Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi rahimahullah mengatakan :
كتاب أحكام الحج، وهو لغة القصد وشرعا قصد البيت الحرام للنسك (وشرائط وجوب الحج سبعة أشياء) وفي بعض النسخ سبع خصال (الإسلام والبلوغ والعقل والحرية) فلا يجب الحج على المتصف بضد ذلك (ووجود الزاد) وأوعيته إن احتاج إليها وقد لا يحتاج إليها كشخص قريب من مكة، ويشترط أيضا وجود الماء في المواضع المعتاد حمل الماء منها بثمن المثل (و) وجود (الراحلة) التي تصح له بشراء أو استئجار هذا إذا كان الشخص بينه وبين مكة مرحلتان فأكثر سواء قدر على المشي أم لا، فإن كان بينه وبين مكة دون مرحلتين، وهو قوي على المشي لزمه الحج بلا راحلة، ويشترط كون ما ذكر فاضلا عن دينه وعن مؤنة من عليه مؤنتهم مدة ذهابه وإيابه، وفاضلا أيضا عن مسكنه اللائق به، وعن عبد يليق به (وتخلية الطريق) والمراد بالتخلية هنا أمن الطريق ظناً بحسب ما يليق بكل مكان، فلو لم يأمن الشخص على نفسه أو ماله أو بضعه، لم يجب عليه الحج وقوله (وإمكان المسير) ثابت في بعض النسخ، والمراد بهذا الإمكان أن يبقى من الزمان بعد وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير المعهود إلى الحج، فإن أمكن إلا أنه يحتاج لقطع مرحلتين في بعض الأيام لم يلزمه الحج للضرر
Kitab yang menjelaskan tentang hukum-hukum haji. Secara bahasa, haji artinya adalah mendatangi. Adapun secara syariat adalah mendatangi tanah suci untuk melaksanakan ibadah.
Syarat-syarat wajibnya haji itu ada tujuh perkara. Didalam sebagian redaksi matan kitab menggunakan kalimat tujuh khishol. Syarat-syarat tersebut diantaranya adalah islam, baligh, berakal, dan merdeka. Oleh karena itu haji tidak wajib bagi orang yang memiliki sifat kebalikan dari sifat-sifat tersebut.
Kemudian memiliki bekal (untuk berangkat haji) dan juga memiliki wadah (atau kantong) bekal jika memerlukannya. Namun terkadang dia tidak memerlukannya seperti halnya orang yang dekat dengan kota mekkah. Lalu disyaratkan juga harus ada air ditempat-tempat yang sudah terbiasa membawa air yang dijual dengan harga yang umum (standar).
Kemudian adanya kendaraan yang layak entah itu dengan cara membeli atau menyewa. Dan hal ini jika jarak seseorang dengan kota mekkah mencapai dua marhalah (jarak bolehnya seseorang menjamak atau mengqoshor sholat) atau lebih, entah dia mampu berjalan ataupun tidak. Namun jika jarak diantara dia dan kota mekkah kurang dari dua marhalah dan dia mampu untuk berjalan, maka wajib melaksanakan ibadah haji tanpa harus naik kendaraan.
Semua perkara yang telah disebutkan tadi itu disyaratkan harus melebihi dari hutangnya dan biaya orang yang wajib dia nafkahi selama berangkat haji. Dan juga harus lebih dari rumah dan budak (miliknya) yang layak baginya.
(Kemudian syarat selanjutnya) adalah sepinya jalan. Dan yang dimaksud dengan sepi disini adalah punya dugaan akan aman diperjalanan sesuai dengan apa yang terdapat pada setiap tempat. Dan jika seseorang tidak merasa aman pada diri, harta dan kehormatannya, maka tidak wajib baginya untuk melaksanakan ibadah haji.
Terkait pernyataan mushonnif (pengarang kitab) : Dan memungkinkan untuk menempuh perjalanan, itu terdapat pada sebagian redaksi matan kitab. Dan yang dimaksud dengan mungkin disini adalah setelah menemukan bekal dan kendaraan, masih ada waktu yang mungkin untuk digunakan berangkat haji dengan cara yang semestinya. Maka dari itu jika mungkin untuk ditempuh, hanya saja dia butuh menempuh dua marhalah dalam jangka waktu sebagian dari hari-hari yang sudah terbiasa, maka (tidak wajib) baginya melaksanakan ibadah haji karena hal tersebut menyulitkan dirinya.
📕 (Fathul Qarib, hlm. 144-145 Maktabah Syamilah)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar