Jumat, 10 Maret 2023

HUKUM MENCICIPI MAKANAN SAAT PUASA

Diantara kewajiban bagi orang yang berpuasa adalah menahan dirinya dari sesuatu yang bisa membatalkan puasa, atau sesuatu yang mendekati terhadap batalnya puasa, salah satunya adalah mencicipi makanan. Adapun mencicipi makanan saat puasa itu sebenarnya bukan dengan tujuan ingin membatalkan puasa. Namun untuk mengetahui rasa makanan agar nikmat berbuka bersama semakin terasa bagi keluarga. Hukum mencicipi makanan saat puasa ini ada perbedaan pendapat dikalangan ulama empat madzhab.

Namun secara umum, ulama empat madzhab hampir sepakat bahwa hukumnya adalah makruh yaitu mencicipi makanan bagi orang sedang berpuasa. Hanya saja ada beberapa catatan dan sedikit ketentuan dari para ulama agar mencicipi makanan itu tidak menjadi makruh. Berikut ini keterangannya :

1. MADZHAB SYAFI'I 

Syeikh Abdullah Asy-Syarqawi rahimahullah berkata :

وذوق طعام خوف الوصول الى حلقه أي تعاطيه لغلبة شهوته، ومحل الكراهة ان لم تكن له حاجة، أما الطباخ رجلا كان أو امرأة ومن له صغير يعلله فلا يكره

“Diantara kemakruhan saat berpuasa adalah mencicipi makanan, karena hal itu dikhawatirkan akan menjadi penyebab (sampainya makanan) ke dalam tenggorokan. Khawatir bisa sampai ke tenggorokan karena orang yang berpuasa itu sangat besar keinginannya terhadap makanan. Dan kemakruhan tersebut apabila dilakukan tanpa adanya hajat tertentu dari orang yang mencicipinya. Adapun mencicipi makanan bagi seorang tukang masak entah dia laki-laki ataupun perempuan dan orang tua yang berkepentingan mengobati anaknya yang masih kecil, maka bagi mereka hal tersebut tidak dimakruhkan” (Hasyiyah Asy-Syarqawi : 1/881)

2. MADZHAB HANAFI

Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan :

من ذاق شيئا بفمه لم يفطر لعدم الفطر صورة ومعنى ويكره له ذلك لما فيه من تعريضِ الصوم على الفساد، قيده الحلواني بما إذا كان في الفرض، أما في النفل فلا لأنه يباح الفطر فيه بعذر وبلا عذر

“Barang siapa yang mencicipi sesuatu dengan mulutnya maka puasanya tidak batal, karena mencicipi makanan tidaklah dianggap membatalkan puasa. Namun yang demikian itu hukumnya makruh, karena bisa menjadi penyebab puasanya itu rusak (batal). Kemakruhan tersebut kata imam Al-Halwani (ulama madzhab hanafi) jika dilakukan dalam puasa fardhu, sedangkan mencicipi makanan ketika puasa sunnah hukumnya tidak makruh. Karena dalam puasa sunnah itu diperbolehkan membatalkan puasa sebab adanya udzur dan tidak adanya udzur” (Fathul Qadir : 4/361)

3. MADZHAB MALIKI 

Syeikh Abdurrahman Al-Jazairi rahimahullah berkata :

يكره للصائم أن يذوق الطعام ولو كان صانعا له، وإذا ذاقه وجب عليه أن يمجه لئلا يصل إلى حلقه

“Dimakruhkan bagi orang yang berpuasa untuk mencicipi makanan meskipun bagi orang yang memasak makanan. Dan jika sudah mencicipinya, maka wajib baginya untuk memuntahkannya agar tidak sampai ke tenggorokannya” (Fiqih Madzahib Arba'ah : 1/294)

4. MADZHAB HAMBALI 

Syeikh Musthofa Ar-Rahibani rahimahullah berkata :

يكره له ذوق طعام لأنه لا يأمن أن يصل إلى حلقه فيفطره، قال أحمد بن حنبل رحمه الله: أحب أن يجتنب ذوق الطعام فإن فعل لا بأس وأطلقوا لغير حاجة إلى ذوقه أما للحاجة فلا بأس به

“Dimakruhkan bagi orang yang berpuasa untuk mencicipi makanan. Karena (hal tersebut) tidak dapat dipastikan aman sampaikan makanan ke tenggorokan sehingga akan membatalkan puasanya. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan: Aku suka menjauhi mencicipi makanan, tapi jika hal itu dilakukan maka tidak apa-apa. (Kemakruhan) tersebut apabila dilakukan tanpa adanya hajat. Adapun jika ada hajat, maka tidak apa-apa (tidak makruh)” (Mathalib Ulin Nuha : 2/203)

Nah demikianlah ulasan terkait hukum mencicipi makanan saat puasa, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...