Minggu, 19 Maret 2023

UZLAH MENURUT AHLI TASAWUF


Al-Imam Ibnu Atho'illah Sakandari rahimahullah berkata :

ู…ุง ู†ูุน ุงู„ู‚ู„ุจ ุดูŠุฆ ู…ุซู„ ุนุฒู„ุฉ ูŠุฏุฎู„ ุจู‡ุง ู…ูŠุฏุงู† ููƒุฑุฉ

“Tiada yang dapat memberi manfaat kepada qolbu semisal beruzlah, sebab dengan beruzlah maka manusia akan dapat berpikir dengan jernih” (Al-Hikam Ibnu Atho'illah : 8)

Beruzlah artinya mengasingkan diri, namun seringkali kebanyakan orang memahami uzlah dengan cara berpikir yang dangkal. Mereka meninggalkan anak dan istri, bahkan menterlantarkannya. Lalu pergi ke gunung-gunung, ke dalam hutan, dan masuk ke goa. Tujuannya adalah untuk menghindari kesibukan manusia dengan cara menyepi, bertapa atau bersemedi. Padahal islam tidak pernah mengenal amalan-amalan seperti itu.

Oleh karena seseorang ingin menjernihkan hati dan ingin menghindar dari hiruk-pikuk dunia, lalu ia memilih beruzlah. Ia pergi ke tempat terpisah dengan manusia, namun anak istrinya dibiarkan kelaparan dan kewajibannya terhadap sesama manusia diabaikan, ini semua adalah perbuatan yang salah dan kekeliruannya terhadap memahami uzlah.

Mangkanya ketika badan manusia terpisah dari keramaian dan lalu lalang pergaulan sesama manusia, namun hatinya tak bisa membendung keluar masuknya pikiran yang berpangkal tentang duniawi, ini semua percuma dan tak berguna. 

Padahal niatnya adalah untuk mengheningkan cipta dan menjernihkan hati agar lebih dekat kepada Allah dan agar lebih tajam mata hati. Tapi itu semua tak mungkin selama ada tali pengikat dihatinya terhadap duniawi. Maka jalan pikiran tak akan bisa terbendung, permainan pikiran yang mengganggu itu silih berganti, datang dan pergi. Dan justru hati semakin bertambah ramai oleh pikiran duniawi.

Oleh karena itu, uzlah yang seharusnya dilakukan adalah untuk menghindarkan hati dari keramaian pikiran duniawi, tak harus uzlah dengan cara mengasingkan diri ke tempat yang sepi. Namun bagaimana caranya agar hati terbebas dari debu-debu dosa, terbebas dari kebingungan dan kekhawatiran terhadap takdir Allah, kemudian lepas dari hasrat, ambisi dan kecondongan kepada duniawi.

Maka dari itu kita perlu mengheningkan hati dan mencoba untuk mengekang hawa nafsu. Yakni hati yang diheningkan, kemudian diisi dengan perenungan dan peningkatan kesadaran kepada Allah. Dan ketika melakukan perenungan, maka yang paling penting dilakukan adalah harus benar-benar bermuhasabah diri (introspeksi diri). Sudah jauhkah diri ini meninggalkan Allah karena permainan hidup didunia yang membutuhkan energi dan pikiran? Lalu pengalaman lahir itulah yang harus diendapkan untuk menjadi jernih sehingga batin kita akan bercahaya kembali.

Jadi kesimpulannya, uzlah yang dimaksud oleh imam Ibnu Atho'illah Sakandari rahimahullah adalah memalingkan pikiran serta hati dari hiruk pikuk dunia, bukan mengasingkan diri dengan cara menyepi lalu meninggalkan kewajiban terhadap sesama manusia.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ู€ุตู€ูˆุงุจ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : ูˆุงู„ุฌู…ุงุน ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ุชูุณุฏ ุจู‡ ุงู„ุนู…ุฑุฉ ุงู„ู…ูุฑุฏุฉ ุฃู…ุง ุงู„ุชูŠ ููŠ ุถู…ู† ุญุฌ ููŠ ู‚ุฑุงู†، ูู‡ูŠ ุชุงุจุนุฉ ู„ู‡ ุตุญุฉ ูˆูุณ...