Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :
(ويدفن) الميت (في لحد مستقبل القبلة) واللحد بفتح اللام وضمها وسكون الحاء ما يحفر في أسفل جانب القبر من جهة القبلة قدر ما يسع الميت ويستره، والدفن في اللحد أفضل من الدفن في الشق إن صلبت الأرض والشق أن يحفر في وسط القبر كالنهر، ويبني جانباه ويوضع الميت بينهما، ويسقف عليه بلبن ونحوه، ويوضع الميت عند مؤخر القبر وفي بعض النسخ بعد مستقبل القبلة زيادة، وهي ويسل من قبل رأسه سلا برفق لا بعنف، ويقول الذي يلحده: بسم الله وعلى ملة ورسول الله
(Saat menguburkan), seorang jenazah dikuburkan didalam (liang) lahad dengan menghadap kiblat. Adapun lahad yang huruf lamnya dibaca fathah dan dhomah, kemudian huruf ha yang dibaca sukun, adalah bagian yang digali disisi liang kubur bagian bawah diarah kiblat yang kurang lebih seukuran (orang yang) bisa memuat dan menutupi jenazah.
Dan mengubur didalam lahad itu lebih utama daripada mengubur didalam syiq jika keadaan tanahnya keras. Adapun syiqq adalah galian yang berada pada bagian tengah liang kubur yang berbentuk seperti selokan air. Dibangun kedua sisinya, kemudian mayat diletakkan diantara kedua sisi tersebut dan ditutup dengan bata mentah atau sejenisnya.
Sebelum dimasukkan, maka jenazah diletakkan disisi belakang. Didalam sebagian redaksi, setelah tercantum kalimat “menghadap kiblat” itu ada tambahan keterangan yang bunyinya : Jenazah diturunkan ke liang kubur dimulai dari arah kepalanya, maksudnya dimasukkan dengan cara yang halus, tidak kasar. Dan orang yang memasukkan jenazah ke liang lahad maka dianjurkan untuk membaca : Bismillahi wa 'alaa millati rasuulillahi shallallahu 'alaihi wasallam.
(ويضجع في القبر بعد أن يعمق قامة وبسطة) ويكون الإضجاع مستقبل القبلة على جنبه الأيمن، فلو دفن مستدبر القبلة أو مستلقياً نبش ووجه للقبلة ما لم يتغير (ويسطح القبر) ولا يسنم (ولا يبني عليه ولا يجصص) أي يكره تجصيصه بالجص، وهو النورة المسماة بالجير (ولا بأس بالبكاء على الميت) أي يجوز البكاء عليه قبل الموت وبعده وتركه أولى ويكون البكاء عليه (من غير نوح) أي رفع صوت بالندب (ولا شق ثوب) وفي بعض النسخ جيب بدل ثوب والجيب طوق القميص
Kemudian jenazah diletakkan didalam kubur dengan posisi tidur miring setelah kubur tersebut digali sedalam ukuran orang yang berdiri dan orang yang melambaikan tangan. Dan posisi tidur miring tersebut harus dengan menghadap kiblat serta bertumpuh pada lambung jenazah sebelah kanan. Oleh karena itu seandainya jenazah dikubur dengan posisi membelakangi kiblat atau telentang, maka wajib digali lagi dan dihadapkan ke arah kiblat selama jenazah tersebut belum berubah (posisi dan juga keadaan tubuhnya).
Lalu bentuk kubur tersebut harus diratakan, tidak dengan cara dibentuk seperti punuk unta, kemudian tidak dibangun dan tidak ditajshish, maksudnya makruh mentajshish kuburan dengan gamping. Tajshis ini adalah kapur yang diberi nama dengan gamping.
Dan tidak apa-apa menangisi jenazah entah itu sebelum atau setelah meninggal dunia, namun tidak menangisinya itu lebih utama. (Dan jika menangisi) maka orang yang menangisi jenazah jangan sampai berteriak-teriak disertai mengeluh serta tidak sampai menyobek pakaian. Didalam sebagian redaksi matan menggunakan kalimat jaib sebagai ganti tsaub. Jaib ini maksudnya adalah kerah baju qomish.
(ويعزي أهله) أي أهل الميت صغيرهم وكبيرهم ذكرهم وأنثاهم إلا الشابة فلا يعزيها إلا محارمها، والتعزية سنة قبل الدفن وبعده (إلى ثلاثة أيام من) بعد (دفنه) إن كان المعزي، والمعزي حاضرين فإن كان أحدهما غائبا امتدت التعزية إلى حضوره. والتعزية لغة التسلية لمن أصيب بمن يعز عليه، وشرعا الأمر بالصبر والحث عليه بوعد الأجر، والدعاء للميت بالمغفرة، وللمصاب بجبر المصيبة، (ولا يدفن اثنان في قبر) واحد (إلا لحاجة) كضيق الأرض وكثرة الموتى
(Kemudian disunnahkan untuk) berta'ziyah kepada keluarga jenazah entah itu yang kecil, yang besar, laki-laki ataupun perempuan kecuali perempuan muda (yang dikhawatirkan timbul fitnah). Maka tidak (disunnahkan) untuk berta'ziyah kepada perempuan muda selain orang-orang yang memiliki ikatan mahram dengannya.
Berta'ziyah ini sunnah dilakukan sebelum dan setelah dilakukan pemakaman sampai tiga hari terhitung sejak setelah pemakaman jika orang yang berta'ziyah dan yang dita'ziyahi tidak sedang safar (atau bepergian). Dan jika salah satunya sedang tidak ada ditempat, maka waktu kesunnahan berta'ziyah tetap terus berlangsung sampai kedatangannya.
Secara bahasa, ta'ziyah ini artinya adalah menghibur orang yang terkena musibah sebab (ditinggal) oleh orang yang dikasihinya. Sedangkan secara syariat adalah perintah dan dorongan untuk bersabar dengan menjanjikan pahala serta berdoa untuk jenazah agar mendapat ampunan, dan juga untuk orang yang terkena musibah agar musibahnya mendapatkan ganti yang lebih baik.
Dan tidak diperbolehkan menguburkan dua orang didalam satu liang lahad kecuali karena adanya hajat semisal sempitnya lahan dan terlalu banyaknya orang yang meninggal dunia.
📕 (Fathul Qarib, hlm. 116-118 Maktabah Syamilah)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar