطريق فلا يترخص فيه بقصر ولا جمع (و) الثاني (أن تكون مسافته) أي السفر (ستة عشر فرسخا) تحديداً في الأصح ولا تحسب مدة الرجوع منها، والفرسخ ثلاثة أميال، وحينئذ فمجموع الفراسخ ثمانية وأربعون ميلا، والميل أربعة آلاف خطوة، والخطوة ثلاثة أقدام، والمراد بالأميال الهاشمية (و) الثالث (أن يكون) القاصر (مؤديا للصلاة الرباعية) أما الفائتة حضرا فلا تقضى فيه مقصورة، والفائتة في السفر تقضى فيه مقصورة لا في الحضر (و) الرابع (أن ينوي) المسافر (القصر) للصلاة (مع الإحرام) بها (و) الخامس (أن لا يأتم) في جزء من صلاته (بمقيم) أي بمن يصلي صلاة تامة ليشمل المسافر المتم
Diperbolehkan mengqoshor sholat (saat bepergian) dengan lima syarat :
1. Yang pertama adalah perjalanan yang dilakukan bukan untuk maksiat. Yaitu mencakup perjalanan wajib seperti untuk melunasi hutang, lalu perjalanan sunnah seperti untuk silaturahim, dan perjalanan mubah seperti untuk berdagang. Adapun perjalanan maksiat seperti perjalanan untuk merampok, maka saat melakukan perjalanan ini seseorang tidak diperbolehkan melakukan keringanan qoshor sholat dan jamak.
2. Yang kedua adalah jarak perjalanannya harus mencapai enam belas farsakh secara yakin menurut pendapat yang shohih, adapun jarak yang ditempuh saat pulang itu tidak dihitung. Satu farsakh ini (kira-kira) adalah tiga mil. Jika demikian, maka jumlah seluruh farsakh tersebut adalah empat puluh delapan mil. Adapun satu milnya (kira-kira) adalah empat ribu jangka kaki, dan satu jangka itu sama dengan tiga telapak kaki. Kemudian yang dimaksud dengan mil disini adalah ukuran mil (yang ditentukan oleh) keturunan bani hasyim.
3. Yang ke tiga adalah orang yang melakukan qoshor haruslah orang yang melakukan sholat empat rakaat secara ada'an (bukan qodho). Adapun sholat yang tertinggal saat masih berada dirumah, maka tidak diperbolehkan diqodho secara qoshor saat melakukan perjalanan. Sedangkan sholat yang tertinggal diperjalanan, maka boleh diqodho dengan cara qoshor saat melakukan perjalanan, bukan diqodho dirumah.
4. Yang ke empat adalah seorang musafir harus berniat untuk melakukan qoshor bersamaan saat takbiratul ihram sholat tersebut.
5. Dan yang ke lima adalah orang yang mengqoshor sholat tidak bermakmum didalam sebagian sholatnya pada orang yang mukim, yaitu orang yang melakukan sholat secara sempurna (didaerah tempat tinggalnya). Penafsiran seperti ini (yakni orang yang sholat secara sempurnya) adalah agar mencakup untuk seorang musafir yang melakukan sholat secara sempurna (juga).
📕 (Fathul Qarib, hlm. 94-95 Maktabah Syamilah)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar