Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :
(وهيئاتها) أي الصلاة وأراد بهيئاتها ما ليس ركنا فيها، ولا بعضا يجبر بسجود السهو (خمسة عشر خصلة: رفع اليدين عند تكبيرة الإحرام) إلى حذو منكبيه (و) رفع اليدين (عند الركوع و) عند (الرفع منه ووضع اليمين على الشمال) ويكونان تحت صدره وفوق سرته
Sunnah haiat, yakni pada saat melakukan sholat. Yang dimaksud dengan haiat adalah bukan rukun dan bukan pula sunnah ab'ad yang (jika tidak dilakukan) maka (dianjurkan untuk) diganti dengan sujud sahwi. Sunnah haiat ini jumlahnya ada lima belas perkara :
1. Yang pertama adalah mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram hingga sejajar dengan kedua pundaknya.
2. Yang kedua adalah mengangkat kedua tangan saat hendak ruku dan bangun dari ruku.
3. Yang ke tiga adalah meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri (saat sedekap), kemudian keduanya berada dibawah dada dan diatas pusar.
(والتوجه) أي قول المصلي عقب التحرم: وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض الخ. والمراد أن يقول المصلي بعد التحرم دعاء الافتتاح هذه الآية أو غيرها مما ورد في الاستفتاح (والاستعاذة) بعد التوجه وتحصل بكل لفظ يشتمل على التعوذ، والأفضل أعوذ بالله من الشيطان الرجيم (والجهر في موضعه) وهوالصبح وأولتا المغرب والعشاء والجمعة والعيدان (والإسرار في موضعه) وهي ما عدا الذي ذكر
4. Yang ke empat adalah tawajjuh, maksudnya adalah ucapan orang yang sholat setelah takbiratul ihram lalu membaca : Wajjahtu wajhialilladzi fathoros samaawaati wal ardh dan seterusnya. Dan yang dimaksud (dengan tawajjuh) setelah takbiratul ihram adalah orang yang sholat membaca doa iftitah entah bacaan diatas atau yang lainnya dari bentuk-bentuk doa (yang berasal dari rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam).
5. Yang ke lima adalah membaca ta'awwudz setelah tawajjuh. Kesunnahan membaca ta'awwudz ini sudah bisa terpenuhi dengan setiap lafadz yang mengandung ta'awudz. Adapun yang paling utamanya bacaan ta'awwudz adalah : A'uudzu billaahi minasysyaithoonir rojiim.
6. Yang ke enam adalah mengeraskan suara sesuai pada tempatnya seperti pada saat melakukan sholat shubuh, lalu dua rakaat pertama sholat maghrib dan isya, kemudian sholat jum'at dan sholat dua hari raya.
7. Yang ke tujuh adalah memelankan suara sesuai pada tempatnya, yaitu pada selain tempat-tempat yang telah disebutkan diatas.
(والتأمين) أي قول آمين عقب الفاتحة لقارئها في صلاة وغيرها، لكن في الصلاة آكد ويؤمن المأموم مع تأمين إمامه، ويجهر به (وقراءة السورة بعد الفاتحة) لإمام ومنفرد في ركعتي الصبح وأولتي غيرها، وتكون قراءة السورة بعد الفاتحة، فلو قدم السورة عليها لم تحسب (والتكبيرات عند الخفض) للركوع
8. Yang ke delapan adalah mengucapkan aamiin setelah selesai membaca surah Al-Fatihah bagi orang yang membacanya didalam sholat dan selainya, adapun didalam sholat itu lebih dianjurkan lagi. Kemudian, seorang makmum disunnahkan juga untuk membaca aamiin bersamaan dengan bacaan aamiin imamnya dengan mengeraskan suara.
9. Yang ke sembilan adalah membaca surah setelah membaca surat Al-Fatihah bagi imam atau orang yang sholat sendiri didalam dua rakaatnya sholat shubuh dan dua rakaat pertamanya sholat lain (semisal maghrib dan isya). Membaca surah itu dilakukan setelah membaca surat Al-Fatihah, oleh karena itu seandainya seseorang mendahulukan membaca surah sebelum membaca Al-Fatihah, maka bacaan surahnya tidaklah dianggap.
10. Yang ke sepuluh adalah bacaan takbir saat turun ke posisi ruku.
(والرفع) أي رفع الصلب من الركوع (وقول سمع الله لمن حمده) حين يرفع رأسه من الركوع. ولو قال من حمد الله سمع له كفى، ومعنى سمع الله لمن حمده تقبل الله منه حمده وجازاه عليه وقول المصلي (ربنا لك الحمد) إذا انتصب قائما (والتسبيح في الركوع) وأدنى الكمال في التسبيح سبحان ربي العظيم ثلاثا (و) التسبيح في (السجود) وأدنى الكمال فيه سبحان ربي الأعلى ثلاثا والأكمل في تسبيح الركوع والسجود مشهور (ووضع اليدين على الفخذين في الجلوس) للتشهد الأول والأخير (يبسط) اليد (اليسرى) بحيث تسامت رؤوسها الركبة (ويقبض) اليد (اليمنى) أي أصابعها (إلا المسبحة) من اليمنى فلا يقبضها (فإنه يشير بها) رافعا لها حال كونه (متشهدا) وذلك عند قوله إلا الله ولا يحركها فإن حركها كره ولا تبطل صلاته في الأصح
11. Yang ke sebelas adalah mengangkat punggung dari posisi ruku. Kemudian membaca sami'allahu liman hamidah saat mengangkat kepala dari ruku. Dan seandainya orang yang sholat mengucapkan man hamadallaha sami'a lahu, maka hal itu sudah mencukupi. Dan makna ucapan tersebut adalah semoga Allah menerima pujian darinya dan memberi balasan atas pujiannya. Kemudian mengucapkan robbana lakal hamdu setelah berdiri tegak (dari ruku).
12. Yang ke dua belas adalah membaca tasbih saat ruku, dan paling minimalnya saat membaca tasbih ini adalah dengan membaca subhanarobbiyal adhziim sebanyak tiga kali.
13. Yang ke tiga belas adalah membaca tasbih saat sujud, paling minimalnya saat membaca tasbih ini adalah dengan membaca subsubhanarobbiyal a'laa sebanyak tiga kali. Dan untuk yang paling sempurna bacaan tasbih saat ruku dan sujud itu sudah masyhur.
Setelah itu kemudian meletakkan kedua tangan diatas kedua paha saat duduk tasyahud awal dan tasyahud akhir dengan membuka tangan kiri sekiranya ujung jemari sejajar dengan lutut. Lalu menggenggam tangan kanan, maksudnya adalah jemarinya, kecuali jari telunjuk tangan kanan. Tidak menggenggamnya karena dia akan menggunakannya untuk isyarat, lalu mengangkatnya pada saat mengucapkan tasyahud, yaitu ketika mengucapkan kalimat illallah. Dan jangan menggerak-gerakan jari telunjuknya, sebab jika dia menggerak-gerakannya maka hukumnya makruh. Namun tidak sampai membatalkan sholat menurut pendapat yang shohih.
(والافتراش في جميع الجلسات) الواقعة في الصلاة كجلوس الاستراحة، والجلوس بين السجدتين، وجلوس التشهد الأول، والافتراش أن يجلس الشخص على كعب اليسرى جاعلاً ظهرها للأرض، وينصب قدمه اليمنى ويضع بالأرض أطراف أصابعها لجهة القبلة (والتورك في الجلسة الأخيرة) من جلسات الصلاة، وهي جلوس التشهد الأخير والتورك مثل الافتراش، إلا أن المصلي يخرج يساره على هيئتها في الافتراش من جهة يمينه، ويلصق وركه بالأرض، أما المسبوق والساهي فيفترشان ولا يتوركان (والتسليمة الثانية) أما الأولى فسبق أنها من أركان الصلاة
14. Yang ke empat belas adalah melakukan duduk iftirosy pada semua posisi duduk yang dilakukan didalam sholat seperti duduk diantara dua sujud dan duduk tasyahud awal. Iftirosy ini maksudnya adalah seseorang yang menduduki mata kaki kirinya, kemudian memposisikan punggung kaki kirinya pada lantai, lalu menegakkan telapak kaki kanannya, dan memposisikan jemari kaki kanannya menempel pada lantai dengan menghadap ke kiblat.
Kemudian duduk tawarruk saat duduk terakhir dari duduk-duduk didalam sholat, yaitu duduk tasyahud akhir. Tawarruk ini sama dengan posisi duduk iftirosy, hanya saja disamping menetapi posisi iftirasy, maka orang yang sholat itu mengeluarkan kaki kirinya melalui arah bawah kaki kanannya dan menempelkan pantatnya ke lantai. Adapun makmum masbuk dan orang yang lupa, maka disunnahkan untuk melakukan duduk iftirasy, bukan duduk tawarruk.
15. Yang ke lima belas adalah melakukan salam yang kedua. Adapun salam yang pertama, maka sudah dijelaskan bahwa sesungguhnya hal itu termasuk dari rukun-rukunnya sholat.
📕 Fathul Qarib, hlm. 80-83 Maktabah Syamilah
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar