Sabtu, 08 Juli 2023

FATHUL QARIB - SYARAT SAHNYA SHOLAT


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(فصل): وشرائط الصلاة قبل الدخول فيها خمسة أشياء. والشروط جمع شرط، وهو لغة العلامة وشرعا ما تتوقف صحة الصلاة عليه، وليس جزءا منها، وخرج بهذا القيد الركن، فإنه جزء من الصلاة

Pasal terkait syarat-syarat sebelum melakukan sholat itu ada lima perkara.

Kalimat الشروط adalah bentuk jamak dari kalimat شرط yang secara bahasa artinya adalah tanda. Adapun secara syariat adalah sesuatu yang menentukan sahnya sholat, namun bukan bagian dari sholat. Oleh karena itu dengan pengertian ini maka dikecualikan untuk rukun, karena rukun adalah bagian dari sholat.

الشرط الأول (طهارة الأعضاء من الحدث) الأصغر والأكبر عند القدرة، أما فاقد الطهورين فصلاته صحيحة مع وجوب الإعادة عليه (و) طهارة (النجس) الذي لا يعفى عنه في ثوب وبدن ومكان، وسيذكر المصنف هذا الأخير قريبا

1. Syarat sahnya yang pertama adalah sucinya anggota badan dari hadas kecil dan hadas besar ketika mampu dilakukan. Adapun ketika tidak mampu dilakukan (karena tidak menemukan dua alat untuk bersuci yakni air dan debu), maka sholatnya tetap sah namun wajib untuk mengulanginya (ketika sudah mampu bersuci). Kemudian juga harus suci dari najis yang tidak dimaafkan pada pakaian, badan dan tempat (sholat).

(و) الثاني (ستر) لون (العورة) عند القدرة، ولو كان الشخص خاليا في ظلمة، فإن عجز عن سترها صلى عاريا ولا يومىء بالركوع والسجود، بل يتمهما ولا إعادة عليه ويكون ستر العورة (بلباس طاهر) ويجب سترها أيضا في غير الصلاة عن الناس، وفي الخلوة إلا لحاجة من اغتسال ونحوه، وأما سترها عن نفسه فلا يجب، لكنه يكره نظره إليها، وعورة الذكر ما بين سرّته وركبته، وكذا الأمة وعورة الحرة في الصلاة ما سوى وجهها وكفيها ظهرا وبطنا إلى الكوعين، أما عورة الحرة خارج الصلاة، فجميع بدنها وعورتها في الخلوة كالذكر، والعورة لغة النقص وتطلق شرعا على ما يجب ستره، وهو المراد هنا وعلى ما يحرم نظره، وذكره الأصحاب في كتاب النكاح

2. Syarat sahnya sholat yang kedua adalah menutup warna aurat jika mampu dilakukan meskipun seseorang (sedang melakukan sholat) sendirian ditempat yang gelap. Adapun jika tidak mampu, maka dia sholat sembari telanjang. Kemudian dia tidak berisyarat pada ruku dan sujud, namun tetap menyempurnakan keduanya. Dalam keadaan demikian dia tidak wajib mengulangi sholatnya. 

Adanya penutup aurat tersebut adalah dengan pakaian yang suci. Dan wajib pula aurat tersebut ditutup pada selain sholat dari pandangan manusia, kemudian ditutup ditempat sepi kecuali karena adanya keperluan seperti mandi dan semisalnya. Adapun menutup aurat dari pandangan dirinya (sendiri), maka hal itu tidak wajib. Akan tetapi makruh memandang (aurat diri sendiri). 

Aurat laki-laki adalah apa yang nampak diantara pusar dan lututnya, sedangkan auratnya seorang budak perempuan itu sama seperti halnya aurat laki-laki. Adapun aurat perempuan merdeka didalam sholat adalah apa yang nampak selain wajah dan kedua telapak tangannya sampai sendi pergelangan tangan. Sedangkan aurat perempuan merdeka diluar sholat adalah seluruh tubuhnya (termasuk wajah dan telapak tangan). Lalu aurat perempuan merdeka ditempat yang sepi (atau saat sendirian) adalah seperti auratnya laki-laki (yakni antara pusar dan lutut. 

Aurat secara bahasa adalah apa-apa yang kurang, sedangkan secara syariat adalah sesuatu yang wajib untuk ditutupi. Sesuatu yang menurut syariat itu adalah yang dimaksud pada pasal ini, dan terhadap apa yang haram memandangnya maka para ulama madzhab syafi'i telah menjelaskannya pada bab nikah.

(و) الثالث (الوقوف على مكان طاهر) فلا تصح صلاة شخص يلاقي بعض بدنه أو لباسه نجاسة في قيام أو قعود أو ركوع أو سجود

3. Syarat sahnya sholat yang ke tiga adalah berdiri ditempat yang suci. Maka tidak sah sholatnya seseorang yang sebagian badan atau pakaiannya bertemu najis saat berdiri, duduk, ruku atau sujud

(و) الرابع (العلم بدخول الوقت) أو ظن دخوله بالاجتهاد، فلو صلى بغير ذلك لم تصح صلاته، وإن صادف الوقت

4. Syarat sahnya sholat yang ke empat adalah mengetahui masuknya waktu sholat, atau dengan menyangka masuknya waktu sholat berdasarkan ijtihad. Oleh karena itu seandainya ada seseorang yang melakukan sholat tanpa semua itu, maka sholatnya tidak sah meskipun (dilakukan) pada waktunya.

(و) الخامس (استقبال القبلة) أي الكعبة وسميت قبلة لأن المصلي يقابلها، وكعبة لارتفاعها، واستقبالها بالصدر شرط لمن قدر عليه، واستثنى المصنف من ذلك ما ذكره بقوله

5. Syarat sahnya sholat yang ke lima adalah menghadap kiblat, maksudnya adalah menghadap ka'bah. Adapun ka'bah disebut kiblat karena seseorang yang melakukan sholat menghadap padanya. Dan disebut dengan ka'bah adalah karena ketinggiannya. Kemudian, menghadap kiblat dengan dada adalah syarat bagi orang yang mampu melakukannya. Dan mushonnif (pengarang kitab) mengecualikan dari hal ini, yaitu yang akan beliau katakan dibawah ini.

KEADAAN YANG MEMPERBOLEHKAN SHOLAT TIDAK MENGHADAP KIBLAT.

(ويجوز ترك استقبال القبلة) في الصلاة (في حالتين في شدة الخوف) في قتال مباح فرضا كانت الصلاة أو نفلا (وفي النافلة في السفر على الراحلة) فلمسافر سفراً مباحا، ولو قصير التنفل صوب مقصده وراكب الدابة لا يجب عليه وضع جبهته على سرجها مثلاً، بل يومىء بركوعه وسجوده، ويكون سجوده أخفض من ركوعه، وأما الماشي فيتم ركوعه وسجوده ويستقبل القبلة فيهما، ولا يمشي إلا في قيامه وتشهده

Diperbolehkan sholat dengan tidak menghadap kiblat dalam dua keadaan. Yang pertama adalah dalam keadaan sangat takut disaat sedang perang, entah yang dilakukan itu sholat fardhu ataupun sholat sunnah.

Kemudian yang ke dua adalah disaat melakukan sholat sunnah diatas kendaraan saat bepergian. Oleh karena itu seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan (yang diperbolehkan oleh syariat) walaupun jaraknya dekat, maka diperbolehkan pula untuk melakukan sholat sunnah menghadap ke arah kendaraannya (saat melaju).

Dan bagi seorang musafir yang naik kendaraan, maka tidak wajib baginya untuk meletakkan keningnya diatas pelana dan semisalnya. Akan tetapi ia diperbolehkan memberi isyarat saat ruku dan sujudnya, namun sujudnya harus lebih rendah dari pada isyarat untuk rukunya. Adapun seorang musafir yang berjalan kaki, maka dia harus menyempurnakan ruku dan sujudnya, kemudian menghadap kiblat saat melakukan keduanya, dan tidak berjalan kecuali saat berdiri dan tasyahud.

📕 Fathul Qarib, hlm. 72-74 Maktabah Syamilah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...