Minggu, 12 Maret 2023

MEMAHAMI BID'AH DENGAN BENAR


Secara sederhana, bid'ah adalah segala sesuatu yang berbentuk ritual ibadah, dan hal itu tidak berlandaskan kepada dalil. Baik itu dalil yang umum, dan terlebih lagi dalil yang khusus. Sebagaimana yang dikatakan oleh imam Ibnu Rajab rahimahullah :

البدعة ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يدل عليه، وأما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعا وإن كان بدعة لغة

“Bid'ah adalah perkara baru (dalam bentuk ibadah) yang tidak ada asalnya didalam syariat sebagai dalilnya. Adapun perkara baru yang ada asalnya dari syariat sebagai dalilnya, maka ia tidak termasuk bid'ah secara syar'i meskipun terkadang disebut bid'ah secara bahasa” (Jami'ul Ulum wal Hikam : 291)

Dalam keterangan lain, Amirul mukminin fil hadits yaitu imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah juga mengatakan :

والمراد بقوله كل بدعة ضلالة ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام

“Yang dimaksud dengan ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya setiap bid'ah itu sesat adalah apa-apa yang baru yang tidak ada dalilnya dari syari’at. Baik itu dari jalan yang khusus ataupun yang umum” (Fathul Bari : 13/254)

Oleh karena itu, jika seseorang mendefinisikan bid'ah dengan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh nabi, maka hal ini akan menimbulkan berbagai macam kerancuan. Sebab betapa banyak amalan yang dilakukan oleh para sahabat, namun tidak pernah dilakukan oleh nabi. Juga betapa banyak amalan yang dilakukan oleh para ulama salaf, namun tidak pernah dilakukan oleh nabi.

Diantara contoh amalan yang masih bernaung dalam sebuah dalil adalah membaca surah yasin setiap malam jum'at. Karena secara umum, yasin itu merupakan bagian dari Al-Qur'an. Dan syariat telah memerintahkan untuk membaca Al-Qur'an, namun tidak pernah disebutkan serta dijelaskan terkait waktu pelaksanaannya. Maka dari itu seseorang bebas mau membaca surah apa saja dan dilakukan pada waktu apa. Entah mau melakukannya pada malam hari atau siang hari, atau mau melakukannya setiap malam rabu, kamis atau malam jum'at itu semua bebas. Jadi, membaca yasin setiap malam jum'at itu bukanlah bid'ah secara syar'i, malah sebaliknya hal itu merupakan sebuah amalan yang sunnah.

Kemudian didalam keterangan lain, bid'ah itu didefinisikan sebagai amalan yang dibuat-buat dan menyerupai amalan-amalan yang telah disyariatkan. Dan maksud daripada itu semua adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah. 

Al-Imam Syathibi rahimahullah mengatakan :

عبارة عن طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه

“(Bid'ah adalah) cara baru didalam agama yang dibuat-buat menyerupai syariat dengan maksud untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah” (Al-I'tishom : 2/36)

Contoh daripada hal itu misalnya melakukan sholat yang dilebihkan rakaatnya. Semisal seseorang yang merasa kuat untuk melakukan sholat shubuh lebih dari dua rakaat, maka dia tambah sholat shubuhnya itu menjadi empat rakaat. Dia melakukannya hanya untuk berlebih-lebihan dan tidak melakukannya atas petunjuk syariat, maka yang demikianlah yang disebut bid'ah. 

Jadi kesimpulannya, bid'ah itu bukan segala sesuatu yang bentuknya ibadah serta tidak pernah dilakukan oleh nabi. Alangkah sempitnya pemikiran orang yang mengatakan bahwa bid'ah itu hanya sebatas sesuatu yang tidak pernah dilakukan nabi atau tidak pernah ada dizaman nabi.

والله أعلم بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...