Senin, 06 Maret 2023

SHOLAT SUNNAH YANG DI SYARIATKAN & TIDAK DI SYARIATKAN UNTUK DIQODHO


Besarnya keutamaan sholat sunnah dan pahala sholat sunnah merupakan perkara yang hendaknya dimanfaatkan oleh seorang muslim untuk mengamalkannya. Contohnya sholat sunnah rawatib, yaitu sholat sunnah yang mengiringi sholat fardhu. Sekaligus sholat ini juga merupakan perekat atau penambal sholat-sholat fardhu yang telah dikerjakan. Bahkan saking pentingnya sholat sunnah rawatib ini, para ulama terdahulu saling berwasiat untuk menjaga sholat tersebut supaya jangan sampai terlewatkan.

Dan selain sholat rawatib, masih terdapat sholat sunnah yang lain seperti sholat mutlak secara umum, sholat dhuha, sholat tahajud, sholat witir dan lain sebagainya. Sholat-sholat tersebut merupakan sholat yang waktunya telah ditentukan dan telah diketahui secara umum oleh syariat. Adapun sholat-sholat sunnah seperti sholat gerhana, sholat istisqo dan sholat tahiyatul masjid itu merupakan kategori sholat yang digantungkan dengan sebab-sebab tertentu dan waktunya tidak ditentukan secara pasti oleh syariat.

Lalu muncul sebuah pertanyaan, jika seandainya seseorang sudah terbiasa melakukan sholat sunnah semisal dhuha lalu dia mendapatkan udzur sehingga tidak bisa melaksanakannya, apakah bisa sholat sunnah tersebut diganti atau diqodho dilain waktu? Maka jawabannya bukan sekedar boleh, namun sangat dianjurkan. Dengan catatan bahwa sholat sunnah tersebut adalah sholat sunnah yang tidak terikat dengan sebab-sebab tertentu semisal sholat gerhana, sholat istisqo dan sholat tahiyatul masjid.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh imam Nawawi rahimahullah :

قال أصحابنا النوافل قسمان أحدهما غير مؤقت وإنما يفعل لعارض كالكسوف والاستسقاء وتحية المسجد فهذا إذا فات لا يقضى. والثاني مؤقت كالعيد والضحى والرواتب مع الفرائض كسنة الظهر وغيرها فهذه فيها ثلاثة أقوال الصحيح منها أنها يستحب قضاؤها

“Para ulama madzhab kami (syafi'i) telah membagi sholat sunnah menjadi dua macam, yang pertama yaitu ghoiru muaqqot (tidak terikat waktu) yang hanya dikerjakan jika timbul penyebabnya seperti sholat gerhana, sholat istisqo, dan sholat tahiyatul masjid. Sholat sunnah ini jika terlewatkan maka (tidak disyariatkan) untuk diqodho. Dan yang kedua yaitu muaqqot (terikat dengan waktu) seperti sholat ied, sholat dhuha, sholat rawatib yang mengiringi sholat fardhu seperti rawatib dzuhur dan selainnya. Disini terdapat tiga pendapat, dan yang shohih dari tiga pendapat tersebut bahwasanya disunnahkan untuk mengqodhonya” (Majmu'Syarah Muhadzdzab : 4/41)

Kemudian didalam kitab Bugyatul Mustarsyidin juga disebutkan :

يندب قضاء النفل المؤقت كالعيد والوتر والرواتب مطلقا بل لو اعتاد شيئا من النفل المطلق فتركه في وقته المعتاد ولو لعذر سن له قضاءه ولا يجوز قضاء ذي السبب كالكسوف والتحية

“Disunnahkan untuk mengqodho sholat sunnah muaqqot (terikat dengan waktu) seperti sholat ied, sholat witir dan sholat rawatib. Bahkan jika seandainya seseorang sudah terbiasa melakukan sholat sunnah mutlak kemudian meninggalkannya pada waktu yang biasa dilaksanakan meskipun sebab ada uzur, maka (tetap) disunnahkan baginya untuk mengqodhonya. Dan tidak boleh mengqodho sholat sunnah yang memiliki sebab seperti sholat gerhana dan tahiyatul masjid” (Bugyatul Mustarsyidin : 120)

Nah demikianlah sedikit uraian terkait sholat sunnah yang dianjurkan dan tak dianjurkan untuk diqodho, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...