Rabu, 22 Februari 2023

GHIBAH YANG DIPERBOLEHKAN


Pada dasarnya ghibah itu merupakan sebuah perbuatan tercela yang dilarang oleh agama. Tapi dalam satu atau beberapa keadaan seseorang boleh menempuh jalan tersebut untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang hendak dituju.

Banyak contoh yang menyebutkan terkait kebolehan ghibah, semisal ketika mengadukan seorang maling ke polisi. Pada hakikatnya menyebut perilaku si maling itu kan merupakan ghibah (karena menyebut keburukannya), namun hal ini diperbolehkan karena suatu maslahat yang ingin dicapai.

Berikut ini enam hal terkait kebolehan melakukan ghibah :

1. At-Tadzollum, yaitu pengaduan atas kedzoliman yang menimpa. Maka orang yang terdzolimi boleh menyebutkan kedzoliman seseorang terhadap dirinya dan mengadukannya kepada penegak hukum dan pihak yang memiliki kemampuan untuk menyadarkan orang yang mendzoliminya tersebut.

2. Al-isti'anah, yaitu meminta pertolongan untuk mengubah sebuah kemunkaran dan mengembalikan perbuatan orang yang bermaksiat kepada kebenaran. Seperti mengatakan kepada orang yang diharapkan mampu menghilangkan kemunkaran: Si fulan telah berbuat begini (yaitu perbuatan buruk), maka cegahlah dia.

3. Al-Istifta, yaitu meminta fatwa seperti perkataan seorang peminta fatwa kepada seorang mufti: Saya didzolimi oleh oleh fulan ayah, ibu, sodara atau yang lainnya.

4. At-Tahdzir, yaitu memperingatkan seluruh kaum muslimin dari perbuatan buruk seseorang serta untuk memberi nasihat kepada mereka.

5. Yaitu menyebutkan perbuatan buruk seseorang yang menampakkan kefasikan serta perilaku maksiatnya. Seperti orang yang menampakkan diri saat minum khomr didepan umum.

6. Yaitu memberi julukan tertentu kepada seseorang. Semisal ada orang yang sudah dikenal dengan julukan si buta dan si bisu, maka tidak apa-apa menyebutnya seperti itu. Namun penyebutan julukan tersebut jika untuk menunjukkan kelemahan pribadi orang yang diberi julukan tersebut maka tidak diperbolehkan.

Sumber referensi :

اعلم أن الغيبة تباح لغرض صحيح شرعي لا يمكن الوصول إليه إلا بها وهو بستة أسباب، الأول : التظلم فيجوز للمظلوم أن يتظلم إلى السلطان والقاضي وغيرهما ممن له ولاية أو قدرة على إنصافه من ظالمه، الثاني : الاستعانة على تغيير المنكر ورد العاصي إلى الصواب فيقول لمن يرجو قدرته على إزالة المنكر فلان يعمل كذا فازجره عنه ونحو ذلك، ويكون مقصوده التوصل إلى إزالة المنكر فإن لم يقصد ذلك كان حراما، الثالث : الاستفتاء فيقول للمفتي ظلمني أبي أو أخي أو زوجي أو فلان بكذا فهل له ذلك؟ وما طريقي في الخلاص منه وتحصيل حقي ودفع الظلم؟ ونحو ذلك فهذا جائز للحاجة؛ ولكن الأحوط والأفضل أن يقول ما تقول في رجل أو شخص أو زوج كان من أمره كذا؟ فإنه يحصل به الغرض من غير تعيين، ومع ذلك فالتعيين جائز، الرابع : تحذير المسلمين من الشر ونصيحتهم، الخامس : أن يكون مجاهرا بفسقه أو بدعته كالمجاهر بشرب الخمر ومصادرة الناس، وأخذ المكس وجباية الأموال ظلما وتولي الأمور الباطلة فيجوز ذكره بما يجاهر به ويحرم ذكره بغيره من العيوب إلا أن يكون لجوازه سبب آخر مما ذكرناه، السادس : التعريف فإذا كان الإنسان معروفا بلقب كالأعمش والأعرج والأصم والأعمى والأحول وغيرهم جاز تعريفهم بذلك ويحرم إطلاقه على جهة التنقص

📚 (رياض الصالحين : ص ٤٣٢)

اعلم أن الغيبة وإن كانت محرمة فإنها تباح في أحوال للمصلحة والمجوز لها غرض صحيح شرعي لا يمكن الوصول إليه إلا بها

📚 (الأذكار : ص ٩٢)

والأكثر يقولون بأنه يجوز أن يقال للفاسق : يا فاسق ويا مفسد، وكذا في غيبته بشرط قصد النصيحة له أو لغيره لبيان حاله أو للزجر عن صنيعه لا لقصد الوقيعة فيه فلا بد من قصد صحيح

📚 (سبل السلام : ج ٤ / ص ١٨٨)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...