Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :
(فصل): في بيان النجاسات وإزالتها. وهذا الفصل مذكور في بعض النسخ قبيل كتاب الصلاة، والنجاسة لغة الشيء المستقذر. وشرعاً كل عين حرم تناولها على الإطلاق حالة الاختيار مع سهولة التمييز لا لحرمتها ولا لاستقذارها، ولا لضررها في بدن أو عقل، ودخل في الإطلاق قليل النجاسة وكثيرها، وخرج بالاختيار الضرورة، فإنها تبيح تناول النجاسة، وبسهولة التمييز أكل الدود الميت في جبن أو فاكهة، ونحو ذلك وخرج بقوله لا لحرمتها ميتة الآدمي، وبعدم الاستقذار المني ونحوه، وبنفي الضرر الحجز والنبات المضر ببدن أو عقل. ثم ذكر المصنف ضابطاً للنجس الخارج من القبل والدبر بقوله (وكل مائع خرج من السبيلين نجس) هو صادق بالخارج المعتاد كالبول والغائط، وبالنادر كالدم والقيح. (إلا المني) من آدمي أو حيوان غير كلب وخنزير، وما تولد منهما أو من أحدهما مع حيوان طاهر، وخرج بمائع الدود، وكل متصلب لا تحيله المعدة، فليس بنجس بل يطهر بالغسل، وفي بعض النسخ، وكل ما يخرج بلفظ المضارع وإسقاط مائع
Pasal yang menjelaskan tentang najis dan cara menghilangkannya. Didalam sebagian redaksi matan pasal ini disebutkan sebelum kitab (atau bab) sholat.
Najis secara bahasa adalah sesuatu yang menjijikkan. Sedangkan secara syariat adalah setiap benda yang haram digunakan secara mutlak dalam keadaan normal serta mudah untuk dibedakan (atau dipisahkan). Hal itu bukan karena kemuliannya, bukan karena menjijikkannya dan bukan karena berbahaya pada badan atau akal.
Kalimat “mutlak” itu mencakup najis yang sedikit dan najis yang banyak. Lalu kalimat “dalam keadaan normal” maka dikecualikan jika dalam keadaan darurat, karena sesungguhnya keadaan darurat memperbolehkan untuk menggunakan najis. Kemudian kalimat “mudah dipisahkan” maka dikecualikan (saat) memakan ulat yang mati didalam keju, buah dan yang lainnya. Dan pernyataan mushonnif (pengarang kitab) “bukan karena kemuliannya”, maka dikecualikan mayatnya manusia. Adapun kalimat “tidak karena menjijikkan” maka dikecualikan sperma dan sejenisnya. Sedangkan kalimat “tidak karena membahayakan” maka dikecualikan batu dan tanaman yang berbahaya pada badan atau akal. Maksudnya setiap benda yang dikecualikan tersebut adalah barang-barang yang haram digunakan, bukan karena najis melainkan karena hal-hal yang telah disebutkan (diatas).
Kemudian mushonnif (pengarang kitab) menyebutkan batasan najis yang keluar dari qubul dan dubur dengan pernyataan beliau : Setiap benda cair yang keluar dari dua jalan maka ia adalah najis. Hal ini mencakup benda yang biasa keluar seperti air kencing dan kotoran, serta benda yang jarang keluar seperti darah dan nanah. Namun dikecualikan sperma dari manusia atau binatang selain anjing, babi dan peranakan dari keduanya, atau salah satunya hasil perkawinan dengan binatang yang suci.
Kemudian pernyataan mushonnif (pengarang kitab) dengan kalimat “benda cair”, dikecualikan untuk ulat dan setiap benda padat yang tidak diproses oleh lambung, maka ia tidaklah najis. Akan tetapi terkena najis yang bisa suci dengan dibasuh. Dan didalam sebagian redaksi matan diungkapkan dengan kalimat “setiap perkara yang akan keluar” itu dengan menggunakan lafadz fi'il mudhore dan membuang lafadz “ma'i” (yakni benda cair).
(وغسل جميع الأبوال والأرواث) ولو كانا من مأكول اللحم (واجب) وكيفية غسل النجاسة إن كانت مشاهدة بالعين، وهي المسماة بالعينية تكون بزوال عينها، ومحاولة زوال أوصافها من طعم أو لون أو ريح، فإن بقي طعم النجاسة ضر أو لون أو ريح، عسر زواله لم يضر، وإن كانت النجاسة غير مشاهدة، وهي المسماة بالحكمية فيكفي جري الماء على المتنجس بها، ولو مرة واحدة ثم استثنى المصنف من الأبوال قوله (إلا بول الصبي الذي لم يأكل الطعام) أي لم يتناول مأكولا ولا مشروبا على جهة التغذي (فإنه) أي بول الصبي (يطهر برش الماء عليه) ولا يشترط في الرش سيلان الماء، فإن أكل الصبي الطعام على جهة التغذي غسل بوله قطعا، وخرج بالصبي الصبية والخنثى فيغسل من بولهما، ويشترط في غسل المتنجس ورود الماء عليه إن كان قليلا، فإن عكس لم يطهر أما الكثير فلا فرق بين كون المتنجس واردا أو مورودا (ولا يعفى عن شيء من النجاسات إلا اليسير من الدم والقيح) فيعفى عنهما في ثوب أو بدن، وتصح الصلاة معهما (و) إلا (ما) أي شيء (لا نفس له سائلة) كذباب ونمل (إذا وقع في الإناء ومات فيه فإنه لا ينجسه) وفي بعض النسخ إذا مات في الإناء وأفهم قوله وقع، أي بنفسه أنه لو طرح ما لا نفس له سائلة في المائع ضر، وهو ما جزم به الرافعي في الشرح الصغير، ولم يتعرض لهذه المسألة في الكبير، وإذا كثرت ميتة ما لا نفس له سائلة، وغيرت ما وقعت فيه نجسته، وإذا نشأت هذه الميتة من المائع كدود خل وفاكهة، لم تنجسه قطعا ويستثنى مع ما ذكر هنا مسائل مذكورة في المبسوطات سبق بعضها في كتاب الطهارة
Membasuh setiap jenis air kencing dan kotoran meskipun keduanya dari binatang yang halal dimakan dagingnya, maka hukumnya adalah wajib. Dan cara membasuh najis jika terlihat oleh mata, yang mana hal itu disebut dengan najis 'ainiyah adalah dengan menghilangkan benda (najisnya) dan menghilangkan sifat-sifatnya entah itu rasa, warna, atau baunya. Jika rasanya najis masih ada, maka hal itu berbahaya (atau menajiskan). Atau yang masih tersisa adalah warna dan baunya yang sulit dihilangkan, maka hal itu tidak masalah. Kemudian jika najisnya tidak terlihat oleh mata, yang mana hal itu disebut dengan najis hukmiyah, (cara menghilangkannya adalah) cukup dengan mengalirkan air pada tempat yang terkena najis tersebut meskipun hanya satu kali aliran.
Kemudian ada kalimat “jenisnya air kencing”, mushonnif (pengarang kitab) itu mengecualikan perkataan beliau yang berbunyi : Kecuali air kencingnya anak kecil laki-laki yang belum pernah memakan makanan, maksudnya belum pernah mengkonsumsi makanan dan minuman untuk penguat badan. Maka dari itu air kencing anak laki-laki tersebut sudah bisa suci dengan hanya memercikkan air pada (area yang terkena cipratan air kencing tersebut).
Dan saat memercikkan air, itu tidak disyaratkan harus sampai mengalir. Oleh karenanya jika anak kecil laki-laki tersebut sudah mengkonsumsi makanan untuk penguat badan, maka air kencingnya harus dibasuh secara pasti. Dan dengan kalimat “anak laki-laki”, maka dikecualikan anak kecil perempuan dan khuntsa (anak kecil yang punya dua kelamin), maka air kencing keduanya harus dibasuh. Adapun saat membasuh benda yang terkena najis, itu disyaratkan airnya yang dialirkan pada benda tersebut jika airnya sedikit. (Mangkanya) jika dibalik, maka benda tersebut tidak akan menjadi suci. Sedangkan jika air yang banyak, maka tidak ada bedanya antara benda yang terkena najis yang datang atau yang didatangi air.
Kemudian, tidak ada najis yang dima'fu (dimaafkan) kecuali darah dan nanah yang sedikit. Maka dari itu keduanya dima'fu (jika terdapat pada) pakaian dan badan, serta sholat yang dilakukannya tetap sah meskipun membawa keduanya. Dan dikecualikan bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir seperti lalat dan semut ketika binatang tersebut masuk ke dalam wadah air dan mati didalamnya. Maka dari itu bangkai binatang tersebut tidak menajiskan wadah air yang dimasukinya.
Didalam sebagian redaksi matan itu menggunakan kalimat “ketika mati didalam wadah”. Dan pernyataan mushonnif (pengarang kitab) yang mengatakan “terjatuh sendiri”, hal itu memberi pemahaman bahwa seandainya bangkai binatang yang tidak memiliki darah mengalir itu dimasukkan ke dalam benda cair, maka hal itu berbahaya (atau bisa menajiskan). Didalam hal ini imam Ar-Rafi'i sangat mantap dengan pendapat tersebut yang tercantum pada kitab Syarah Ash-Shoghir, namun beliau tidak menyinggung masalah ini didalam kitab Syarah Al-Kabir.
Kemudian, disaat bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir itu berjumlah banyak dan merubah sifat cairan yang dimasukinya, maka bangkai itu menajiskan benda cair tersebut. Dan disaat bangkai ini muncul dari benda cair seperti ulatnya cukak dan buah-buahan, maka tidak menajiskan cairan tersebut secara pasti. Disamping apa yang telah dijelaskan oleh mushonnif (pengarang kitab), (sebenarnya) masih ada beberapa permasalahan yang dikecualikan. Yang mana hal itu disebutkan didalam kitab-kitab yang luas keterangannya, dan sebagiannya telah dijelaskan didalam kitab (atau bab) thoharoh.
📕 Fathul Qarib, hlm. 55-58 Maktabah Syamilah
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar