Setiap kewajiban yang telah dibebankan islam kepada umatnya itu senantiasa memuat hikmah dan maslahat bagi mereka. Islam menginginkan terbentuknya akhlak islami dalam diri seorang muslim ketika ia mengimplementasikan setiap ibadah yang telah digariskan oleh Allah dalam kitab suci dan sunnah rasulnya.
Pada akhirnya nilai-nilai keagungan islam akan senantiasa mewarnai ruang kehidupan seorang muslim. Tidak hanya terbatas pada ruang kepribadian individu muslim itu sendiri, namun nilai-nilai itu dapat ditemukan pula dalam ruang kehidupan keluarga dan komunitas masyarakat muslim.
Sebagaimana ibadah sholat, ia merupakan ibadah yang berbentuk komunikasi langsung antara seorang hamba dengan tuhannya. Dan setidaknya ada lima sholat yang diwajibkan bagi setiap muslim yang sudah mukallaf atau sudah dibebani kewajiban. Hal ini bermakna ada lima kali keharusan bagi seorang hamba untuk berkomunikasi dengannya. Dan komunikasi aktif antara seorang hamba dengan Allah melalui sholat inilah yang mengandung hikmah sangat luar biasa, yaitu ketakwaan. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر
“Sesungguhnya sholat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar” (Qs. Al-Ankabut : 45)
Dengan kata lain, kewajiban seorang mukallaf untuk menjalankan sholat lima waktu itu pada dasarnya mengandung pengertian sebagai peringatan dari Allah agar ia selalu mengingatnya. Dan ingatan kepada Allah berujung pada ingatan kepada perintah dan laranganya. Maka inilah yang disebut dengan takwa sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Maka dari itu, sholat yang benar akan melahirkan ketakwaan pada diri seseorang.
Syeikh Muhammad Thohir bin 'Asyur berkata :
يظهر أن التقوى من حكمة مشروعية الصلاة لأن المكلف إذا ذكر أمر الله ونهيه فعل ما أمره واجتنب ما نهاه عنه
“Nampak jelas bahwa ketakwaan itu merupakan hikmah dibalik disyariatkannya sholat. Karena disaat seorang mukallaf mengingat perintah dan larangan Allah, niscaya ia akan (terdorong untuk) menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya” (At-Tahrir wa Tanwir : 16/106)
Berangkat dari penjelasan diatas kita bisa mengetahui bahwa ibadah sholat yang merupakan komunikasi atau hubungan antara seorang hamba dengan Allah itu sejatinya harus memiliki pengaruh positif terhadap komunikasi kita dengan yang ada disekitar kita.
Namun ironisnya, kita sering kali menyaksikan orang yang rajin sholat tetapi masih saja melakukan kemunkaran dan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. Padahal setidaknya dia sudah lima kali menyapa Allah melalui sholatnya. Pertanyaannya, kenapa bisa demikian? Jawabannya, hal ini terjadi karena sholat yang dia lakukan masih difahami hanya sebatas formalitas yang tidak memiliki konsekuensi apa-apa terhadap kehidupannya kecuali hanya penggugur kewajiban saja. Jadi sepanjang kita masih berkutat pada pemahaman seperti ini, niscaya sholat kita jelas tidak akan memiliki makna apa-apa dan tidak akan bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata :
كل قيام لا ينهى عن الفحشاء والمنكر لا يزيده صاحبه إلا بعدا
“Setiap sholat yang tidak mencegah dari perbuatan keji dan munkar, maka hal itu tidak akan menambah pelakunya kecuali dijauhkan (dari rahmat Allah)” (Lathaiful Ma'arif, hlm. 174)
Maka dari itu, wajib bagi kita untuk memperbaiki sholat-sholat yang telah kita kerjakan sebelumnya yang dirasa sholat kita itu belum baik dan benar. Jadi benahi sholat kita dimulai dari menjaga syarat-syarat dan rukunnya, kemudian menghadirkan kekhusyuan dan lain sebagainya. Jadi kesimpulannya, sholat yang baik dan benar itu niscaya akan melahirkan ketakwaan. Dan dengan ketakwaan itulah seorang hamba akan terjaga dari melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dan munkar.
Nah demikianlah, semoga bermanfaat.
والله أعلم بالـصـواب
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar