Dikalangan para pengkaji ilmu fiqih dan ushul fiqih, istilah talfiq memang sudah sangat tidak asing lagi. Namun dikalangan orang-orang awam, istilah tersebut tentu sangat terdengar asing. Banyak definisi dari para ulama mengenai apa yang dimaksud dengan talfiq, namun sederhananya talfiq itu adalah mengambil pendapat-pendapat para ulama madzhab dalam satu masalah atau dalam satu qodhiyah.
التلفيق هو ما كان في المسألة الواحدة بالأخذ بأقوال عدد من الأئمة فيها، أما الأخذ بأقوال الأئمة في مسائل متعددة فليس تلفيقا
“Talfiq adalah mengambil (atau memakai) pendapatnya beberapa imam dalam satu permasalahan, adapun mengambil beberapa pendapat imam dalam beberapa permasalahan bukanlah talfiq” (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah : 13/294)
Contoh dalam bab nikah tanpa adanya wali dan saksi. Yaitu berangkat daripada pendapatnya madzhab Hanafi yang mengatakan bahwasanya wali itu bukan bukan termasuk rukun nikah, sedangkan tanpa saksi itu berangkat daripada pendapatnya madzhab Maliki. Nah jika demikian, maka orang tersebut sudah melakukan talfiq.
Pertanyaannya, bolehkah seperti itu? Maka jawabannya adalah, talfiq merupakan bagian daripada taklid. Dan selama yang diambil adalah pendapat ulama maka itu sah-sah saja, apalagi untuk kalangan awam sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama bahwasanya “al 'aami laa madzhabalah” yakni orang awam itu tidak punya madzhab. Akan tetapi madzhab gurunyalah atau madzhab orang yang memberinya fatwa yang harus dia ikuti.
Dan lagi pula memang sudah semestinya harus seperti itu, yakni ikut ulama. Namun talfiq itu tentu dengan beberapa catatan seperti tidak untuk main-main dalam ibadah, bukan berangkat daripada mengikuti hawa nafsu, dan hal itu dilakukan semisal ada udzur, karena terdapat masyaqqoh (situasi sulit), dan disaat ada hajat-hajat tertentu.
Al-Imam Ar-Ruhaibani salah satu ulama dari madzhab Hambali beliau mengatakan :
والذي أذهب إليه وأختاره القول بجواز التقليد في التلفيق
“Madzhab yang aku ikuti dan aku pilih adalah madzhab yang menyatakan kebolehan taklid dalam talfiq” (Mathalib Ulin Nuha : 1/391)
Bahkan, terkadang dalam beberapa kondisi seseorang itu malah dianjurkan untuk talfiq. Semisal dalam bab zakat, jumhur ulama madzhab syafi'i dan ini merupakan pendapat yang mu'tamad mengatakan bahwasanya zakat pakai uang itu tidak boleh, sedangkan dalam madzhab Hanafi zakat pakai uang itu boleh. Nah maka, jika seorang mustahik zakat sudah mendapatkan makanan pokok berupa beras dari seorang muzakki, kita sebagai muzakki yang lain dianjurkan untuk membayar zakat pakai uang untuk tujuan kemaslahatan si mustahik tersebut. Kenapa, karena bisa jadi si mustahik ini sudah mempunyai beras namun lauknya belum punya, nah maka saat itulah saat yang paling tepat dan dianjurkan untuk kita membayar zakat pakai uang agar si mustahik tersebut bisa membeli lauknya.
Jadi talfiq dalam masalah zakat adalah, kadarnya ikut pendapat madzhab syafi'i sedangkan bentuknya ikut pendapat madzhab Hanafi.
Syeikh Abdul Fattah Rawwah rahimahullah berkata :
يجوز تقليد كل واحد من الآئمة الآربعة رضي الله عنهم ويجوز لكل واحد آن يقلد واحدا منهم فى مسالة ويقلد اماما آخر في مسالة آخرى ولا يتعين تقليد واحد بعينه في كل المسائل
“Setiap orang diperbolehkan taklid kepada salah satu imam yang empat radhiyallahu 'anhum. Dan setiap orang boleh mengikuti salah satu dari pendapat mereka dalam satu masalah, dan mengikuti imam lainnya dalam masalah yang lain. Dan tidak ada ketentuan yang mengharuskan taklid kepada satu madzhab dalam semua masalah” (Al-Ifshah 'ala Masailil Idhah 'ala Madzahib Arba'ah, hlm. 219)
Kemudian, syeikh Zainuddin Al-Malibari rahimahullah berkata :
(فائدة) في بيان التقليد: إذا تمسك العامي بمذهب لزمه موافقته وإلا لزمه التمذهب بمذهب معين من الأربعة لا غيرها ثم له وإن عمل بالأول الانتقال إلى غيره بالكلية أو في المسائل بشرط أن لا يتتبع الرخص بأن يأخذ من كل مذهب بالأسهل منه فيفسق به على الأوجه
“(Faedah didalam menjelaskan persoalan taklid). Jika orang awam berpegang pada satu madzhab tertentu, maka wajib bagi dia untuk mengikutinya. Jika tidak, maka wajib bagi dia untuk mengikuti madzhab lain dari salah satu madzhab yang empat, tidak kepada madzhab yang lainnya. Dan jika dia mengamalkan madzhab pertama (yang dipilihnya itu), maka boleh bagi dia berpindah kepada madzhab lain entah secara keseluruhan maupun dalam masalah tertentu saja dengan syarat dia tidak bermaksud untuk mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dari setiap madzhab. Sebab jika demikian, maka hal itu termasuk perbuatan fasiq menurut pendapat yang aujah” (Fathul Mu'in, hlm. 614)
Yang terakhir, syeikh Ahmad Nashir Al-Adawi rahimahullah berkata :
يجوز التلفيق بأن يؤخذ برأي في مذهب مجتهد وبآخر في مذهب مجتهد آخر متى لم يكن هذا التلفيق خارقا للإجماع
“Diperbolehkan talfiq dengan cara mengikuti pendapatnya ulama mujtahid dalam satu madzhab tertentu dan mengikuti pendapatnya ulama mujtahid yang lain selama talfiq ini tidak dilakukan untuk melanggar ijma” (Darul Ifta Al-Mishriyyah : 7/172)
Kesimpulannya, semua madzhab adalah benar entah itu Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali. Dan tidak boleh bagi seseorang untuk mengatakan bahwa satu pendapat madzhab yang dia ikuti adalah yang paling benar dan beranggapan bahwa pendapat madzhab yang lain adalah salah sehingga muncul dalam dirinya sikap fanatisme madzhab.
Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi wasilah bertambahnya pengetahuan kita, aamiin.
والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar