Kamis, 06 Juli 2023

FATHUL QARIB - SHOLAT WAJIB & WAKTU-WAKTU-WAKTUNYA


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

كتاب أحكام الصلاة، وهي لغة الدعاء وشرعا كما قال الرافعي أقوال وأفعال مفتتحة بالتكبير مختتمة بالتسليم بشرائط مخصوصة

Kitab hukum-hukum sholat. 

Sholat secara bahasa adalah doa, adapun secara syariat itu sebagaimana yang dikatakan oleh imam Ar-Rafi'i. Yakni ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam disertai syarat-syarat tertentu.

NAMA & WAKTU SHOLAT WAJIB.

(والصلاة المفروضة) وفي بعض النسخ الصلوات المفروضات (خمس) يجب كل منها بأول الوقت وجوبا موسعا إلى أن يبقى من الوقت ما يسعها فيضيق حينئذ

Sholat yang difardhukan itu ada lima, didalam sebagian redaksi matan menggunkan kalimat sholat-sholat yang difardhukan. Masing-masing dari sholat tersebut adalah wajib dilaksanakan karena masuknya awal waktu dengan kewajiban yang diperluas, (yakni tidak harus segera dilakukan) sampai waktu yang tersisa hanya cukup digunakan untuk melaksanakannya. Oleh karenanya saat itu waktunya menjadi sempit (dan harus segera dilaksanakan).

SHOLAT DZUHUR.

(الظهر) أي صلاته. قال النووي: سميت بذلك لأنها ظاهرة وسط النهار (وأول وقتها زوال) أي ميل (الشمس) عن وسط السماء لا بالنظر لنفس الأمر، بل لما يظهر لنا ويعرف ذلك الميل بتحول الظل إلى جهة المشرق بعد تناهي قصره الذي هو غاية ارتفاع الشمس (وآخره) أي وقت الظهر (إذا صار ظل كل شيء مثله بعد) أي غير (ظل الزوال) والظل لغة الستر تقول أنا في ظل فلان أي ستره، وليس الظل عدم الشمس كما قد يتوهم، بل هو أمر وجودي يخلقه الله تعالى لنفع البدن وغيره

(Yang pertama adalah) sholat dzuhur, imam Nawawi mengatakan bahwa sholat ini disebut dengan dzuhur karena sholat ini nampak jelas ditengah hari. Awal masuknya waktu sholat dzuhur adalah saat tergelincirnya (matahari), maksudnya adalah bergesernya matahari dari tengah langit, tidak dilihat dari kenyataannya, namun pada apa yang nampak oleh kita.

Pergeseran tersebut bisa diketahui dengan bergesernya bayang-bayang ke arah timur setelah posisinya tepat berada ditengah-tengah, yaitu puncak posisi tingginya matahari. Adapun batas akhirnya waktu sholat dzuhur adalah ketika bayang-bayang setiap benda seukuran dengan bendanya tanpa memasukkan bayang-bayang yang nampak saat waktu zawal (yaitu gesernya matahari).

Kalimat dhil secara bahasa bermakna penutup (atau pelindung), hingga dikatakan : Aku berada dibawah dhilnya fulan, maksudnya adalah (berada dalam) perlindungannya. Kemudian, bayang-bayang itu bukan berarti tidak adanya sinar matahari sebagaimana yang disalah fahami (oleh sebagian orang), akan tetapi bayang-bayang tersebut adalah perkara wujud yang diciptakan oleh Allah untuk kemanfaatan badan dan yang lainnya.

SHOLAT ASHAR.

(والعصر) أي صلاتها، وسميت بذلك لمعاصرتها وقت الغروب (وأول وقتها الزيادة على ظل المثل) وللعصر خمسة أوقات أحدها وقت الفضيلة، وهو فعلها أول الوقت والثاني وقت الاختيار وأشار له المصنف بقوله (وآخره في الاختيار إلى ظل المثلين) والثالث وقت الجواز وأشار له بقوله (وفي الجواز إلى غروب الشمس) والرابع وقت جواز بلا كراهة، وهو من مصير الظل مثلين إلى الاصفرار، والخامس وقت تحريم وهو تأخيرها إلى أن يبقى من الوقت ما لا يسعها

(Yang kedua adalah) ashar, maksudnya sholat ashar. Sholat ini disebut dengan sholat ashar karena pelaksanaannya mendekati waktu terbenamnya matahari. Awal waktu sholat ashar adalah mulai dari bertambahnya bayangan dari ukuran benda (saat tersinari matahari). Sholat ashar ini memiliki lima waktu. Salah satunya adalah waktu fadhilah, yaitu awal waktu.

Kemudian yang kedua adalah waktu ikhtiyar. Waktu ini diisyarati oleh mushonnif (pengarang kitab) dengan pernyataan beliau : Akhir waktu sholat ashar didalam waktu ikhtiyar adalah sampai ukuran bayang-bayang menjadi dua kali lipat dari ukuran bendanya.

Lalu yang ketiga adalah waktu jawaz. Waktu ini diisyarati oleh mushonnif (pengarang kitab) dengan pernyataan beliau : Dan didalam waktu jawaz sampai terbenamnya matahari.

Adapun yang ke empat adalah waktu jawaz tanpa disertai hukum makruh, yaitu disaat ukuran bayang-bayang dua kali lipat dari ukuran bendanya hingga waktu ishfiror (samar-samar).

Dan yang ke lima adalah waktu tahrim (atau haram), yaitu mengakhirkan pelaksanaan sholat hingga waktu yang tersisa tidak cukup untuk melaksanakannya.

SHOLAT MAGHRIB.

(والمغرب) أي صلاتها وسميت بذلك لفعلها وقت الغروب (ووقتها واحد وهو غروب الشمس) أي بجميع قرصها ولا يضر بقاء شعاع بعده (وبمقدار ما يؤذن) أي الشخص (ويتوضأ) أو يتيمم (ويستر العورة ويقيم الصلاة ويصلي خمس ركعات) وقوله وبمقدار الخ ساقط من بعض نسخ المتن، فإن انقضى المقدار المذكور خرج وقتها هذا هو القول الجديد، والقديم ورجحه النووي أن وقتها يمتد إلى مغيب الشفق الأحمر

(Yang ke tiga adalah) maghrib, maksudnya sholat maghrib. Sholat ini disebut dengan sholat maghrib karena dikerjakan pada waktu terbenamnya matahari. Waktu sholat maghrib ini hanya satu, yaitu terbenamnya matahari, maksudnya seluruh bulatan matahari. Dan (sebenarnya) tidak masalah meskipun setelah itu masih terlihat sorotnya (matahari) kira-kira waktu yang cukup bagi seseorang untuk melakukan adzan, wudhu, tayamum, menutup aurat, iqomah sholat dan sholat lima rakaat.

Perkataan mushonnif (pengarang kitab) وبمقدار إِلخ itu terbuang dari sebagian redaksi matan. Oleh karena itu disaat kadar waktu diatas sudah habis, maka waktu maghrib sudah keluar, dan ini merupakan qoul jadid (pendapat baru). Sedangkan qoul qodim (pendapat sebelumnya) yang kemudian diunggulkan oleh imam Nawawi adalah sesungguhnya waktu sholat maghrib itu memanjang hingga terbenamnya mega merah.

SHOLAT ISYA.

(والعشاء) بكسر العين ممدودا اسم لأول الظلام وسميت الصلاة بذلك لفعلها فيه (وأول وقتها إذا غاب الشفق الأحمر) وأما البلد الذي لا يغيب فيه الشفق، فوقت العشاء في حق أهله أن يمضي بعد الغروب زمن يغيب فيه شفق أقرب البلاد إليهم ولها وقتان: أحدهما اختيار وأشار له المصنف بقوله (وآخره) يمتد (في الاختيار إلى ثلث الليل) والثاني جواز وأشار له بقوله (وفي الجواز إلى طلوع الفجر الثاني) أي الصادق وهو المنتشر ضوءه معترضا بالأفق، وأما الفجر الكاذب، فيطلع قبل ذلك لا معترضا بل مستطيلا ذاهبا في السماء ثم يزول وتعقبه ظلمة، ولا يتعلق به حكم وذكر الشيخ أبو حامد أن للعشاء وقت كراهة وهو ما بين الفجرين

(Yang ke empat adalah) sholat isya. Kalimat isya dengan dibaca kasroh huruf 'ainnya adalah nama bagi permulaan petang. Dan sholat ini disebut dengan isya karena dikerjakan pada awal petang yang awal waktunya adalah disaat terbenamnya mega merah.

Kemudian, daerah yang tidak terbenam mega merahnya, maka waktu isya bagi penduduknya adalah setelah ternggelamnya matahari, dan sudah melewati waktu tenggelamnya megah merah daerah yang terdekat diantara mereka.

Sholat isya ini memiliki dua waktu, salah satunya adalah waktu ikhtiyar. Dan diisyaratkan oleh mushonnif (pengarang kitab) dengan pernyataan beliau : Akhir waktu ikhtiyar sholat isya adalah memanjang hingga sepertiga malam yang pertama.

Kemudian yang kedua adalah waktu jawaz. Dan mushonnif (pengarang kitab) telah memberi isyarat tentang waktu ini dengan pernyataan beliau : Dan didalam waktu jawaz hingga terbitnya fajar kedua, maksudnya fajar shodiq. Yaitu fajar yang menyebar dan membentang sinarnya ke angkasa. Adapun fajar kadzib, maka terbitnya itu sebelum fajar shodiq dan tidak membentang, akan tetapi memanjang naik ke atas langit kemudian hilang dan diikuti oleh kegelapan malam. Dan tidak ada hukum yang terkait dengan fajar ini. Adapun syeikh Abu Hamid menjelaskan bahwa sholat isya itu memiliki waktu karohah, yaitu waktu diantara dua fajar malam yang pertama.

SHOLAT SHUBUH.

(والصبح) أي صلاته وهو لغة أول النهار وسميت الصلاة بذلك لفعلها في أوله ولها كالعصر خمسة أوقات: أحدها وقت الفضيلة وهو أول الوقت. والثاني وقت اختيار وذكره المصنف في قوله (وأول وقتها طلوع الفجر الثاني وآخره في الاختيار إلى الإسفار) وهو الإضاءة. والثالث وقت الجواز وأشار له المصنف بقوله (وفي الجواز) أي بكراهة (إلى طلوع الشمس). والرابع جواز بلا كراهة إلى طلوع الحمرة. والخامس وقت تحريم وهو تأخيرها إلى أن يبقى من الوقت ما لا يسعها

(Yang terakhir adalah) shubuh, maksudnya sholat shubuh. Secara bahasa, shubuh memiliki arti permulaan siang (yakni pagi). Disebut shubuh karena dilaksanakan pada permulaan siang. Dan seperti halnya sholat ashar, sholat shubuh juga memiliki lima waktu. Salah satunya adalah waktu fadhilah, yakni awal waktu.

Kemudian yang kedua adalah waktu ikhtiyar. Mushonnif (pengarang kitab) telah menjelaskannya didalam pernyataan beliau : Awal waktu sholat shubuh adalah mulai terbitnya fajar yang kedua, dan akhirnya didalam waktu ikhtiyar adalah hingga isfar, yaitu waktu yang sudah terang.

Lalu yang ketiga adalah waktu jawaz. Dan mushonnif (pengarang kitab) telah mengisaratkannya dengan pernyataan beliau : Didalam waktu jawaz, maksudnya disertai dengan hukum makruh adalah sampai terbitnya matahari.

Adapun yang ke empat adalah waktu jawaz yang tanpa disertai hukum makruh, yakni sampai terbitnya mega merah.

Dan yang ke lima adalah waktu tahrim (atau haram), yakni mengakhirkan pelaksanaan sholat shubuh sampai waktu yang tersisa tidak cukup untuk melaksanakannya.

📕 Fathul Qarib, hlm. 66-69 Maktabah Syamilah

3 komentar:

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...