Imam Al-Muzani rahimahullah berkata :
ุฅูุงู ู
ู ููุงู
ู
ุง ุฅู ุฃุตุจุช ููู ูู
ุชุคุฌุฑ، ูุฅْู ุฃุฎุทุฃุช ูุฒุฑุช، ูุฐูู ุณูุก ุงูุธู ุจุฃุฎูู
“Waspadalah terhadap sebuah kalimat yang jika engkau benar maka engkau tidak akan mendapat pahala, dan jika engkau salah maka engkau akan mendapat dosa, yaitu berprasangka buruk kepada saudaramu (sesama muslim)” (Thobaqot Syafi'iyyah Al-Kubro : 7/209)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
ูุง ุฃููุง ุงูุฐูู ุขู
ููุง ุงุฌุชูุจูุง ูุซูุฑุง ู
ู ุงูุธู ุฅู ุจุนุถ ุงูุธู ุฅุซู
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa” (Qs. Al-Hujurat : 12)
Kenapa harus dijauhi? Karena suudzon dapat mengantarkan kepada dosa, bahkan dapat menjadi pintu masuk bagi dosa-dosa lainnya seperti tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain), kemudian ghibah atau bahkan buhtan (fitnah).
Lanjutan ayat diatas :
ููุง ุชุฌุณุณูุง ููุง ูุบุชุจ ุจุนุถูู
ุจุนุถุง ุฃูุญุจ ุฃุญุฏูู
ุฃู ูุฃูู ูุญู
ุฃุฎูู ู
ูุชุง ููุฑูุชู
ูู
“Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah kalian saling mengghibah satu sama lain. Adakah salah seorang diantara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian akan merasa jijik kepadanya” (Qs. Al-Hujurat : 12)
Al-Imam Qurthubi rahimahullah berkata :
ูููู ุชุนุงูู ุฃูุญุจ ุฃุญุฏูู
ุฃู ูุฃูู ูุญู
ุฃุฎูู ู
ูุชุง ู
ุซู ุงููู ุงูุบูุจุฉ ุจุฃูู ุงูู
ูุชุฉ ูุฃู ุงูู
ูุช ูุง ูุนูู
ุจุฃูู ูุญู
ู ูู
ุง ุฃู ุงูุญู ูุง ูุนูู
ุจุบูุจุฉ ู
ู ุงุบุชุงุจู
“Terkait firman Allah : Adakah salah seorang diantara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? (Yaitu) Allah memberi perumpamaan terkait keburukan ghibah dengan memakan daging orang yang sudah mati, karena orang yang sudah mati tidak mengetahui kalau dagingnya dimakan oleh orang lain, seperti saat ia hidup tidak mengetahui kalau orang lain mengghibahnya” (Tafsir Al-Qurthubi Qs. Al-Hujurat : 12)
Begitu juga dengan fitnah, kebanyakan orang yang terjerumus pada dosa ini adalah disebabkan teledornya saat menerima informasi. Mereka langsung mempercayai informasi yang diterimanya tanpa menimbang serta mencari tau kebenarannya terlebih dahulu. Oleh karena itu seseorang yang menerima setiap informasi dari orang lain lalu menceritakannya semua informasi tersebut kembali kepada orang lain, maka ia termasuk pendusta. Karena alasannya adalah, informasi yang mereka terima itu tidak jelas kebenarannya, dan adakalanya benar namun tercampur dengan informasi yang mengandung kedustaan didalamnya.
Nabi ๏ทบ bersabda :
ููู ุจุงูู
ุฑุก ูุฐุจุง ุฃู ูุญุฏุซ ุจูู ู
ุง ุณู
ุน
“Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika ia menyampaikan setiap apa yang didengar” (HR. Muslim : 6)
Imam Nawawi rahimahullah berkata terkait hadits diatas :
ูุฃู
ุง ู
ุนูู ุงูุญุฏูุซ ูุงูุขุซุงุฑ ุงูุชู ูู ุงูุจุงุจ ููููุง ุงูุฒุฌุฑ ุนู ุงูุชุญุฏูุซ ุจูู ู
ุง ุณู
ุน ุงูุฅูุณุงู ูุฅูู ูุณู
ุน ูู ุงูุนุงุฏุฉ ุงูุตุฏู ูุงููุฐุจ، ูุฅุฐุง ุญุฏุซ ุจูู ู
ุง ุณู
ุน ููุฏ ูุฐุจ ูุฅุฎุจุงุฑู ุจู
ุง ูู
ููู
“Dan adapun makna hadits ini dan atsar-atsar yang semisalnya adalah sebagai peringatan dari menyampaikan setiap informasi yang didengar oleh seseorang. Karena biasanya ia mendengar informasi yang benar dan informasi yang dusta, maka jika ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar, niscaya ia akan terjerumus kepada dusta karena menyampaikan sesuatu yang tidak terjadi” (Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim : 1/75)
Imam Al-Munawi juga mengomentari terkait hadits diatas, beliau rahimahullah mengatakan :
ุฃู ุฅุฐุง ูู
ูุชุซุจุช ูุฃูู ูุณู
ุน ุนุงุฏุฉ ุงูุตุฏู ูุงููุฐุจ، ูุฅุฐุง ุญุฏุซ ุจูู ู
ุง ุณู
ุน ูุง ู
ุญุงูุฉ ููุฐุจ
“(Makna hadits ini adalah), jika ia tidak memastikan kebenaran sebuah informasi yang didengar (maka ia dianggap pendusta), sebab biasanya informasi yang ia dengar terkadang benar dan terkadang dusta. Maka jika ia menyampaikan semua yang didengar, ia tidak akan selamat dari kedustaan” (Faidhul Qodir : 5/3)
Hal senada juga disampaikan oleh imam Syafi'i rahimahullah :
ูู
ู ุงููุฐุจ ุงููุฐุจ ุงูุฎูู ููู ุฃู ูุฑูู ุงูุฅูุณุงู ุฎุจุฑุง ุนู
ู ูุง ูุนุฑู ุตุฏูู ู
ู ูุฐุจู
“Dan diantara jenis kedustaan adalah kedustaan yang samar, yakni ketika seseorang menyebarkan informasi dari orang lain yang mana tidak diketahui apakah (si penyebar) itu sedang jujur ataukah sedang berdusta” (Irsyadul Ibad : 129)
Didalam keterangan lain beliau juga mengatakan hal yang sama :
ุฃู ุงููุฐุจ ุงูุฐู ููุงูู
ุนูู ูู ุงููุฐุจ ุงูุฎูู ูุฐูู ุงูุญุฏูุซ ุนู
ู ูุง ูุนุฑู ุตุฏูู
“Bahwasanya kedustaan yang terlarang adalah kedustaan yang samar, yakni ketika seseorang menyebarkan informasi (yang ia terima dari orang lain) namun tidak diketahui kebenaran (informasi tersebut)” (Ar-Risalah : 75)
Nah itulah sekilas tentang bahayanya suudzon (prasangka buruk), ghibah dan buhtan (fitnah). Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih bijak lagi dalam menimbang setiap informasi yang kita dengar serta kita terima, dan semoga Allah senantiasa menjaga kita dari keburukan dosa-dosa tersebut, aamiin.
ูุงููู ุฃุนูู
ุจุงููุตููุงุจ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar