Beranjak dari sebuah hadits yang diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu 'anhu bahwasanya nabi ๏ทบ bersabda :
ุฅู ุงููู ุฃูุญู ุฅูู ุฃู ุชูุงุถุนูุง ุญุชู ูุง ูุจุบู ุฃุญุฏ ุนูู ุฃุญุฏ ููุง ููุฎุฑ ุฃุญุฏ ุนูู ุฃุญุฏ
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku, hendaklah kalian bersikap tawadhu hingga seseorang tidak berbuat aniaya kepada yang lain, dan seseorang tidak berbangga-bangga dihadapan yang lain”
๐ (HR. Abu Daud : 4250)
Tawadhu adalah sifat yang sangat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya, dan sedikit pula orang yang memahaminya.
Banyak dari kalangan ulama yang mendefinisikan apa itu tawadhu, contohnya Syeikh Sa'id Yusuf yang mengatakan :
ุฑุถุง ุงูุฅูุณุงู ุจู
ูุฒูุฉ ุฏูู ู
ุง ูุณุชุญูู ูุถูู ูู
ูุฒูุชู ููู ูุณุท ุจูู ุงููุจุฑ ูุงูุถุนุฉ
“(Tawadhu adalah) perasaan ridho disaat manusia dianggap memiliki kedudukan lebih rendah dari yang seharusnya. Dan tawadhu merupakan sifat pertengahan antara sombong dan rendah diri”
๐ (Al-Mausu'ah Akhlaqul Islamiyyah : 1/148)
Kemudian Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan :
ุงูุชูุงุถุน ูู ุฅุธูุงุฑ ุงูุชูุฒู ุนู ุงูู
ุฑุชุจุฉ ูู
ู ูุฑุงุฏ ุชุนุธูู
ู ูููู ูู ุชุนุธูู
ู
ู ูููู ูุถูู
“Tawadhu adalah menampakkan diri lebih rendah kepada orang yang ingin mengagungkannya. Dan dikatakan pula bahwa tawadhu adalah mengagungkan orang yang lebih mulia darinya”
๐ (Fathur Bari : 11/341)
Tawadhu itu berbeda dengan rendah diri, sebab tawadhu adalah sebuah perasaan dimana seseorang tidak merasa lebih mulia daripada orang lain, tidak merasa lebih hebat daripada orang lain, tidak merasa lebih bisa daripada orang lain, dan ridho jika dianggap memiliki kedudukan rendah dari yang sepatutnya. Adapun rendah diri adalah sikap dimana seseorang merendahkan atau menghinakan dirinya sampai melecehkan haknya.
Tawadhu juga adalah sebuah keadaan dimana seseorang mau menerima kebenaran, hatta dari orang yang dibencinya sekalipun. Sebagaimana disabdakan oleh nabi bahwasanya “al-kibru bathorol haq” yakni sombong itu menolak kebenaran, maka tawadhu adalah kebalikannya yakni mau menerima kebenaran. Intinya mau menerima kebenaran dari siapapun orangnya.
Al-Imam Fudhoil bin Iyadh rahimahullah berkata :
๏ปป ๏บ๏บผ๏บข ๏ป๏ป ๏บฉ๏บญ๏บ๏บ ุง๏ป๏บ๏ปฎุง๏บฟ๏ป ๏บฃ๏บ๏ปฐ ๏บ๏ป๏บ๏ป ุง๏ป๏บค๏ป ๏ปฃ๏ปค๏ปฆ ๏บ๏บค๏บ ๏ปญ๏ปฃ๏ปค๏ปฆ ๏บ๏บ๏ป๏บพ
“Tidaklah benar derajat tawadhu sampai engkau mau menerima kebenaran dari orang yang kau cintai dan dari orang yang kau benci”
๐ (Siyar A'lam An-Nubala : 484)
Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu juga berkata :
ุงูุจู ุงูุญู ู
ู ุฌุงุกู ุจู ูุฅู ูุงู ุจุนูุฏุง ุจุบูุถุง ูุงุฑุฏุฏ ุงูุจุงุทู ุนูู ู
ู ุฌุงุกู ุจู ูุฅู ูุงู ุญุจูุจุง ูุฑูุจุง
“Terimalah kebenaran yang datang kepadamu meskipun ia bersumber dari orang jauh yang kau benci. Dan tolaklah kebatilan yang datang kepadamu meskipun ia berasal dari orang terdekat yang kau cintai”
๐ (Hilyatul Auliya : 9/121)
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah ketika ditanya apa itu tawadhu, beliau mengatakan :
ุงูุชูุงุถุน ูู ุฃู ุชุฎุฑุญ ู
ู ุจูุชู، ููุง ุชููู ุฃุญุฏุง ุฅูุง ุฑุฃูุช ูู ุงููุถู ุนููู
“Tawadhu adalah disaat engkau keluar dari rumahmu, maka tidaklah engkau bertemu seseorang kecuali engkau memandang bahwa dia memiliki keutamaan (atau kelebihan) atas dirimu”
๐ (Hilyatul Auliya : 6/308)
Tawadhu juga adalah keadaan disaat seseorang diberi nikmat oleh Allah dengan memiliki kedudukan yang tinggi, tapi dia merasa bahwa kedudukannya itu jauh lebih rendah daripada orang lain, contohnya orang yang hidup pas-pasan merasa lebih rendah daripada orang yang lebih miskin darinya.
Al-Imam Ibnul Mubarok rahimahullah berkata :
ุฑุฃุณ ุงูุชูุงุถุน ุฃู ุชุถุน ููุณู ุนูุฏ ู
ู ูู ุฏููู ูู ูุนู
ุฉ ุงููู ุญุชู ุชุนูู
ู ุฃู ููุณ ูู ุจุฏููุงู ุนููู ูุถู
“Puncak ketawadhuan adalah disaat engkau memposisikan dirimu dibawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat Allah, sampai-sampai engkau memberitahukan bahwasanya engkau tidak lebih punya keutamaan dibandingkan dirinya”
๐ (Syu'abul Iman : 6/298)
Dan inilah yang paling penting, tawadhu itu merupakan sifat yang melekat dalam jiwa seseorang dan tidak bisa dinilai secara dzohir. Semisal ketika seseorang meninggikan suaranya, petantang petenteng, dan sebagainya. Maka kita tidak boleh menilai seseorang itu sombong alias tidak tawadhu, sebab tawadhu itu kaitannya dengan batin atau jiwa seseorang, dan tidak ada yang bisa mengetahui hakikat batin seseorang kecuali hanya Allah.
Oleh karena itu, sebagai gambaran disaat nabi Musa 'alaihissalam berkata: “tidak ada yang lebih alim dimuka bumi ini selain aku”, nah apakah kita akan mengatakan bahwa nabi Musa itu sedang menyombongkan diri? Na'udzubillah tentu tidak. Sebab mustahil seorang nabi dan rasul mempunyai sifat tercela seperti sifat sombong.
Dan ini yang terakhir, ada sebuah kalam yang sangat indah dari guru mulia kami yang isinya adalah sebuah nasehat bagi orang-orang yang mau belajar membersihkan hati atau belajar ilmu hati. Beliau mengatakan: “alangkah banyak orang yang terlihat sombong (secara dzohir) padahal ia sangat tawadhu (hatinya), dan alangkah banyak orang yang terlihat riya (secara dzohir) padahal ia sangat ikhlas (hatinya). Itu bukan urusan kita (maksudnya menilai hati seseorang itu bukan jangkauan kita)”, demikianlah kata beliau.
Beliau juga mengatakan bahwa adanya sifat-sifat tercela seperti sombong, riya, ujub dan yang lainnya itu adalah sebagai bahan introspeksi diri. Jadi bukan untuk menunjuk kalau si fulan itu sombong, si fulan itu riya, dan sebagainya. Melainkan untuk mengoreksi diri kita sendiri barangkali sifat-sifat tersebut ada dalam diri kita. Oleh karena itu jangan mudah menilai dan menuduh orang lain.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, aku mendengar Rasulullah ๏ทบ bersabda :
ู
ู ูุงู ูู ู
ุคู
ู ู
ุง ููุณ ููู ุฃุณููู ุงููู ุฑุฏุบุฉ ุงูุฎุจุงู ุญุชู ูุฎุฑุฌ ู
ู
ุง ูุงู
“Barang siapa yang menuduh seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak ada padanya, maka Allah akan melemparkannya ke dalam radghatul khabal (nanah & darah penduduk neraka) sampai dia mencabut tuduhnya itu”
๐ (HR. Abu Daud : 3597)
Nah demikianlah sedikit pembahasan tentang tawadhu. Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki sifat mulia ini, dan semoga Allah menjauhkan kita dari sifat sombong, aamiin.
ูุงููู ุฃุนูู
ุจุงููุตููุงุจ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar