Senin, 06 Maret 2023

CIRI ORANG YANG BANGGA DENGAN AMALNYA

Al-Imam Ibnu Atho'illah Sakandari rahimahullah berkata :

ู…ู† ุนู„ุงู…ุงุช ุงู„ุฅุนุชู…ุงุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ุนู…ู„ ู†ู‚ุตุงู† ุงู„ุฑุฌุงุก ุนู†ุฏ ูˆุฌูˆุฏ ุงู„ุฒู„ู„

“Diantara ciri-ciri orang yang bersandar (dan bangga) dengan amalnya (usahanya) adalah berkurangnya pengharapan kepada (Allah) disaat ia melakukan berbagai kesalahan” (Al-Hikam Ibnu Atho'illah)

Penjelasan :

Sebagai orang yang belajar ilmu ma'rifat (mengenal Allah), maka janganlah kita mempunyai anggapan bahwa segala sesuatu yang telah kita raih itu semata-mata atas jerih payah atau usaha kita sendiri.

Hendaknya kita menghindari anggapan semacam itu. Karena jika kita terbiasa merasa bahwa keberhasilan hidup, kebahagiaan, rejeki yang melimpah, jabatan dan lain sebagainya itu semata-mata karena usaha atau jerih payah kita, niscaya mata hati akan tertutup dari kebenaran.

Suatu saat jika kita mendapati kegagalan dari jerih payah yang kita lakukan, maka yang timbul hanyalah penyesalan. Kita dapat menyalahkan diri sendiri, bisa juga menyalahkan orang lain, atau bahkan menyalahkan Allah, na'udzubillah min dzaalik.

Manusia seringkali lupa bahwa dibalik daya upaya dirinya itu ada kekuatan yang maha kuat, kekuatan yang berkuasa dan menentukan harapan-harapannya. Jika mata hati kita tajam dan indra kita cukup merasakan, maka kita akan melihat bahwa asal penyebab dibalik jerih payah dan hasil yang kita dapatkan itu hanyalah dari Allah semata.

Bagi orang yang telah memiliki ilmu ma'rifat (mengenal Allah), kehidupan didunia ini dipandang oleh mata hatinya sebagai “permainan”. Karena ia menganggapnya sebagai permainan, maka jika menemukan kegagalan jiwanya tetap tegar. Adapun jika mendapat keberhasilan, maka pun ia tidak akan tinggi hati.

Makanya kebanyakan diantara manusia itu lupa diri. Mereka menganggap semua harapan itu dapat diraih dengan daya upaya atau usahanya sendiri. Karenanya jika ia telah dapat mencapai kenikmatan hidup, akhirnya jadi berbangga diri. Mereka mengingkari nikmat yang dirasakan, mereka juga lupa bahwa yang menentukan hasil akhir dari jerih payahnya adalah Allah. Dan tanpa campur tangan kekuasaannya, maka tidak mungkin dapat mencapai kenikmatan itu.

Jadi jika kita lupa bahwa takdir Allah itu sangat mempengaruhi jerih payah dan usaha kita, niscaya kita akan kecewa ketika menemui kegagalan. Tetapi jika kita sadar terhadap adanya penyebab kegagalan dibalik usaha, maka kegagalan hanya dianggap sebagai peringatan guna memperkuat kesadaran dalam berkehendak.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : ูˆุงู„ุฌู…ุงุน ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ุชูุณุฏ ุจู‡ ุงู„ุนู…ุฑุฉ ุงู„ู…ูุฑุฏุฉ ุฃู…ุง ุงู„ุชูŠ ููŠ ุถู…ู† ุญุฌ ููŠ ู‚ุฑุงู†، ูู‡ูŠ ุชุงุจุนุฉ ู„ู‡ ุตุญุฉ ูˆูุณ...