Rabu, 05 Juli 2023

FATHUL QARIB - KESUNNAHAN TAYAMUM & TAYAMUMNYA ORANG YANG MEMAKAI PERBAN


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(وسننه) أي التيمم (ثلاثة أشياء) وفي بعض نسخ المتن ثلاث خصال (التسمية وتقديم اليمنى) من اليدين (على اليسرى) منهما وتقديم أعلى الوجه على أسفله (والموالاة) وسبق معناها في الوضوء وبقي للتيمم سنن أخرى مذكورة في المطولات منها نزع المتيمم خاتمه في الضربة الأولى، أما الثانية فيجب نزع الخاتم فيها

KESUNNAHAN TAYAMUM.

Kesunnahan tayamum ada tiga perkara. Didalam sebagian redaksi matan itu menggunakan kalimat tiga khishol (atau tiga pekerjaan). Salah satunya adalah membaca basmalah, lalu mendahulukan bagian kanan dari kedua tangan sebelum ke bagian kiri dari keduanya, dan mendahulukan wajah bagian atas sebelum ke wajah bagian bawah.

Kemudian muwalat (bersegera), dan maknanya telah dijelaskan didalam bab wudhu. (Sebenarnya) masih ada beberapa kesunnahan-kesunnahan tayammum yang disebutkan dalam kitab-kitab yang luas keterangannya. Diantaranya adalah orang yang tayamum itu disunnahkan untuk melepas cincinnya saat memukul (atau mengusap) debu pertama, sedangkan untuk pukulan (atau usapan) yang kedua maka wajib untuk melepas cincinnya.

 (والذي يبطل التيمم ثلاثة أشياء) أحدها كل (ما أبطل الوضوء) (وسبق بيانه في أسباب) الحدث فمتى كان متيمماً ثم أحدث بطل تيممه (و) الثاني (رؤية الماء) وفي بعض نسخ المتن وجود الماء (في غير وقت الصلاة) فمن تيمم لفقد الماء ثم رأى الماء أو توهمه قبل دخوله في الصلاة بطل تيممه، فإن رآه بعد دخوله فيها، وكانت الصلاة مما لا يسقط فرضها بالتيمم كصلاة مقيم، بطلت في الحال، أو مما يسقط فرضها بالتيمم كصلاة مسافر، فلا تبطل فرضا كانت الصلاة أو نفلا، وإن كان تيمم الشخص لمرض، ونحوه ثم رأى الماء، فلا أثر لرؤيته بل تيممه باق بحاله. (و) الثالث (الردة) وهي قطع الإسلام

PEMBATAL TAYAMUM.

Hal-hal yang membatalkan tayamum juga ada tiga perkara. Salah satunya adalah setiap perkara yang membatalkan wudhu, dan telah dijelaskan didalam bab sebab-sebab hadas. Sehingga ketika seseorang dalam keadaan bertayamum lalu dia berhadas, maka tayamumnya itu batal.

Kemudian yang kedua adalah melihat air pada selain waktu sholat, didalam sebagian redaksi matan disebutkan memakai kalimat wujudnya air. Sehingga barang siapa yang melakukan tayamum karena tidak ada air, kemudian dia melihat atau menyangka ada air sebelum melakukan sholat, maka tayamumnya batal. Dan termasuk sholat yang sudah gugur kewajibannya dengan tayammum adalah seperti sholatnya seorang musafir, maka sholatnya tidak batal entah itu sholat fardhu ataupun sholat sunnah.

Dan jika seseorang melakukan tayamum karena sakit atau sejenisnya kemudian dia melihat air, maka melihat air tidaklah berpengaruh apa-apa dan tayamumnya tetap sah. Lalu pembatal tayamum yang ketiga adalah murtad, murtad ini maknanya adalah keluar dari islam.

وإذا امتنع شرعا استعمال الماء في عضو، فإن لم يكن عليه ساتر وجب عليه التيمم وغسل الصحيح، ولا ترتيب بينهما للجنب، أما المحدث فإنما يتيمم وقت دخول غسل العضو العليل، فإن كان على العضو ساتر فحكمه مذكور في قول المصنف. (وصاحب الجبائر) جمع جبيرة بفتح الجيم وهي أخشاب أو قصب تسوى وتشد على موضع الكسر ليلتحم (يمسح عليها) بالماء إن لم يمكنه نزعها لخوف ضرر مما سبق (ويتيمم) صاحب الجبائر في وجهه ويديه كما سبق (ويصلي ولا إعادة عليه إن كان وضعها) أي الجبائر (على طهر) وكانت في غير أعضاء التيمم وإلا أعادوا هذا ما قاله النووي في الروضة. لكنه قال في المجموع: إن إطلاق الجمهور يقتضي عدم الفرق، أي بين أعضاء التيمم وغيرها، ويشترط في الجبيرة أن لا تأخذ من الصحيح إلا ما لا بد منه للاستمساك واللصوق والعصابة، والمرهم ونحوها على الجرح كالجبيرة (ويتيمم لكل فريضة) أو منذورة فلا يجمع بين صلاتي فرض بتيمم واحد، ولا بين طوافين ولا بين صلاة وطواف، ولا بين جمعة وخطبتها، وللمرأة إذا تيممت لتميكن الحليل أن تفعله مراراً وتجمع بينه وبين الصلاة بذلك التيمم وقوله (ويصلي بتيمم واحد ما شاء من النوافل) ساقط من بعض النسخ

TAYAMUMNYA ORANG YANG MEMAKAI PERBAN.

Jika secara syara' (atau kondisi biasa) seseorang tercegah untuk menggunakan air pada anggota badan, jika pada anggota tersebut tidak terdapat penutup maka wajib baginya untuk melakukan tayammum dan membasuh anggota yang sehat. Namun tidak ada kewajiban tertib antara keduanya (yakni tayamum dan membasuh yang sehat) bagi orang yang junub.

Adapun orang yang berhadas kecil, maka dia boleh melakukan tayamum ketika sudah waktunya membasuh anggota yang sakit. Dan jika terdapat satir (atau penghalang) pada anggota yang sakit, maka hukumnya dijelaskan didalam perkataan mushonnif (pengarang kitab) dibawah ini.

Jaba'ir (yakni perban) adalah bentuk kalimat jamaknya lafadz jabiroh, yaitu kayu atau bambu yang dipasang dan diikatkan pada anggota yang luka (atau retak) agar supaya bersatu kembali. Maka wajib bagi seseorang yang bertayamum untuk mengusap perbannya dengan air jika tidak memungkinkan untuk melepasnya karena khawatir terjadi bahaya.

Dan dia tetap diharuskan untuk melakukan sholat namun tidak wajib mengqodhonya (ketika sudah sembuh) jika dia memasang perbannya dalam keadaan suci dan diletakkan pada selain anggota tayammum. Sedangkan jika tidak demikian, maka dia wajib mengqodho sholatnya (ketika sudah sembuh). Dan ini adalah pendapat yang disampaikan oleh imam Nawawi didalam kitab Ar-Raudhah.

Akan tetapi didalam kitab Al-Majmu' beliau mengatakan bahwa sesungguhnya kemutlakan yang disampaikan mayoritas ulama itu menetapkan bahwa tidak adanya perbedaan, maksudnya antara posisi perban yang berada pada anggota tayamum dan selainnya.

Dan disyaratkan perbannya itu harus tidak menutupi anggota yang sehat, kecuali anggota sehat yang memang harus tertutup untuk memperkuat perban tersebut. Diantaranya adalah lushuq (yaitu sesuatu yang ditempelkan pada luka entah itu berupa kain, kapas dan sebagainya). Lalu ishobah (yaitu sesuatu yang diikatkan pada luka entah itu tali atau sejenisnya). Kemudian murham (yaitu obat yang ditaburkan pada luka). Kesemuanya itu hukumnya sama seperti jabiroh (perban).

HAL YANG BOLEH DILAKUKAN DENGAN TAYAMUM.

Sesorang harus melakukan tayamum setiap hendak melakukan satu ibadah fardhu dan ibadah nadzar (semisal towaf). Oleh karena itu dia tidak diperbolehkan untuk melakukan dua sholat fardhu, dua thowaf, sholat dan thowaf, kemudian sholat jum'at dan khutbahnya hanya dengan satu kali tayammum.

Dan disaat seorang perempuan melakukan tayamum untuk melayani suaminya, maka diperbolehkan baginya untuk melakukan pelayanan berulang kali dan melakukan sholat dengan tayamum tersebut. Adapun perkataan mushonnif (pengarang kitab) “dengan satu tayamum, seseorang diperbolehkan untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah yang dia mau”, itu tidak tercantum didalam sebagian redaksi matan.

📕 Fathul Qarib, hlm. 52-55 Maktabah Syamilah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...