Rabu, 30 Agustus 2023

FATHUL QARIB - HUTANG PUASA ORANG YANG TELAH MENINGGAL


Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :

(ومن مات وعليه صيام) فائت (من رمضان) بعذر كمن أفطر فيه لمرض، ولم يتمكن من قضائه كأن استمر مرضه حتى مات فلا إثم عليه في هذا الفائت، ولا تدارك بالفدية، وإن فات بغير عذر ومات قبل التمكن من قضائه (أطعم عنه) أي أخرج الولي عن الميت من تركته (لكل يوم) فات (مد) طعام وهو رطل وثلث بالبغدادي وهو بالكيل نصف قدح مصري، وما ذكره المصنف هوالقول الجديد والقديم، لا يتعين الإطعام، بل يجوز للولي أيضا أن يصوم عنه، بل يسن له ذلك كما في شرح المهذب وصوب في الروضة الجزم بالقديم (والشيخ) والعجوز والمريض الذي لا يرجى برؤه (إن عجز) كل منهم (عن الصوم يفطر ويطعم عن كل يوم مدا) ولا يجوز تعجيل المد قبل رمضان، ويجوز بعد فجر كل يوم

Barang siapa yang meninggal dunia dan masih memiliki hutang puasa ramadhan yang ditinggalkan karena udzur seperti orang yang tidak berpuasa disebabkan sakit dan belum sempat mengqodhonya semisal sakitnya terus berlanjut sampai dia meninggal dunia, maka tidak ada dosa baginya pada puasa yang dia tinggalkan dan tidak perlu membayar fidyah.

Adapun jika hutang puasa tersebut bukan karena udzur kemudian dia meninggal dunia sebelum sempat mengqodhonya, maka wajib baginya untuk membayar fidyah sebagai ganti dari hutang puasanya. Maksudnya bagi seorang wali wajib mengeluarkan untuk si mayit dari harta peninggalannya. Dari setiap hari yang telah ditinggalkan, itu diganti dengan satu mud bahan makanan (untuk diberikan kepada fakir miskin).

Satu mud itu ukurannya adalah satu liter lebih sepertiga liter daerah baghdad, sedangkan jika menggunakan takaran adalah separuh wadah takaran daerah mesir. Apa yang telah disebutkan oleh mushonnif (pengarang kitab) adalah merupakan qoul jadid (pendapat terbaru).

Sedangkan menurut qoul qodim (pendapat lama) itu tidak harus memberi bahan makanan, tapi bagi seorang wali diperbolehkan untuk melakukan puasa sebagai pengganti dari orang yang meninggal. Bahkan hal itu disunnahkan bagi seorang wali sebagaimana keterangan yang disebutkan didalam kitah Majmu' Syarah Muhadzdzab. Kemudian didalam kitab Ar-Raudhah imam Nawawi membenarkan qoul qodim (pendapat lama) tersebut.

Bagi seorang laki-laki tua, perempuan tua, dan orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh lalu masing-masing dari ketiganya tidak mampu untuk berpuasa, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa kemudian membayar fidyah sebanyak satu mud (per satu puasa) sebagai gantinya. Dan tidak diperbolehkan mendahulukan pembayaran fidyah sebelum masuk bulan ramadhan, namun baru diperbolehkan untuk dibayarkan setelah terbit fajar setiap harinya.

📕 (Fathul Qarib, hlm. 140-141 Maktabah Syamilah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FATHUL QARIB - HAL-HAL YANG MERUSAK IHRAM

Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan : والجماع المذكور تفسد به العمرة المفردة أما التي في ضمن حج في قران، فهي تابعة له صحة وفس...